Wednesday, December 19, 2018

Sore di Solo

Suatu sore di Surakarta. Tepat pada hari ulang tahunku, setelah main-main motret di ISI Surakarta pada pagi harinya, sorenya aku jalan-jalan mencoba roll yang baru saja aku pasang di sekitar kos sepupu.


Lalu seseorang berbisik,

"Dideketin lah adiknya. Ajaklah bercakap. Tanyain kelas berapa, rumahnya, dan hal remeh lainnya." 
Setelah berhasil membuatku ngajak ngobrol mahasiswa Seni Tari paginya, kali ini aku menuruti lagi apa yang diucapkannya. 



Sepulangnya dari berkeliling lagi, dengan berjalan kaki aku bertemu salah seorang dari mereka. Barangkali aku lupa bagaimana wajahnya. Tapi aku ingat betul kalimat yang ia utarakan kepadaku,

"Mbak tadi yang moto sama mas Cengkrik ya?"
"Ha?" Bagaimana mungkin ia tahu nama...

"Mbak tadi yang moto di SDN Cengklik ya?" Tanyanya lagi.
Seperti kisah fiktif, memang. Tapi ini benar terjadi.

Tuesday, November 27, 2018

Selingkuhan

Hanya warna biru dongker dan merah marun yang dipilih. Dari atas kasur, aku hanya dibiarkan diam menyaksikannya mengepak baju.

Ia hendak pergi. Ia tak kuasa menahan rindu yang menggerogoti batinnya selama seminggu belakangan. Berkali-kali ia bergantian menyeka air mata dan mengepalkan tangannya. Ia nampak tergesa ingin segera bertemu dengan kekasihnya.

Oh, jelas aku tahu itu semua. Aku yang mengusap air matanya tiap malam. Aku yang dipeluknya tiap malam ketika ia tak sanggup menghentikan derau tangisnya. Aku yang selalu menemaninya tidur dengan tenang. Aku yang mendengarkan keluh kesah hariannya.

Sedangkan kekasihnya? Apa fungsi kekasihnya? Menanyakan kabar? Memberi selamat pagi dan malam? Ah, tak perlu bertanya kabar, aku sudah tahu bagaimana raut mukanya ketika memasuki kamar. Pesan-pesan yang dikirimkan ke kekasihnya itu palsu.

Lalu kini, ketika ia tak sanggup membendung rindunya, ia siapkan baju-baju dengan warna favorit kekasihnya. Ia ingin menyenangkan hati kekasihnya dengan baju-baju itu.

Setelah semua baju masuk ke dalam tas ranselnya, ia pergi. Tak pamit.

Aku cemburu. Tapi aku tak bisa beranjak dari atas ranjang dan menahannya untuk tidak pergi. Kini aku harus melewati tiga malam panjang tanpa kehadiran tubuhnya di ruang kos bersama bantal dan kasur.

Monday, September 10, 2018

Pria Hari Depan

Menatap hari depan tak pernah semenyenangkan ini. Sejak hari itu, tiap malam aku hanya ingin lekas tidur, agar hari depan lekas datang. Aku tak sabar mencarinya ke setiap sudut kota hanya untuk dapat bertemu dan menyampaikan banyak hal kepadanya.

*

Kami bertemu di sebuah kamar seminggu yang lalu. Sayangnya hanya dalam mimpi. Ia menawarkan bantuan dan aku dengan sukarela menerima bantuannya. Malam itu kami berbicara seadanya. Senyum dan tawanya berhasil membuatku ingin mengingat segala hal baik yang dimilikinya.

Malam itu ia memakai pakaian pesta tanpa jas. Postur tubuhnya tinggi dan tegap. Otot-otot kecil pada tangannya terlihat pejal. Potongan rambutnya cepak dan rapi. Garis-garis tulang yang ada pada wajah dan tubuhnya nampak menonjol. Pundaknya bidang. Tapi yang paling kuingat malam itu hanya satu : caranya tersenyum. Aku selalu ingin bertemu dengan pria yang memiliki senyum seperti itu.

