+
|
Aku
ingin pergi jauh dari kotaku. Barangkali akan jarang pulang.
|
-
|
Katamu,
Surabaya kota kenangan.
|
+
|
Tidak bagiku.
Apa yang harus dikenang? Kenangan tentangmu saja tak ada di dalamnya.
|
-
|
Aku tak
ingin melukai kotamu.
|
+
|
Bagaimana
jika, aku menemui kepulanganku tiap kali bertolak dari Surabaya? Lalu semua
kenangan tentangmu ada di semua kota selain Surabaya. Kau telah melukai semua
kota
|
-
|
Surabaya
tidak.
|
+
|
Tapi
aku tak suka kota ini. Surabaya bukanlah kepulanganku.
|
-
|
Pulang tak
selalu ke rumah.
|
+
|
Aku tak
sedang bicarakan tentang pulang. Kau tak mahir tentang itu.
|
-
|
Tapi kalau
rumah makan...
|
+
|
Mas!
|
-
|
Kita. Kita
tak mahir tentang hal yang berkaitan dengan pulang. Kau tak pernah merantau.
|
+
|
Enam
tahun merantau, kau tak pernah rindu rumah.
|
-
|
Sudah kau
dengarkan lagu-lagu Silampukau?
|
+
|
Sudah.
Mengapa?
|
-
|
Barangkali
jika kau merantau, lalu bertemu lagu mereka di telingamu, tiba-tiba kau rindu
Surabaya.
|
+
|
Kupikir
mereka tak cukup kuat untuk membuat aku menjadi manusia yang ingin pulang.
|
-
|
Ingatkah, kau
pernah merengek sejadi-jadinya untuk memaksaku pulang ke tanah kelahiranku?
|
+
|
Tiap malam,
tiap percakapan.
|
-
|
Masing-masing
kita sering membuat perintah secara tak langsung untuk pulang. Pulang ke rumah,
ke tanah kelahiran.
|
+
|
Bukankah
kita sepakat kalau pulang tak selalu ke rumah?
|
-
|
Nah! Aku
menemui kepulanganku pada perjalanan-perjalanan.
|
+
|
Aku
menemui kepulanganku ketika bertolak dari Surabaya.
|
-
|
Tak bisakah
kita pulang berdua?
|
+
|
Menemui
kepulangan pada perjalanan?
|
-
|
Iya.
|
+
|
Tapi
itu mustahil.
|
-
|
Aku tahu.
|
+,
rahamnita
|
|
Sunday, April 23, 2017
Perjalanan/Pulang
Saturday, April 22, 2017
Menitipkan Ingatan : rahamnalogi
| Selangnya mbulet, kayak donat. Stadion ITS, 2 Maret 2017 |
Sudah lima bulan lebih terhitung dari November 2016 saya bermain kamera analog. Bermain sambil belajar. Katanya, kalau mau belajar fotografi dari nol, mulailah dari memakai kamera analog. Itu salah satu alasan mengapa saya mulai bermain dengan kamera analog, namun itu bukan alasan utama. Alasan utamanya berupa saya tak mampu (menabung secara istiqomah untuk) membeli kamera.
Friday, February 17, 2017
Balaena mysticetus (italic)
04.00, 16 Februari 2017
Beberapa jam yang lalu saya tiba-tiba memutuskan untuk membuat proyek menulis harian kembali. Proyek yang hampir sama sebelumnya bernama FCT. Dibuat sekitar bulan Oktober-November 2012, dan berlangsung selama 26 hari. Tulisan tersebut ada di blog saya yang lama. Ini linknya. Berkali-kali saya memiliki niatan untuk membuat proyek yang sama. Tapi saya ingkar.
