Monday, August 21, 2017

Jogjakarta dan Seorang yang Lain

Jika tulisan sebelumnya saya mengusulkan untuk mendengarkan lagu Adhitia Sofyan yang berjudul Sesuatu di Jogja, kali ini saya juga akan mengusulkan sebuah lagu untuk menemani kalian membaca tulisan yang panjang. Masih dari musisi yang sama dengan judul berbeda. Judul lagunya 8 Tahun. Bisa didengarkan secara online di Spotify dan SoundCloud.

*

Ketika patah hati dengan orang Jogja yang kemarin saya ceritakan, otak saya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan hati saya. Ia membuatkan saya seorang teman imajinasi bernama Galang Adyatarna. Galang Adyatarna hadir dengan pelan-pelan menjadi pelarian saya. Selama perasaan saya belum habis kepada orang Jogja satu itu, otak saya membuat fantasi-fantasi indah dan gila bersama Galang Adyatarna.

Sunday, August 20, 2017

Surat Cinta: Tentang Jogjakarta dan Seseorang

Sebelum membaca tulisan ini, izinkan saya untuk mengusulkan sebuah lagu yang didengarkan sebagai pengiring membaca tulisan ini. Sebab tulisan ini ditulis dengan mendengarkan lagu tersebut. Sesuatu di Jogja oleh Ahitia Sofyan. Bisa didengarkan secara online di Spotify, dan SoundCloud. Barangkali tulisan kali ini agak sedikit panjang.

*

Jogja, entah mengapa selalu memiliki kemampuan untuk mengubah. Tempatnya, pun orang-orangnya. Bagi saya, keduanya memiliki peran penting di hidup saya. Jogjakarta, dan orang Jogjakarta. Jogja pernah membantu saya membersihkan residu perasaan kepada seseorang. Dikuras habis oleh orang yang bersangkutan.

Wednesday, August 9, 2017

Adyatarna - 0

(+) Lang, kenyataan itu menakutkan, ya?
(-) Maka itu aku tak nyata, Nyit.

Friday, August 4, 2017

Balasan kepada K

Barangkali, hanya di hadapannya aku tak dapat menahan rindu. Bahkan, jika rinduku harusnya disampaikan untuk orang lain, maka akan kuutarakan kepadanya. Sepertinya, semua rindu hanya menuju untuk ia.

“Aku rindu merayakan ulang tahun berdua.”

“Maret masih lama,” katanya di seberang.

“Tak bisa kah kita rayakan tiap setengah tahun sekali?”

“Bisa tiap hari. Dirayakan bersama orang yang selalu bersyukur akan kehadiran kita di tiap harinya.”

Maret lalu, ia manusia terakhir yang memberikanku ucapan selamat ulang tahun via telepon. Dan aku adalah manusia terakhir yang menemani menghabiskan tanggal istimewanya. Lucunya, meski tanggal ulang tahun kami tidak sama, tahun ini kami sama-sama menghabiskan hari ulang tahun kami dalam sebuah perjalanan menuju Surabaya. Aku di bus, ia di kereta lima hari kemudian. Lalu selang beberapa hari setelahnya, kami meniup lilin di atas kue yang sama. Di sebuah kota yang mempertemukan kami. Surabaya.

Berbicara tentang rindu, tadi malam kami membahasnya. Katanya, kepekatan rindu dapat diukur dari jarak waktu yang mengutarakan. Jika diutarakan tiap hari, maka rindu itu encer. Jika sebulan sekali, rindu itu pekat. Kuiyakan. Tapi ia protes. Malam tadi ia banyak protes.

“Lemah! Main setuju saja? Tak kau sanggah atau protes?”

Terserah. Yang jelas, dini hari tadi kami menghabiskan satu setengah jam mengobrol. Entah kapan terakhir kali kami mengobrol tak ada juntrungnya sampai ia menanyakan, “Kita nih membicarakan apa, sih?”

Aku masih mengingat kalimatnya tiga tahun yang lalu. Kami bertemu di sebuah restoran fast food. Kami memutuskan untuk bertemu setelah sadar kalau lima pertemuan sebelumnya tak pernah sampai lima menit. Selepas pertemuan itu, sebelum berpisah, ia berkata, “Ini kalau diteruskan, bisa sampai subuh.”

Di telinga kami, tak ada yang salah dengan ceracau dan Bahasa Kesepakatan yang-sejatinya-tak-pernah-disepakati. Orang-orang seperti kita. Itu yang selalu ia ucapkan. Padahal aku tak paham seperti apakah kita ini, K?

Tadi malam kami juga bicarakan tentang surat. Yang aku ingat tentang Palembang-Surabaya adalah jarak yang ibu dan bapakku ciptakan untuk bertukar kabar via surat. Lantas ia bercerita kalau ia rindu berkirim surat. Kenapa kita tak berkirim surat saja, K? 

“Di sini tak ada kantor pos. Kan aku di hutan.”

Jika memang jodoh tak hanya untuk pasangan yang akan menikah nantinya, kita ini berjodoh, kan, K? Teman juga jodoh, kan?

Kami telah sepakat tentang hal ini.

Thursday, June 15, 2017

Kepada G

Mau apa? Mau apa lagi? 
Tidak menemukan apa yang kau cari? 
Minta saja sini.

