Monday, July 11, 2022

Kelana-Kelana Tanpa Tuju

Dulu, dulu sekali, aku memang petarung dan penantang sejati yang bodoh. Aku pernah menempuh 12 jam perjalanan darat-laut sendiri hanya untuk bertemu dengan seseorang. Tapi malah mendapat sebuah kepastian yang baru aku sadari hari ini.

Singkat cerita, setelah aku membereskan urusanku dan ia dengan urusannya, kami memutuskan bertemu dan berkeliling kota. Dibakar panas kota Denpasar, tak kunjung jua kami sampai di satu tempat.

"Ini kita mau ke mana, sih, Mas?" tanyaku dari jok belakang. Bingung dengan jalanan asing yang sepertinya sudah dilewati dua hingga tiga kali.

"Gatau, nyasar aja dulu," jawabnya ringan.

Kala itu aku hanya mengiyakan. Apalagi ditambah dengan celotehnya tentang betapa indahnya berkeliling kota tanpa tujuan.

Entah aku yang naif, atau memang kami berdua masih sama-sama remaja 20an, kami menikmati berjalan tanpa tujuan dan aku tak menangkap sebuah kepastian yang tersirat dari pertanyaan tersebut.

Tahun-tahun berlalu, dua-tiga manusia tukar temu. Aku terobsesi dengan perjalanan-perjalanan tanpa tujuan. Dalam satu-dua cerita, aku menggubah namaku menjadi nama kota yang tak menjanjikan pulang. Aku bakar waktu dengan keentahan.

Hari ini, delapan tahun kemudian, keberanian itu masih ada. Aku datangi kota-kota orang. Aku bertarung dengan rasa asing. Aku tantang perjalanan. Aku tebas waktu. Aku bunuh Kelana-Kelana tanpa tuju.

Friday, April 29, 2022

Kapan Aku Nikah?


Awal bulan Februari lalu, seorang tetangga akan melangsungkan lamaran. Sebelum hari itu tiba, salah satu sepupuku datang ke rumah. Asumsi di dalam kepalaku menggempur dengan prasangka bahwa ia akan memberikan kabar lamarannya. Lebih jauh lagi dari hari itu, aku selalu dideru desakan tentang pernikahan oleh orang tua, keluarga besar, dan orang-orang sekitar.

Sebagai perempuan yang tidak pernah membawa laki-laki ke rumah, 29 tahun menjomblo, selalu menghindari pembahasan tentang pernikahan, dan juga merasakan deruan kesepian di dalam dada, sepertinya aku harus melakukan sesuatu.

Aku memang belum pernah menjadi orang tua. Tapi yang terlintas di dalam kepalaku adalah orang tua pasti mendapat tekanan dari berbagai penjuru. Karena subyek dalam kalimat-kalimat tekanan tersebut adalah namaku, maka tentu saja tekanan tersebut selalu diteruskan kepadaku. Belum lagi aku banyak mendengar cerita-cerita tentang orang tua yang jatuh sakit karena terus memikirkan anaknya belum bisa memenuhi tekanan tersebut. Aneh rasanya jika melihat orang tuaku yang tidak pernah menggubris soal kepunyaan harta-benda orang lain tapi malah kepikiran tentang tekanan pernikahan. Sekali lagi lagi: aku harus melakukan sesuatu.

Aku harus mengomunikasikan semua yang ada di kepalaku tentang pernikahan kepada orang tua.

Tanpa berpikir panjang, sehari sebelum tetangga melangsungkan lamaran, tepat ketika saudara sepupu datang ke rumah, aku melipir ke sebuah cafe untuk merencanakan sesuatu.

Ada terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada orang tua tentang isu ini. Juga hal yang terlalu abstrak yang ada di dalam kepala yang harus aku luruskan. Belum lagi ketika aku bicara secara langsung, kemungkinan ngglambyar akan lebih besar. Sebagai sarjana Matematika dan memiliki profesi sebagai penulis, aku perlu menyelesaikan masalah ini secara sistematis dan terstruktur seperti kerangka cerita. Maka dari itu, yang ada di kepalaku adalah menyampaikannya dengan media presentasi, meniru kerangka TA/skripsi.