Jujur, tidak mudah mendisiplinkan diri untuk menulis setiap hari. Bukan karena kesibukan. Menyisihkan waktu untuk memikirkan satu cerita yang harus diunggah tiap harinya bukan perkara mudah. Ketika dalam pembuatan proyek FCT, pernah satu hari saya tak pernah mendapat ide. Hukumannya saya yang buat. Menjadi hutang di kemudian hari. Esoknya, saya harus menulis dua FCT. Jika tak ada ide juga, hutang bertambah di hari berikutnya. Tapi dengan begitu, otak rasanya harus bekerja ekstra untuk menyajikan apa yang telah dimulai.
Ketika itu teman saya belum banyak. Yang membaca ya hanya itu-itu saja. Saya tak butuh audience. Proyek tersebut murni karena ingin melatih otak dan tulisan. Hasilnya? Ada satu teman yang ingin ikut mendisiplinkan diri untuk membuat satu hari satu tulisan. Meski cuma niat seorang teman, itu membuat saya merasa tak sia-sia untuk memeras otak selama 26 hari.
Sekarang telah banyak beredar proyek-proyek menulis yang menerapkan sistem satu hari satu tulisan, satu minggu satu tulisan, satu minggu satu puisi, begitu seterusnya. Saya tak pernah ikut serta dalam proyek tersebut. Menurut saya, percuma jika tekanan datangnya dari orang lain. Akan lebih menantang jika tekanan berasal dari diri sendiri.
Maka, saya memutuskan untuk membuat proyek sendiri. Sebab hanya saya yang tahu kemampuan yang saya punya. Dengan tantangan yang berasal dari diri sendiri. Bukankah lawan yang berat adalah melawan diri sendiri?
Sekitar awal September, beberapa hari sebelum seseorang berulang tahun, saya berniatan untuk membuat proyek yang sejenis. Isinya adalah tulisan-tulisan saya tentang dia dengan jumlah hari yang sama dengan jumlah umurnya yang akan saya post di blog. Jadi, ketika sampai pada hari ulang tahunnya, dia telah menerima jumlah yang sama dengan umurnya. Namun proyek itu tidak terlaksana karena dia kurang spesial untuk menerima itu semua.
Karena sebentar lagi saya berulang tahun, mengapa tidak membuat proyek yang nyaris sama? Menulis sekian tulisan yang jumlahnya sama dengan umur saya.
Sering terjadi ketika seseorang berulang tahun, ia mendapatkan kejutan, kado, ucapan, dan hal lainnya yang membuatnya merasa spesial. Setelah saya merayakan ulang tahun ke-4, 20 tahun yang lalu, seingat saya hanya ada 3-4 kejutan yang saya terima setelah itu. Maka, kali ini saya yang membuat hadiah untuk teman-teman saya berupa tulisan. Seperti kutipan berikut:
“Hiduplah untuk memberi yang sebanyak-banyaknya, Bukan untuk menerima yang sebanyak-banyaknya.” - Pak Harfan (Laskar Pelangi karya Andrea Hirata)
Daripada mengharapkan suatu hal yang tak pasti, Bagaimana jika kita memberi saja? Maka, proyek ini saya berinama Balaena mysticetus.
Balaena mysticetus. Paus kepala busur. Paus bukan ikan. Ia mamalia air. Saya lupa kapan pertama kali terobsesi dengan binatang satu itu. Yang saya ingat adalah ada hubungannya dengan zodiak saya. Pisces. Ikan. Lalu saya memilih paus. Alasannya karena ia hidup di laut tapi bernapas tidak di laut. Ia bukan ikan, tapi hidup di laut. Saya juga bingung.
Paus kepala busur adalah mamalia air dengan usia hidup paling lama; yaitu 200 tahun. Seperti berdoa untuk diri sendiri agar memiliki umur yang panjang meski umur rata-rata manusia hanya sampai hampir sepertiganya saja; 70 tahun.