Keesokan harinya ―tentu saja masih dalam mimpi― kami bertemu lagi. Ia mengenakan kaos warna biru, jaket abu-abu, celana panjang berwarna khaki, dan tas ransel denim. Aku menyapanya, “Kita pernah bertemu, kan?” Ia mengerutkan kening, menatapku seolah-olah tak mengerti apa maksud dari ucapanku. Aku ulangi pertanyaanku dengan tambahan banyak detil yang aku ingat dari kejadian semalam. Ia tetap mengertukan kening. Kali ini dengan menggeleng dan meninggalkanku pergi.

Tak lama setelah itu, aku menemukannya kembali di tengah keramaian secara tidak sengaja. Ia duduk makan es dawet sambil memperhatikanku. Aku tahu ia mengenalku. Aku tahu ia menyimpan banyak tanya dalam tatap matanya. Tapi aku tak bisa berjalan ke arahnya karena pagi terlanjur datang, dan tugasku adalah menyelamatkan ingatan tentang segala kejadian yang kami lakukan di dalam mimpi.

Kalau aku boleh meminta hal yang tak masuk akal, aku tak akan meminta untuk bertemu dengannya. Setidaknya ini adalah permintaanku sebelum aku benar-benar menemukannya di dunia nyata: aku ingin menghilangkan setengah ingatanku agar aku memiliki ruang yang lebih untuk menyimpan hal-hal yang ada pada dirinya.

Sampai hari ini, aku kini memiliki motivasi baru untuk segera tidur malam: aku tergesa untuk lekas bertemu dengan hari depan. Sebab jika aku bertemu dengan hari depan, aku akan kembali memiliki kesempatan untuk mencari dan bertemu dengannya. Aku tak pernah bermimpi tentang orang asing sejelas ini.

*rah

Saturday, June 9, 2018

Teori Rumah

Seseorang pernah berbicara tentang teori rumah. Ia berteori bahwa rumah tak pernah menjadi barang bekas bagi penghuninya yang baru. Juga sebaliknya, penghuninya akan mendapat julukan penghuni baru tiap baru saja menempati sebuah rumah. Kata 'bekas' atau 'lama' hanya menjadi sebutan bagi yang terdahulu.

"Itulah mengapa sebutan 'rumah' biasanya dikaitkan dengan 'kekasih' atau orang yang dicintai," katanya.

"Kalau rumahmu bagaimana?"

"Rumahku tak jauh dari stasiun, bandara, dan terminal. Itulah mengapa aku terobsesi dengan berkelana."

"Tak ada pelabuhan?"

"Tak ada. Aku tak hendak berlabuh."

Sejak saat itu aku mengurung keinginanku untuk menanyakan kepadanya tentang teori pulang.


*
rahamnita

Monday, June 4, 2018

Akan tiba waktumu untuk kubunuh, tapi kau tak bisa mati selamanya. Terus menerus kesepian menangisi siapa-siapa yang telah pergi. Dendamku sebenarnya tak banyak, tapi membunuhmu akan selalu menjadi kenikmatan yang lain.

*

Yang akan selalu mengutukmu dari jauh.

Sunday, June 3, 2018

Pulang Dulu

"Tidak pulang?" Tanyaku kepada seseorang setelah menghabiskan puluhan malam dengan banyak keraguan.

Ia diam menyedot rokok kreteknya dalam-dalam. "Sebenarnya aku tak mengerti betul definisi pulang. Sebab pulang ..."

"... tak harus ke rumah," ucap kami bersamaan. Kami bertukar senyum.

"Kau tak pulang?" tanyanya kembali kepadaku.

Aku terbahak. "Tahu apa aku tentang pulang?"

"Mumpung kita sedang di tengah hutan," suaranya mendekat ke telinga lalu berbisik, "mari kita tersesat."

Aku tak mengiyakan ajakannya. Pun tak bisa menolak. Dengan segera, kubereskan tenda dan perapian yang berserakan. 