Di dalam presentasi ini aku memakai berbagai pendekatan; salah satunya agama. Aku juga sertakan logika-logika berpikir dan teori-teori yang akan mendukung argumenku. Beberapa hal mungkin akan terasa sangat personal bagiku, tapi tentu saja hal ini masih bisa diubah.

Sebelum aku mempresentasikan ini ke orang tuaku, aku menceritakannya ke teman-teman terdekat. Tak sedikit dari mereka yang membutuhkan cara ini. Aku juga yakin, desakan segera menikah ini tidak hanya terjadi kepadaku, tapi juga terjadi ke teman-temanku yang ‘sepantaran’ atau sedang berada di fase yang sama. Jadi, daripada harus aku pendam sendiri cara ini, ada baiknya aku sebar luaskan. Tidak semua bahan di dalam presentasi ini bisa digunakan. Setidaknya, semoga ini bisa membantumu untuk menjadi panduan merunutkan kerumitan berpikir.

Aku mengunggahnya ke Karya Karsa, sebuah Platform Apresiasi Kreator tempat fans dapat langsung mendukung kreator favorit mereka dengan kesinambungan finansial. Aku harap, dengan dipublikasikannya karya ini ke Karya Karsa, aku bisa mendapat dukungan dari teman-teman semua. Nanti, jika tak ada aral melintang, barangkali aku akan menulis buku yang aku kembangkan dari presentasi ini. Kamu bisa mengunduhnya seharga kopi. Tautan ada pada gambar dibawah ini:


Enjoy & good luck!

Monday, March 28, 2022

Menjadi Seperti yang Kau Minta


Bentuk kalimat di atas adalah salah satu contoh jajanan yang selalu aku kunyah selama bertahun-tahun. Jajan lainnya memiliki bentuk yang berbeda tapi rasanya sama: nylekit. Aku masih ingat betul kek mana bentuk kalimat-kalimat lainnya. Kurang lebih seperti ini:

“Mbok ya manut gitu lho jadi cewek.”

“Jangan terlalu mandiri, sekali-kali minta tolong ke gebetan.”

“Makanya, ta, Jun, jangan terlalu pintar. Cowok jadi minder, kan.”

“Coba deh dipikir, masa iya cowok kayak dia suka ama cara berpakaianmu yang kek gitu.”

Aku tak perlu menyebutkan konteks pembicaraan di atas. Kalau saja aku punya keberanian yang cukup, aku akan menjawab,

“Who hurt you?”

Sayangnya, aku hanya bisa diam, menahan amarah, lalu menangis di belakang mereka.

Aku sering mendengar komentar-komentar dari teman tentang mengubah diri sendiri untuk menarik lawan jenis(ya, aku berbicara perkara heteronormatif karena kupikir permasalah non-binary, ekspresi gender, dan hal-hal non-heteronormatif lainnya masih terlalu jauh untuk aku bicarakan—dan mereka tangkap). Aku pernah mengubahnya. Aku pernah mengubah diriku untuk menarik lawan jenis. Tahu apa yang terjadi? Pasangan tetap saja tidak kudapatkan dan aku kelelahan karena kehilangan diri sendiri.

Aku senang mengevaluasi diri. Aku senang mendengar masukan-masukan tentang diri. Aku akan mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik, yang tidak menyakiti manusia lainnya. Tapi tentu saja tidak untuk meminta lawan jenis agar tertarik denganku.

Aku akan menjadi manusia yang manut kalau aku tidak tahu apa-apa dan argumen lawan bicaraku adalah benar. Aku akan merendahkan hati untuk meminta tolong jika aku menghadapi sesuatu di luar kemampuanku. Aku akan menjadi bodoh ketika aku sedang belajar agar aku bisa menyerap banyak ilmu. Aku akan mengubah cara berpakaianku jika pakaianku tidak sesuai dengan kondisi dan acara.

Aku bingung, kenapa perempuan harus mengubah hal-hal yang dimilikinya untuk memenuhi ego dan ekspektasi lawan jenis agar perempuan bisa ‘dipilih’ oleh lawan jenis?

