Jika kesepian adalah anai-anai, maka kayu dan kertas-kertas adalah jiwa dan kenangan yang lembab karena air mata. Diam-diam anai-anai itu berkoloni dan menggerogoti kayu-kayu dan kertas-kertas.
Kratak kratak kratak.
Jika musim hujan tiba, laron-laron berterbangan. Tandanya ada hidup lain yang tak sengaja dihidupi dan harus dibayar oleh kebinasaan. Kayu-kayu jiwa dan kenangan-kenangan yang pernah lembab karena air mata pelan pelan binasa.
Ketika satu kayu jiwa itu diketuk, rasanya kosong seperti telah habis dimakan anai-anai. Lalu tak lama kemudian, ia rapuh dan binasa, tak kuat menopang tubuh yang lain. Kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata berubah menjadi serpihan kecil tak terbaca.
Lalu kita mulai berandai-andai. Kratak kratak kratak.
Andai saja kita lebih bisa mendengar. Andai saja kita bisa lebih mengamat. Andai saja kita tahu bagaimana cara kesepian bekerja. Andai saja ada sekolah untuk bisa membasmi buta tanda.
Andai saja kita menjelma menjadi anai-anai. Barangkali kita tak pernah kesepian meski harus menjadi pekerja siang dan malam menggerogoti kayu-kayu jiwa dan kertas-kertas kenangan untuk Sang Ratu. Sebab kita lah yang bertugas untuk menggerogoti kayu jiwa dan kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata manusia.
Andai saja kita menjelma menjadi anai-anai. Hidup hanya setahun dua tahun lalu mati. Untuk Sang Ratu Kapitalis yang Berumur Panjang Hingga Puluhan Tahun. Tak perlu berpikir berhenti atau mengundur diri. Sebab jiwa dan kenangan kita tidak mati dari dalam dirong-rong kesepian.
Kratak kratak kratak.
Tapi anai-anai tak bisa berserikat. Anai-anai tak bisa memakan Sang Ratu atau menggulingkan otoritas Ratu.
Barangkali jika aku diberikan pilihan akan menjadi anai-anai atau tidak berandai-andai menjadi anai-anai, aku tetap tidak memilih keduanya. Sebab keduanya tidak jatuh cinta.
Barangkali aku akan menggerogoti tubuh kayuku sendiri dan kertas-kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata. Sambil terus hidup seperti Sang Ratu.
No comments:
Post a Comment