Kali ini saya sedikit curang. Mencuri start. Harusnya tulisan pertama akan di-post esok Rabu(22 Februari 2016). Tapi hari ini saya telah memiliki dua bahan tulisan. Tak apa, saya ampuni. Saya sedang berada dalam fase pemulihan setelah merasa kehilangan muse semenjak 2-3 tahun yang lalu. Anggap saja sebagai pemanasan di tengah-tengah deadline pengumpulan draft proposal Tugas Akhir yang jatuh pada hari ini. Sore ini.
Sama seperti proyek sebelumnya, saya tak butuh audience. Bagi saya itu bonus. Namun, selain teman saya yang bertambah banyak, kali ini saya memiliki teman yang agaknya suka dengan tulisan-tulisan saya. Barangkali proyek ini akan menjadi pengobat rindu bagi mereka yang rindu akan tulisan saya.
Sama seperti memotret, tujuan saya menulis adalah untuk membagi apa yang saya lihat, alami, dan pikirkan. Saya berharap, dengan terlaksananya proyek ini, teman-teman pembaca blog saya akan mengerti hal-hal yang menarik menurut sudut pandang saya dan bisa menjadi acuan dalam melihat suatu hal ke depan.
Jadi, tungguin tanggal 22 besok, ya!
Kali ini saya sedikit curang. Mencuri start. Harusnya tulisan pertama akan di-post esok Rabu(22 Februari 2016). Tapi hari ini saya telah memiliki dua bahan tulisan. Tak apa, saya ampuni. Saya sedang berada dalam fase pemulihan setelah merasa kehilangan muse semenjak 2-3 tahun yang lalu. Anggap saja sebagai pemanasan di tengah-tengah deadline pengumpulan draft proposal Tugas Akhir yang jatuh pada hari ini. Sore ini.
Sama seperti proyek sebelumnya, saya tak butuh audience. Bagi saya itu bonus. Namun, selain teman saya yang bertambah banyak, kali ini saya memiliki teman yang agaknya suka dengan tulisan-tulisan saya. Barangkali proyek ini akan menjadi pengobat rindu bagi mereka yang rindu akan tulisan saya.
Sama seperti memotret, tujuan saya menulis adalah untuk membagi apa yang saya lihat, alami, dan pikirkan. Saya berharap, dengan terlaksananya proyek ini, teman-teman pembaca blog saya akan mengerti hal-hal yang menarik menurut sudut pandang saya dan bisa menjadi acuan dalam melihat suatu hal ke depan.
Jadi, tungguin tanggal 22 besok, ya!
Thursday, December 22, 2016
Perempuan
Ibu, Emak, Bunda, Mbok, Mama, Mami, Mamak, Mommy, Mom. Ibu tetaplah ibu. Perempuan yang terlahir dari rahim seorang perempuan pendahulunya. Sumber kehidupan bagi siapa saja yang mau hidup di bawah naungannya. Celakalah engkau wahai anak-anak jika berani menghabisi hatinya, begitu petuah-petuah disampaikan.
Di telapak kakinya tersimpan surga. Bagian tubuh lainnya tersimpan kehidupan, kesuburan, keindahan, dan hal-hal yang tak akan kau kira ada di sana.
Barangkali ia hanya takjub kepada anak-anaknya. Yang dikasihinya, yang dicintainya. Tak pernah ia akan menyangka bahwa anak-anaknya yang dahulu tinggal di dalam perutnya akan menjadi orang yang ia selalu harapkan akan memiliki hidup lebih baik dari dirinya.
Barangkali juga ia telah miliki sebentuk perasaan yang ia simpan dan siapkan untuk anak-anaknya. Bahkan sebelum ia menemukan ayah untuk mereka. Ia lahirkan anak manusia untuk ia cintai, meski ia tahu cinta yang ia berikan tak akan kembali sama banyaknya.