Selama ini kita selalu dicekoki tentang perempuan di dalam media yang sering dinarasikan lemah lembut, cantik luar dalam, bertutur halus, penurut, berambut panjang, berkulit putih, dan lain-lain. Kini, standar kecantikan bergeser. Media sosial dan brand-brand kecantikan berlomba-lomba untuk menciptakan narasi baru soal kecantikan. Bahwa cantik tak harus berkulit putih, berambut hitam legam panjang, atau memiliki warna kulit rata nan halus tak berpori. 

Kalau kita setuju bahwa perempuan memiliki definisi cantiknya masing-masing, harusnya kita juga bisa belajar setuju bahwa perempuan bisa menarik dengan caranya masing-masing.

Aku bahagia dengan diri sendiri. Aku bahagia dan senang karena aku adalah perempuan yang ngeyelan, keras kepala, mandiri, dan ambisius. Sifat ini akan terus aku pertahankan. Karena inilah caraku untuk bisa jujur dengan diri sendiri. Menurutku, sifat-sifat yang aku miliki ini membuat laki-laki yang suka berkuasa atas perempuan dah auto terseleksi oleh alam. Aku bersyukur karena aku tak perlu menghabiskan tenaga untuk melakukan screening ke laki-laki seperti itu.

Satu lagi: aku yakin, laki-laki yang menjadi ‘target pasar’-ku adalah laki-laki yang suka ama perempuan yang bisa diajak mikir dan bekerja sama agar nantinya kami bisa berjalan bersama.

Sori dori mori nih ye aku gak sesuai ekspektasi. Yaelah, apa sih yang diekspektasikan dari seseorang yang namanya Juni tapi lahirnya Maret?

Tuesday, January 25, 2022

Untuk Todi/Kelana

Ada baiknya membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu Vierra - Seandainya.

*

Kami dipertemukan karena undian lotre yang dikocok Tuhan. Kencan pertama kami adalah jalan kaki 3,5 kilometer, pembacaan puisi Pada Suatu Hari Nanti karya Sapardi dengan lirih di toko buku, dan menunggu hujan dengan bermain siapa paling banyak menonton film TOP 50 IMdB. Setelah itu, kencan-kencan terjadi di Perpustakaan C2O dan warung Mbah Cokro. Yang paling penting adalah obrolan kami yang tak pernah ada habisnya. Apa saja kami bicarakan.

Dari kepalanya aku mengenal Sartre, Carl Jung, dan Freud. Tokoh wayang kesukaannya adalah Bhisma. Film favoritnya adalah 12 Angry Men yang belum pernah berhasil aku tonton. Baginya, Raden Mandasia adalah novel yang haram untuk dilewatkan. Aku masih ingat caranya membaca di warung kopi tempat kami biasa bertemu. Musik favoritnya adalah musik metal, punk, rock, dan musik-musik keras lainnya yang sayangnya tak pernah bisa aku pelajari. Aku masih ingat bagaimana ia berduka ketika mendengar Chester Bennington meninggal.

Aku masih ingat bagaimana ia selalu membayangkan obsesinya tentang anarko dan menjadi anak punk. Celana jeans favoritnya adalah yang berwarna hitam, berbentuk pensil ketat, agak belel, dan paling tidak pernah dicuci. Aku yakin, baju-baju di lemarinya hanya hitam, hitam, hitam, abu-abu, dan navy. Pernah suatu kali aku datang dengan kaos berwarna oranye. Ia langsung menunduk dan menghindari bertukar pandang. Sepatu favoritnya yang selalu ia kenakan adalah Converse High Chuck Taylor berwarna hitam. Aku bahkan masih mengingat parfum apa yang ia pakai.

Di kepalaku terrekam jelas bagaimana ia tertawa begitu lepas; seperti telah terkurung lama. Aku mengingat betul ia suka menggunakan kata 'kemudian' ketika bercerita. Ia kehilangan logat jawanya ketika mengobrol denganku, namun logat matramanannya masih lekat di lidah ketika berbahasa Jawa. Ia memanggilku 'Mbak', aku memanggilnya 'Pak'.