Barangkali aku telah lupa percakapan apa yang kami bicarakan sebelum malam itu. Namun aku ingat betul apa yang ia bicarakan ketika kami berdua tersesat di belantara yang baru saja aku jelajahi. 

Sejak kecil cita-citanya hanya berpetualang. Rumah tempatnya tumbuh disulapnya menjadi sebuah bangunan yang berisi empat manusia yang nama-namanya ditulis di sebuah sertifikat. Menurutnya, jika ia terlalu terikat dengan rumah, cita-cita terbesarnya tak akan terlaksana.

Hal pertama yang dapat dilakukannya adalah memanipulasi lidah. Ia membuat lidahnya tidak cocok dengan masakan rumah. Karena masakan ibunya selalu manis, maka ia memaksa lidahnya untuk suka dengan masakan pedas.

Setelah umurnya 17 tahun, ia mencari pekerjaan tambahan untuk menambah uang sakunya yang nanti dipergunakan untuk makan di luar. Ia selalu mencari nikmatnya nasi warteg yang keras, sop dengan kaldu penyedap rasa yang terlalu banyak, bakwan yang kebanyakan tepung, telur dadar yang isinya tepung dan air, teh hangat yang hampir tengik, ayam goreng tiren, sampai nasi goreng yang terlalu keras untuk dikunyah.

Lalu pada suatu pagi aku terjaga dengan sepucuk surat. Begini isi suratnya:
"Aku telah punya rumah. Semalam ia memanggilku untuk pulang. Bukan dari perempuan yang biasa kuceritakan. Ini perempuan lain yang suka memasak pedas dan pakai penyedap rasa terlalu banyak. Aku pulang dulu."
Lidahnya yang semula ia manipulasi untuk dirinya sendiri kini terlatih untuk memanipulasi orang lain. Aku menertawainya. Ia yang mengajakku tersesat, ia sendiri yang pulang duluan. 

Untungnya sejak kecil aku telah terbiasa dengan teka-teki dan bapak suka mengajakku tersesat di gang-gang kecil yang baru beliau lewati. Aku memang tak punya rumah untuk pulang, tapi aku tak bisa tersesat.

**

83% fakta, 17% fiktif.

Wednesday, May 23, 2018

Tentang Ceruk

Konon, di dalam masing-masing kita ada dua ceruk yang harus terisi penuh. Ceruk pertama adalah ceruk yang diisi oleh diri sendiri, sedangkan ceruk kedua adalah ceruk yang diisi oleh orang lain. Masing-masing ceruk memiliki ukuran dan porsi yang sama. Jika ceruk diri sendiri sudah penuh, kelebihannya tak bisa mengisi ceruk lainnya. Jika keduanya terisi seimbang, nantinya akan diolah sebagai bahan bakar untuk hidup.

Sampai pada usia tertentu, porsi ceruk yang diisi orang lain mudah penuh. Hanya diisi oleh keluarga saja sudah cukup. Atau diisi oleh teman saja sudah cukup. Lalu tibalah nanti ceruk tersebut semakin besar. Sebanyak apapun teman atau keluarga mengisi, ceruk tersebut tidak bisa penuh.  Harus ada orang lain untuk mengisinya. Entah orang baru atau lama.

Kedua ceruk milikku dulu pernah terisi penuh. Ruang kosong yang seharusnya diisi oleh seseorang aku sumbat dengan batu dendam dan remukan hati.

Suatu ketika ruangan itu rompal. Aku kewalahan menanganinya. Lalu ketika ruang itu tiba-tiba kosong, tentu saja aku langsung mencari pertolongan. Kata kawanku aku harus menunggu. Omong kosong setan alas soal menunggu! Kalau mereka bisa sebutkan tenggat waktu sampai kapan aku harus menunggu, aku akan lakukan hal itu. Tai kucing!

Kali ini aku memutuskan untuk kembali menyumbat ruang kosong tersebut daripada harus bersedih menangani kekosongan. Tahunan aku baik-baik saja dengan sumbatan batu dendam dan remukan hati. Kali ini akan lebih banyak. Akan ada kebencian, amarah, dan hal lain yang belum kutemukan formulanya.