Barangkali perempuan dilahirkan untuk merasakan banyak cinta yang bertepuk sebelah tangan. Agar nanti ketika menjadi ibu, ia sudah terbiasa. Mencintai semua anak-anaknya, tanpa perlu dibalas dengan cinta yang sama penuhnya.
rahamnita, 2016
ditulis karena selalu kagum dengan makhluk bernama perempuan.
dan di-post karena tanggalnya pas.
Friday, October 21, 2016
Tembok
Ada yang hampir pergi setelah lama menetap hampir tujuh tahun di suatu tempat. Selama tujuh tahun itu, kami banyak mencipta. Mimpi-mimpi, teori-teori, bahasa-bahasa kesepakatan, kebahagiaan, cerita, dan percakapan. Termasuk tembok beton yang tebal, tinggi, dan kokoh. Sebab yang mendasari tembok ini dibangun adalah agar apa yang ada di dalam tembok itu tidak diusik oleh manusia-manusia di luar, dan apa yang ada di dalamnya tak boleh pergi. Saya telah ceritakan tentang makhluk-makhluk ganas yang tak dapat ia bayangkan.
Suatu ketika, saya sadar bahwa yang selama ini saya kurung di tembok itu adalah diri saya sendiri dan sesosok kekosongan. Saya pernah memutuskan untuk menyudahinya. Namun saya terjebak di dalam tembok tinggi yang telah saya bangun sendiri. Selama itu pula saya tak pernah tahu apakah ada yang berusaha menghancurkan tembok yang saya bangun itu. Saya terlalu lama menetap di dalam dan tak ada jendela untuk melihat ke luar.
Pernah suatu hari saya memiliki keyakinan bahwa yang dapat menghancurkan tembok itu adalah manusia terpilih. Dengan hanya disentuhnya saja, tembok itu akan hancur dengan sendirinya. Bukan seorang pemuda sakti dengan segala peralatannya.
Beberapa hari yang lalu, tembok itu hancur. Saya tak tahu apakah ada yang menyentuhnya atau itu kehendak saya yang dari dalam. Dan sosok kosong yang selama tujuh tahun itu pergi. Tak pernah sedikitpun saya berusaha mencari. Masih ada sisa-sisanya yang menetap. Tapi jika sosoknya pergi, sisa-sisa tersebut tak ada yang menggerakan.
Namun setelah tembok itu hancur, saya masih enggan ke mana-mana untuk berpetualang. Saya enggan jatuh cinta. Telah banyak cerita-cerita terdengar di telinga saya tentang kawan yang masuk ke jurang karena jatuh cinta.
Ada yang harus merelakan semua isi kepalanya diisi oleh pria yang ia inginkan namun tak menginginkannya; ada yang harus merugikan temannya; ada yang harus memutus pertemanan karena ia telah buta dan amat menginginkan si pria; ada yang harus memutus pertemanan karena si pria tak suka dengan teman kekasihnya, atau sebaliknya; ada yang harus ingkar janji kepada temannya karena menuruti seseorang yang baru dikenalnya sepuluh hari.
Gila.
Saya tak mau kehilangan pertemanan karena saya.
Selain itu saya tak mau menangis sia-sia. Tak ada ruang dan waktu untuk itu. Saya tak mau patah hati nantinya.
Selain itu saya tak mau menangis sia-sia. Tak ada ruang dan waktu untuk itu. Saya tak mau patah hati nantinya.
Maka saya memutuskan untuk tinggal saja di ruang terbuka ini. Diam dan ketakutan, barangkali. Karena saya tak tahu menahu tentang dunia di luar tembok.
Siapa saja yang berkenan masuk, tolong bantu saya. Mintalah izin. Jangan sampai saya mengusir orang yang ingin menetap lama di sini, atau malah mengizinkan orang untuk menetap lebih lama padahal ia hanya bertandang untuk minum teh.
Barangkali saya harus membuat tembok itu lagi. Atau harus ada yang saya manipulasi untuk itu.
Wednesday, October 5, 2016
Perangception
Saya mau cerita. Kali ini tentang seorang pria. Dan ini kisah nyata.