Kopi adalah oleh-oleh yang selalu ia tawarkan ketika melakukan dinas ke luar kota yang dalam sebulan bisa sampai dua hingga tiga kali. Ia selalu mengirim laporan "I'm on board" melalui chat WhatsApp jam berapa pun, meski aku masih tertidur. Ia memperkenalkanku pada sapaan selamat pagi dan malam. Ia yang memperkenalkan aku dengan pertanyaan sepele tentang sudah makan atau belum. Ia suka mengirim meme dari twitter, info twitwor, artikel, dan apa pun yang menarik di internet.

Aku tak pernah lupa bagaimana ia menjadi relawan untuk menggantikan peran Galang Adyatarna. Meski ia tak bisa menggambar, bermain musik, dan fitur-fitur di tubuhnya tak mirip seperi Galang, ia berhasil menjadi sumber inspirasiku. Aku suka mendokumentasikan kejadian-kejadian yang kami lalui ke dalam tulisan. Aku menulis dua cerpen yang terinspirasi darinya. Padahal sebelumnya aku tak pernah membuatkan cerpen yang aku dedikasikan untuk seseorang; ia dapat dua. Sampai saat ini, belum ada yang bisa membuatku menulis sebanyak itu lagi untuk seseorang.

Aku sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-25½. Karena aku belum mengenalnya ketika ia berumur 25 dan belum tentu kami masih bisa bersama ketika ia berumur 26. Sebuah pop up dengan angka 25½, cheesecake, dan sebuah buku mampu membuat mukanya berubah merah padam. Barangkali ia pernah dan akan merayakan ulang tahun di hari kelahirannya bersama perempuan lain. Tapi hanya ketika ia bersamaku, ia merayakan ulang tahunnya yang ke 25½.

Sebulan setelah perayaan ulang tahunnya yang ke 25½, ia memilih pergi. Pamit, tapi meninggalkan janji dan luka. Ia mengaku masih memiliki kekasih yang menjalani hubungan jarak jauh. Ia pernah berjanji ingin diantar ke bandara—jobdesc favoritku di dalam pertemanan. Sebulan setelah itu, peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya ia kabarkan lewat mimpi; termasuk perempuan baru yang mengisi hidupnya. Perkiraanku benar: kami tidak bisa merayakan ulang tahun bersama di bulan Maret, ketika usianya bulat 26 dan aku 25.

Aku dihantui oleh kabar hidup dari seseorang yang tak ingin aku pedulikan lagi. Aku marah, aku dendam. Sedang ia bahagia dengan hidupnya. Kepada perempuan barunya, aku diceritakannya. Tentu saja dengan narasi berbeda: Juni, seorang teman perempuan yang ia temui di perpustakaan. Selama 1,5 tahun, dendam itu kubiarkan membara. Namun, setelah ia mengabarkan pernikahannya dengan perempuan yang ia temui ketika masih berkencan denganku, perasaan itu tiba-tiba hilang. Berganti menjadi tanya tentang narasi yang ia ciptakan tentangku kepada perempuannya. Sayang, sampai hari ini, aku tak bisa menuntut penjelasan lebih banyak tentang perilakunya ketika kami masih sering berkencan, alasannya pergi, dan narasinya tentangku.

Maka, untuk hidupku yang lebih baik, agaknya aku harus meluruskannya sendiri dengan merevisi beberapa bagian:

Kami bertemu di perpustakaan secara tidak sengaja. Tidak dari lotre. Percakapan pertama kami adalah tentang buku yang aku baca di dekat rak. Bukan karena pertanyaan tentang konsep ke-Tuhan-an.Kami bercakap banyak. Sangat banyak, sampai-sampai aku memilih untuk menyamakannya saja dengan kejadian sebenarnya. Kami tak pernah membicarakan tentang masa depan karena itu adalah satu-satunya topik yang paling mustahil.

Bagi orang yang suka membaca buku, bertemu dan berkenalan dengan seseorang di perpustakaan adalah khayalan picisan yang paling tinggi; apalagi sampai merencanakan pertemuan di luar perpustakaan dan toko buku. Hal itu terjadi kepada kami. Aku yakin, inilah alasan mengapa ia bersikeras menarasikan aku sebagai perempuan yang ia temui di perpustakaan.

