Di sebuah kota asing yang hanya kita yang tahu, aku selalu melihatmu dari kejauhan melambaikan tangan dan berlari ke arahku. Tapi sekuat tenaga kau berlari, tak kunjung jua langkahmu mendekat padaku.
Kakiku terpasung. Aku ingin mendekat, tapi tak bisa. Yang bisa aku lakukan hanya berdiri saja atau berbalik badan. Namun jika aku memejamkan mata, potongan-potongan gambar gerak berputar di kepala menampilkan sosokmu yang begitu dekat di sisiku dan kita sedang berada di tempat-tempat yang kita buat: ladang hijau, atap sebuah gedung, gedung pertunjukan, pasar malam, dan tempat-tempat lain yang hanya kita yang tahu.
Kita telah sampai juga di tempat ini setelah percakapan-percakapan panjang tentang bagaimana kota ini dibuat hanya dari gagasan tentang ironi dari sebuah hal yang manis. Sekarang memang masih menjadi kota mati tak berpenghuni karena hanya kita yang tahu. Tapi mungkin beberapa tahun lagi, isinya tak hanya kita.
Di antara gairah-gairah hidup yang tiba-tiba menghilang belakangan, dengan aku berada di tempat ini bersamamu, rasanya seperti ada percik api di dalam dada yang sedang mencoba menyalakan lilin. Apalagi ketika aku mencoba menghadirkan seorang-dua orang hadir di kota asing ini, aku merasakan sosokmu berada di sisiku. Api itu menyala lagi. Sepertinya hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kehadiran sosokmu di sisiku.
Telah aku umumkan kepada kawan-kawanku tentang keberadaan kota ini. Tapi tak satu pun dari mereka mengacuhkan bualan kosongku. Tak apa. Tak jadi masalah besar. Yang paling penting adalah ketika aku berada di kota asing ini dan pelan-pelan aku isi dengan peradaban, aku bisa dapat kembali merasakan sosokmu di sisiku membicarakan bagaimana peradaban akan tumbuh di sebuah kota asing yang telah kita namai ini.
No comments:
Post a Comment