Saya baru saja sampai rumah dari menonton film ketika cerita ini ditulis. Film yang saya tonton adalah Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children. Di tengah-tengah cerita saya menangis. Saya kangen dengan kakek saya.
Tidak hanya sampai di situ. Seusai film, saya masih menangis, namun selalu saya tahan. Sayangnya, saya menonton sendirian, dan ponsel pintar saya mat Saya tak bisa menghubungi siapapun untuk laporan bahwa saya kangen dengan kakek. Atau setidaknya menyalakan musik agar saya sedikit lupa akan apa yang saya rasakan.
Maka yang saya lakukan selama berjalan menuju ke tempat parkir sepeda motor adalah: menunduk, berjalan cepat, terus mengusap air mata yang sudah berusaha saya lawan agar tidak keluar, dan membuat tangan sibuk (dengan membuat kepalan kuat, meremas ujung jaket, atau memainkan kunci motor). Otak saya lagi perang sama otak. Otak perang sama hati. Masa lalu perang sama masa sekarang. Perangception.
Awalnya seperti tertarik ke pusaran waktu. Semua ingatan, keputusan, dan sebab-sebabnya berputar secara bersamaan dalam otak. Seperti sengatan, menyerang hanya dalam kurung waktu sedetik. Semua hal-hal yang berhubungan dengan kakek hadir. Saya pernah bercerita tentang kedua kakek saya di sini dan di sini.
Lalu saya berpikir bahwaq selama saya mebuat sosok Galang karena saya membutuhkan kehadiran seorang kakek dalam hidup. Barangkali kami dapat bercengkrama seperti Abe dan Jake. Fase tentang kakek ini sebut saja fase K.
Galang dan kakek (dari pihak ibu). Saya pikir keduanya memiliki beberapa kesamaan. Sama-sama tak pernah bertemu secara fisik (sebelum Lebaran 2014), sering saya rindukan, dan sering saya fantasikan. Saya kalut, bingung, takut. Tentu saja saya boleh menangis, kan? Saya rindu kakek dan saya boleh menangis.
Namun secara bersamaan, saya meniolak untuk menangis. Saya yang lain menolak untuk menangis. Saya jalan sendiri, bertemu dengan orang-orang untuk turun dari bioskop. Lantas apakah saya akan membiarkan mereka untuk melihat saya menangis? Membiarkan mereka menanyai saya, “Kenapa, Mbak?”?
You’re okay. You’re okay. Begitu saya ucapkan berulang-ulang kepada saya ketika berada di dalam lift, dengan ketakutan dan kekacauan yang terjadi di otak seperti yang saya ceritakan di atas.
Keluar dari lift dan berjalan menuju tempat parkir, selain memutar fase K, saya juga ingin menangis, saya juga melarang diri saya untuk menangis. Semua datang bertumpukan sekaligus bergantian. Hasilnya begini : sebentar saya menangis, sebentar kemudian saya memasang muka datar seolah tak terjadi apa-apa, lalu tak lama saya menangis kembali dengan isi kepala fase K.
Sesampainya di motor, saya kembali menangis. Namun saya yang lain menolaknya. Ini sudah malam, ujar saya yang lain. Saya berkendara sendiri, daerah PENS-ITS adalah daerah yang sepi. Kalau saya menangis, saya akan mengeluarkan bahasa tubuh bahwa saya sedang lemah. Jika saya terlihat lemah, bahaya.
Dalam perjalanan, saya bersikap seperti biasa yang saya lakukan ketika pulang agak terlalu malam : pasang muka jelek dan serius, berkendara dengan gaya laki-laki, dan ngebut. Biasanya, agar tak merasa sepi dan berpikiran kosong, saya menyalakan musik. Tapi karena ponsel pintar saya mati, maka saya memilih untuk berbicara dengan Galang.