Kejadian-kejadian setelahnya anggap saja sama persis. Aku hanya ingin mengubah bagaimana kami bertemu dan berpisah.Ia tidak pergi. Kami memutuskan untuk sama-sama menyudahi. Masa depan tak akan pernah bisa kami hampiri. Dengan begini, tak ada kesumat, tak ada angkara.

Todi—Kelana, kalau tulisan ini telah sampai ke hadapanmu, kamu tak perlu lagi menjelaskan apa-apa. Hutangmu lunas. Kamu hanya perlu menunggu ceritaku tentang seorang laki-laki yang membuat Galang Adyatarna purnatugas. Aku juga menunggu hari itu datang.

Monday, December 20, 2021

Meradang Menerjang

Kemarin Sabtu, dalam perjalananku menuju ke psikolog, aku belajar sesuatu dari sebuah kejadian. Kupikir, kejadian ini perlu ceritakan dan rekam. Sebab, barangkali bisa untuk menjadi pengingat buatku. 

Di dalam perjalanan kemarin, aku berangkat dengan dengan menaiki motor. Di tengah perjalanan, aku sempat berhenti di salah satu pertigaan karena lampu lalu lintas menyala merah. Namun aku mendengar klakson berbunyi dan beberapa kendaraan di belakangku menyalip untuk terus maju. Aku bertanya, apakah aku melakukan kesalahan? Lalu aku mengecek posisiku.

Pertigaan ini datang dari tiga arah: dari arahku, dari arah berlawanan, dan dari arah sebelah kananku. Dari arahku, ada penanda yang melarang kendaraan untuk belok kanan dan putar balik. Kendaraan-kendaraan yang searang denganku hanya bisa lurus. Maka, lampu merah yang menyala untuk kendaraan-kendaraan yang searah denganku tentu saja fungsinya hanya untuk menghentikan kami. Argumen ini mutlak.

Aku benar dan orang-orang yang tidak berhenti adalah salah. 

Ketika aku memilih untuk berhenti di tengah-tengah kendaraan yang terus melaju, aku masih saja dihantui pertanyaan, "Apakah aku salah?" Aku juga terus mempertanyakan posisiku dengan mengecek argumen-argumen di sekelilingku.

Peristiwa ini membuatku berpikir; ternyata, meski aku melakukan hal yang benar, di tengah orang-orang yang melakukan kesalahan, aku akan tetap merasa bersalah dan terus mempertanyakan sikapku.

Aku tentu saja tidak punya daya dan upaya untuk melarang mereka terus melaju. Namun, bukan berarti bertahan menjadi hal yang mudah. Aku harus bermusuhan dengan diri sendiri untuk tetap teguh dan yakin.

Barangkali ini menjadi pengingat buatku: untuk memiliki keteguhan hati dan ketangguhan kaki untuk terus bertahan di jalan yang aku yakini benar. Ini adalah perlawananku. Seperti pada puisi Chairil yang belakangan aku kumandangkan untukku sendiri:

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari...
Hingga hilang pedih peri
Dan aku lebih tidak peduli
Aku ingin hidup seribu tahun lagi

Menjadi jujur di tengah-tengah pendusta, menjadi berani dan lantang di tengah-tengah penindasan, atau menjadi bineka di tengah-tengah kebineran adalah sebentuk perlawanan.


Friday, December 17, 2021

Mencuri Dengar

Seorang penjual cilor berkata kepada salah satu pembelinya sambil mengecek bara api dan membereskan dapur kecilnya, "Lek sepi tergantung ambe dodolane. Lek dodolane dewe yo sante ae. Nek melu wong liyo sing rodok medeni. Soale, lek gak laris iso diganti."

Diam sejenak.

Ia kembali bertanya, "Pedes, Mbak?" Si pembeli mengiyakan.

Sambil menunggu gorengannya matang, sambil mengelap tangannya ke serbet, si penjual melanjutkan kalimatnya, "Nek ndodoli dagangane wong liyo trus gak payu, bose nyoba ganti karyawane. Wah arek iki gak ngerejekeni. Pas diganti, eh lha kok rame. Wah arek iki ngerejekeni. Nek dodolan dodolane dewe kan sepi rame..."

Seorang pedagang lain datang memanggil ke arah gerobak cilor, "Mbak Tako, onok sing tuku."

Pembeli menoleh.

Pedagang cilor berkata kepada pembelinya tadi, "Didoli sek, engko tak terno."

Pembeli tadi meninggalkan gerobak pedagang cilor, menyeberang, dan menghampiri gerobak takoyakinya.

*

Bagiku, mencuri dengar percakapan orang asing tentang hidup mereka sangatlah menyenangkan. Aku bisa mendengar suara yang jujur. Aku bisa mencoba sepatu mereka. Aku selalu merasa kaya. Bukan karena materi, melainkan karena aku telah mendapatkan pengalaman hidup dari orang asing hanya dengan mencuri dengar tanpa membuat orang asing tersebut kehilangan.

Sebelum pandemi, aku sering melakukan ini. Aku yakin, makan adalah salah satu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah hidup. Maka itu, aku sering menyasar tempat-tempat makan atau penjual jajan yang memiliki antrian yang panjang. Aku sering makan sendirian di warung penyetan agar bisa fokus mendengarkan orang-orang di sekitarku membicarakan hidupnya. Aku sering tiba-tiba belok beli jajan pinggir jalan untuk menangkap peristiwa-peristiwa kecil yang berharga.

Aku juga sering nonton wayang kulit, wayang orang, ketoprak, ludruk, dan kesenian tradisional lainnya. Memakai baju gelap dan celana belel. Aku juga pernah sekali dua kali ke pasar malam. Namun bagiku, pasar malam terlalu terang untukku bisa bersembunyi. Aku tak suka jika keberadaanku diketahui. 

Aku ingin lebih banyak memotret dan mencuri dengar suara-suara penting.

Namun ketika pandemi berlangsung, aku seperti kehilangan kemampuan ini. Aku seperti kehilangan kemampuan bersosialku. Aku seperti kehilangan kemampuanku untuk bertemu dengan manusia secara langsung. Padahal aku rindu menjadi pencuri dengar. Padahal suara-suara itu penting bagiku.

Dalam angan-anganku, aku bisa lebih berani ke tempat-tempat yang berisi suara-suara itu. Tentu saja untuk mengubah magak-karyaku menjadi mahakarya. Untuk menulis, aku tak hanya butuh membaca. Aku juga butuh mendengar.

Friday, October 8, 2021

Lima Pertemuan dengan Gunawan Maryanto

"Gunawan Maryanto meninggal, kata Diah."

Sebuah pesan singkat masuk di WhatsApp dari mbak Nabila malam (05/10) kemarin. Aku tentu tercengang. Bingung dan tidak percaya campur jadi satu. Aku hanya mampu membalas dengan emoji patah hati. Lalu tangan menelusur ke sosial media orang-orang terdekat Gunawan Maryanto untuk mencari kebenaran kabar. Belum ada tersiar kabar. Tapi betul, hatiku sungguh patah.

Aku menelusur kolom pencarian di Twitter: Gunawan Maryanto. Memang benar adanya, mas Cindhil telah berpulang. Aku menangis. Hatiku patah tak keruan. Aku kembali mengingat memoar-memoar bagaimana karyanya dan aku bertemu.

Pertemuan pertama kami adalah di dalam bioskop. Aku melihat ia memerankan Widji Thukul di film Istirahatlah Kata-Kata. Ia juga memperkenalkan aku dengan sosok Widji Thukul lewat keaktorannya yang ciamik. Aku ingat, aku sempat menangis di bioskop karena melihat keindahan film tersebut. Pada hari itu aku berjanji untuk melihat karya-karya Gunawan Maryanto dan sutradaranya, Anggi Noen.

source: catchplay

Pertemuan kedua kami ada di toko buku, di sebuah buku puisi. Aku membaca puisi-puisinya. Senyum tersungging. Aku suka dengan cara bertutur dan berpikirnya. Namun sayang, aku tak bisa menebus buku puisinya karena satu-dua lain hal (aku lupa).

Pertemuan ketiga kami adalah ketika aku menonton film Mencari Hilal di layanan streaming, Hooq, Mei 2018 lalu. Ia menjadi salah seorang warga sekitar.