Lalu saya heran dengan diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya mengambil sikap dan keputusan seperti itu? Bagaimana bisa saya melarang diri saya menangis karena hal-hal tersebut?
Banyak teman saya yang menjuluki saya aneh hanya karena saya berbeda dengan teman-teman mereka. Namun ada pula yang mengapresiasi keanehan saya dengan menjuluki saya unik, berbeda, lain dengan yang lain, aneh tapi bikin kagum, cara berpikirnya berbeda, nyeleneh, dan lain sejenisnya.
Pantas saja saya sering kewalahan dan heran dengan apa yang terjadi di diri saya. Seperti apa yang saya ceritakan di atas. Saya tak menyesal lalu mengutuki diri saya. Barangkali saya harus banyak latihan Ilmu Pengendalian Diri dan menjadi bukan Jun atau Nita untuk bisa melihat atau menganalisis apa yang terjadi terhadap diri saya.
Tuh kan. Kalian paham apa yang saya maksud? Saya mulai berprasangka yang tidak-tidak. Pasti sedang mengerutkan kening ya?
*
Mengapa saya menuliskannya?
Sebab jika diceritakan secara lisan, kosa kata saya terbatas. Namun melalui kata yang biasa saya tuliskan, saya dapat dengan lancar dan jujur. Rupanya saya terbiasa menulis ketimbang berbicara. Itung-itung latihan, pamer kelihaian mengolah kata, dan pamer kecantikan.
Mengapa menuliskannya di blog?
Saya tertutup. Saya amat picky dengan siapa calon pendengar yang saya izinkan untuk mendengar cerita saya. Dengan ditulis di blog, semua orang bisa tahu tentang kepribadian saya yang seperti ini. Mencoba untuk terbuka.
Dan siapa tahu orang-orang yang tidak mengerti dengan jalan pikiran saya dapat mengerti dengan baik.
Tapi saya akan menulis apa yang perlu saya tulis saja.
Menulis tangan.
Sebelum mengetiknya di layar digital, saya terlebih dahulu menulisnya di buku atau kertas. Keuntungannya sangat banyak dan saya lebih suka cara ini.
*
Terima kasih telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca (dan mendengar) cerita saya.
×××,
Rahmadana Junita
Saturday, August 13, 2016
Review Tiga Dara
Beberapa tahun belakangan saya suka lihat film. Dari gak bisa bedain antara Amy Adams dan Isla Fisher (sampai sekarang pun), atau Natalie Portman dan Keira Knightley (gara-gara The Phantom Manace); sampai sekarang sudah kenalan dengan gaya Tim Burton, Quentin Tarantino, atau Richard Linklater. Kalo di Indonesia, sutradara jagoan saya adalah Garin Nugroho, Riri Riza, Angga Sasongko, dan Joko Anwar. Jangan tanya Hanung Bramantyo. Saya dah gak suka dia semenjak dia menghancurkan Perahu Kertas.
Baru saja tadi saya selesai nonton. Film Indonesia. Judulnya Tiga Dara. Tahun tayangnya sih 1956, tapi direstorasi kembali menjadi kualitas 4K. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, saya mau nge-review film. Maafkan kalau kalimatnya agak kaku, mengandung spoiler, atau bahkan curhat.
Selamat menikmati.
*
Pada usianya yang baru saja menginjak angka 29, Nunung (anak pertama) belum juga memiliki kekasih. Hal ini meresahkan neneknya, yang merasa mendapat mandat dari mendiang ibu ketiga cucunya. Sebab ayahnya, Sukandar, tak pernah memedulikan tentang asmara ketiga anaknya.
Dengan bujukan neneknya, Nunung mau menghadiri beberapa pesta bersama dengan adiknya, Nana. Tapi apalah daya si Nunung yang pemalu dan pendiam tak seperti Nana yang superior dan ekstrover. Ia hanya duduk termenung dan sedikit sedih menghadapi cibiran teman-teman seusia Nana yang mengira ia adalah tante Nana karena dandanannya.