Juli 2018, aku hampir saja bertemu dengannya di Folk Musik Festival. Tapi sayang gak jadi berangkat karena aku tidak memenuhi janjiku sendiri bulan itu: sidang. 


 
Menengok lebih ke belakang lagi, tahun 2015 silam, aku pernah sowan ke Teater Garasi untuk ngambil backdrop putih menemani seorang teman dari Teater Gadjah Mada. Backdrop itu nantinya akan digunakan pentas teman-teman Pappermoon Puppet Theatre. Pappermoon Puppet Theater adalah pertunjukan boneka yang aku temui di internet. Aku pernah membayangkan menonton pertunjukan Papermoon Puppet, kemudian main sebentar ke Teater Garasi. Ternyata, tak disangka, ternyata kedua tempat tersebut jaraknya tidak jauh.

Pertemuan keempat kami lagi-lagi terjadi di bioskop, tepatnya ketika pemutaran film Nyai. Aku begitu girang ketika Gunawan Maryanto mengisi peran di situ. Lagi-lagi, ia mampu mencuri perhatian. Ia memerankan seorang abdi. 

source: IMDb

Begitu tahu Anggi Noen menelurkan film lagi bersama Gunawan Maryanto, aku adalah salah satu orang yang paling ingin menikmatinya. Film itu berjudul The Science of Fiction, atau dalam bahasa Indonesianya adalah Hiruk-Pikuk sang Al-Kisah. Belum lagi isu yang diangkat sangat menarik dan berkaitan erat dengan naskah teaterku yang sudah tujuh tahun ini menjadi magak-karya.

Film tersebut sempat diputar di JAFF 2019. Aku sempat ke JAFF, tapi aku tidak sempat menyaksikan film tersebut. Aku sempat lega dan senang ketika ada pengumuman bahwa TSoF akan tayang tahun 2020 di bioskop-bioskop reguler. Namun sayang, beberapa pemutaran film banyak yang tertunda karena pandemi.

Begitu tahu TSoF ditayangkan di salah satu bioskop Malang, tanpa pikir panjang aku langsung merencanakan untuk ke sana dan nonton. Sekaligus menikmati short escape.

Pertemuan ke lima kami lagi-lagi di bioskop, ketika aku menonton The Science of Fiction. Ketika menontin film TSoF, aku merinding dan menangis. Aku juga sering misuh-misuh karena melihat keaktoran Gunawan Maryanto yang luar biasa. 

Tubuh adalah modal utama seorang aktor. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengendalikan tubuh. Aku sempat menangis melihatnya tablo sambil membawa beban yang tampak berat. Aku tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana ia bisa dengan penuh mengendalikan tubuhnya. 

Aku pikir aku akan diberi kesempatan untuk ke Yogya dan melihatnya pentas, atau bertemu saja dengannya secara langsung, mengobrol basa basi dengannya, lalu berfoto. Aku pikir aku bisa bertemu dengannya kembali di bioskop lewat film-film yang dimainkannya. Aku pikir aku bisa meguru tentang keteateran, mengobrol sampai pagi, mendengar sudut pandangnya terhadap dunia. Tapi ternyata tidak.

Lima pertemuan kami memang tak pernah secara langsung. Tapi aku seperti merasakan kedekatan dengannya karena ada bidang-bidang seni yang beririsan. Mengutip kata Intan Paramaditha: 

Ia salah satu dari sedikit seniman yang bekerja secara konsisten melintasi sekat-sekat disiplin: sastra, teater, film.

Sastra, teater, dan film. Tiga bidang seni yang juga aku minati.

Sampai sekarang, sampai tulisan ini ditulis, hatiku masih patah. Aku masih menitikkan air mata ketika Melihat orang-orang masih mengenang Gunawan Maryanto lewat tulisan, postingan, atau apapun itu. Aku, yang cuma menikmati dan mengagumi karya-karyanya saja, amat sangat merasakan kehilangan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang pernah mengenal, berkarya, dan bekerja bersama.

Selamat pulang, Mas Cindhil. Sampai jumpa nanti, di kehidupan yang abadi. Terima kasih atas karya-karyamu.