SINOPSISNYA SUSAH YA. Coba cari sendiri di wikipedia.
Inti ceritanya adalah seorang gadis yang umurnya sudah hampir mendekati kepala tiga, namun belum juga menemukan jodohnya karena ia susah bergaul tak seperti kedua adiknya.
*
Sebelum melihatnya di bioskop, saya pernah melihat film ini sekali di YouTube beberapa hari sebelum premier. Dengan kualitas yang jelek dan durasi hanya 30 menit. Kecewa? Tidak. Tidak ada pengaruhnya bagi saya. Toh meskipun dengan durasi penuh, saya akan melihat film ini di bioskop.
Ekspektasi pertama saya, mungkin saya akan tidur. Ini film hitam putih pertama yang saya lihat. Selain itu, saya juga pernah ketiduran ketika melihat yang di YouTube. Ya karena yang di YouTube kualitasnya jelek aja kali ya, makanya saya ketiduran.
Ternyata, saya gak tidur! Gila aja sampai tidur di film yang racikannya kayak gini.
Film dibuka dengan Nunung yang meniup lilin. Perayaan ulang tahunnya sederha. Di dalam ruangan itu ada Nunung, Nana, Nenny, ayahnya, neneknya, dan Herman. Lalu mereka menyanyikan lagu ulang tahun. “Lanjut umurnya, lanjut umurnya, lanjut umurnya dan berbahagia, dan berbahagia, dan berbahagia”. Dialog sebentar, lalu menyanyikan lagu Tiga Dara yang sudah sering saya putar.
Saya tak pernah tak terkesima dengan dialog yang menggunakan diksi yang luar biasa. Kala itu, Indonesia baru merdeka sebelas tahun dan EYD belum ada. Saya masih ingat dengan novel Memang Jodoh yang ditulis tahun 50an oleh Marah Rusli. Tanggapannya tetap sama : selalu tersenyum ketika mereka menggunakan kata yang sekarang sudah beda penggunaannya.
Hal kedua yang bikin hati saya terpikat adalah : karakter dan penokohan yang mereka bawakan. Nunung, Nana, dan Nenny memiliki watak yang sama sekali berbeda. Kontras! Nunung, kakak tertua yang pendiam, pemalu, penyayang, suka mengalah, ia juga yang mengurus semua pekerjaan rumah, tapi sangat jual mahal kepada lelaki yang ingin mendekatinya. Nana, gadis tengah yang mudah bergaul, suka nonton film, ambisius, keras kepala, ekstrover. Menurut dugaanku, ia seorang Cancer. Sedangkan si bungsu, Nenny, ia jahil, cerdik, nakal, cerdas, periang, suka melawan orang tua, suka meledek juga, tapi ia tidak egois.
Ini menarik. Nunung suka mengalah, Nana keras kepala, Nenny tidak egois. Perbedaan yang menggemaskan.
Ngomong-ngomong soal karakter, saya tertarik dengan make up dan kostum yang dikenakan oleh Nunung. Ia selalu memakai kebaya di acara-acara penting, tidak seperti adik-adiknya yang sudah memakai baju yang lebih modern. Saya menduga, ia adalah sebagai lambang sesuatu yang lama, usang, tua, tapi hari ini masih ada. Make upnya, saya tertarik di bagian alis. Kalau diperhatikan, ekor alisnya sengaja digambar naik, tidak turun seperti adik-adiknya yang menukik tajam ke bawah. Apalagi dahinya selalu dibuat berkerut. Ini semakin membuat wajahnya terlihat semakin sendu dan terlihat lebih lugu dari ketiga adiknya.
Ada beberapa make up yang ganggu. Pemeran pembantu, contohnya. Saya lupa siapa. Bedaknya terlalu terang. Agak ngaggu, soalnya kelihatan banget.
Saya suka dengan karakter Herman. Kenapa? Ia tampan, dagunya lancip, mukanya tirus, dan tingkahnya pecicilan. Sedang Toto, entah, saya tak begitu suka. Masa mau ketemu gebetan, pakaiannya tak necis, rambutnya gondrong pula. Tidak seperti Herman.
Masuk ke storyline. Sederhana. Saya suka yang sederhana. Sebenarnya, cerita yang sederhana saja dengan packaging bagus itu bisa bikin sebuah cerita menjadi bagus. Punya konflik dengan hal-hal yang sepele. Ditambah lagi dengan plot twist. Beuh.
Menurut saya, konflik-konflik kecil dimulai dari Nana yang flirting ke Toto, lalu Herman yang suka ke Nana patah hati dan malah mengencani Nenny, adiknya. Cinta segi mbulet antara tiga kakak beradik. Konflik-konflik kecil bisa dibangun, sehingga penonton ikut pula merasakan apa yang ada di dalam sebuah cerita tersebut.
Plot twistnya, bagi saya menarik. Meskipun ketebak. Tapi jika plot twist tersebut disuguhkan pada tahun 1956, mungkin akan terlihat menarik dan lucu.
Hal yang menarik lainnya disini adalah pada jokes-nya yang meski sudah berjarak 60 tahun, tapi masih bisa ‘direspon’ oleh penonton. Seperti adegan favorit saya yang adalah percakapan antara Toto dan Nunung yang juga ada di trailer hasil restorasi Tiga Dara. Begini
Nunung : Apa kepentinganmu? Apa coba? Kenapa?
Toto : Aku tak mau orang lain menjamahmu.
Nunung : Kenapa?
Toto : Aku cinta padamu.
Lalu seisi bioskop (yang hanya berjumlah 20 orang) berseru sebagaimana mestinya ketika adegan romantis ditampilkan.
Untuk masalah set, saya sedikit kaget dengan Jakarta saat itu. Begitu sepi dan lapang. Begitu menyenangkan. Rumah-rumahnya aduhai sekali.
Soal sinematografi, saya tidak mengerti harus berkomentar seperti apa. Bukan karena sinematografi film ini begitu sempurna. Tapi ilmu saya kurang banyak kalau harus berbicara tentang sinematografi.
Begitupun tata musiknya. Saya angkat tangan, tak berani komentar apa-apa. Kalau tak salah, ada genre melayu, swing, bossanova, ya musik-musik yang kece pada masa itu. Kaki saya menghentak, telinga saya mencermati liriknya. Pingin beli vinylnya...
Ada beberapa kecacatan. Tapi masih bisa dimaafkan. Seperti kebocoran cahaya : bayangan holder lampu yang tertangkap kamera, dan tas Nana yang tergeletak padahal orangnya belum datang.
Nasihat yang tersampaikan kepada saya khususnya : jangan suka jahat sama laki, nanti jadi perawan tua gimana hayo? Untuk laki : jangan pernah patah semangat untuk mengejar perempuan yang dicintai, barangkali ia hanya tak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya karena ia tak pernah sekalipun berhadapan dengan lelaki. Lho kok kode?
Overall, film ini layak ditonton. Sangat sayang jika dilewatkan. Sebagai penghargaan untuk mereka yang sudah bersusah payah membenahi film lama ini. Sebab, kalau bukan kita yang menikmati karya anak bangsa, siapa lagi? Wong sak ndunyo? Mungkin a?
Bagi yang sudah lama menantikan film ini, segeralah tonton! Kalau bokek, ngutang dulu! Gak ada teman, berangkat sendiri! Saya yakin, kalau orang demen nonton beneran, pasti gak pernah masalah dengan nonton sendiri. Sebab, di Surabaya, film ini diputar hanya di satu bioskop dan penontonnya gak banyak. Takutnya, film ini bertengger di bioskop hanya beberapa hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)