Sunday, June 11, 2017

Tips Agar Tak Mudah Patah Hati

Salah satu orang yang sering melogika hal-hal mengenai perasaan adalah saya. Mulai dari jatuh cinta, patah hati, pola-pola bagaimana seseorang bisa tertarik dengan seseorang yang lainnya, bahkan mencari cara agar tremor pada tangan dapat terkesan normal saat bertemu gebetan. Nah, kali ini saya akan menjelaskan bagaimana caranya agar hatimu tak dipatahkan. Caranya mudah: patahkan sendiri hatimu. Lantas hadapi sakitnya.

Jadi, ketika ia datang hendak mematahkan hatimu, hatimu sudah terlanjur patah. Kamu bisa mencemooh dan menanyakan, “Mau apa kau? Mematahkan hatiku? Sudah patah.” Lalu ia pergi, kecewa karena tak bisa mematahkan hatimu.

Atau kamu sendiri yang menawarkan diri untuk mematahkan hatimu? “Mau apa kau? Mematahkan hatiku? Tak perlu repot-repot. Biar aku saja. Bisa dipatahkan sesuai permintaan. Mau patah jadi berapa? Dua? Tiga? Sepuluh? Atau menjadi bubuk halus? Bisa. Aku saja yang patahkan dan hancurkan. Kau tak perlu repot-repot. Memangnya kau tahu dimana sensor sakit milikku karena patah hati? Tidak, kan? Aku tahu. Maka, kau duduk saja sambil minum kopi atau teh, sembari melihat aku kesakitan karena patah hati. Gratis! Tidak dipungut biaya!”

Mudah, bukan?

Pokoknya, jangan sampai ia mematahkan hatimu. Jika hatimu dipatahkan olehnya, lalu ada beberapa puing-puing hati yang mencuat dan hilang, kamu tak tahu bagaimana cara menemukan dan mengembalikannya kembali seperti semula. Jika kau mematahkannya sendiri, kamu akan tahu kemana arah puing-puing hatimu lari dan kamu dapat memulihkan kembali hatimu.

Jangan sampai terlalu lama patah hati. Sebab, patah hati adalah hal yang paling tak penting di dunia. Menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran dengan sia-sia. Iya, kan?

Apakah saya pernah mematahkan hati saya sendiri? Menggerusnya pun pernah, tanpa ada yang meminta. Jika ada yang meminta mematahkan hati saya jadi dua, saya akan tertawai. Itu mudah sekali. Seperti melipat kertas menjadi dua.

Wednesday, June 7, 2017

Surat Cinta Buat yang Lagi Jauh

Sudah bulan Juni, dan kau sedang jauh. 

I miss you already. Ah, gak seru. Belum apa-apa udah spoiler. Tapi gak apa. Ketimbang kayak surat cinta sebelah yang baru dibaca 2,5 tahun kemudian?


Aku bingung harus memulai dari mana. Tapi ini adalah perasaan yang tiba-tiba saja muncul siang ini. Kau tahu, kan, kalau aku tak pandai menyimpan perasaan lama-lama? Selalu meledak-ledak. Rinduku padamu pun. Terdengar picisan atau klise. Terserah kau memberi kesimpulan seperti apa. Yang penting, aku sudah rindu.

Sementara aku menyusun hal-hal apa saja padamu yang membuatku rindu, biarkan aku mengutarakan hal ini di awal surat. Kalimat yang selalu ingin aku utarakan tapi sayangnya tak tahu kepada siapa: 
Baik-baik di rantau orang. Berbahasalah yang baik. Jangan lupakan bahasa kesepakatan kita. Perpisahan itu pasti, yang tak pasti adalah pertemuan. Tapi, kita sudah melewati masa pertemuan itu, kan? Semoga ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang akan kita temui. Berpisah yang betul tuh, gak pakai perayaan. Aku merayakan perpisahan kita dengan tulisan ini, sebab kau tak ingin berpisah dengan betul denganku, kan?
Sesungguhnya, semenjak awal perpindahanmu ke Pandaan kala itu sudah membuatku resah. Aku membenci jarak. Untungnya cuma jarak geografis, bukan psikologis. Seringkali ada niatan untuk berkunjung ke tempat kosmu untuk sekadar mampir. Membuatmu bahagia karena pertemuan yang tidak direncanakan. Lalu aku menginap, dan esoknya kuajak kau jalan-jalan ke Kebun Raya Purwodadi. Gelar tikar, minum susu hangat kesukaanmu, makan biskuit, baca buku, dan mengobrol tentang macam-macam seperti biasanya. Namun proposalku kepada semesta selalu terhalang dan akhirnya tidak disetujui.

Namun tak lama, kau dipindah ke Madura. Aku amat bahagia ketika tahu jarak kita hanya sebuah jembatan dan perjalanan setengah jam. Kita sering bertemu. Tapi waktu jarang kita habiskan seperti yang biasa kita lakukan: duduk berdua di warung kopi dan membicarakan tentang banyak hal.

Aku rindu pada waktu ketika Surabaya masih memilikimu. Ketika aku mulai mengajakmu ngeskrim di McD, lalu terjadi percakapan absurd kita. Mulai dari masalah agama, negara, politik, seni, musik, film, teori-teori patah hati, science, sampai ke ranah ghibah. Kita selalu menganalisis sikap seseorang berdasarkan latar belakang yang dia miliki dan dari bahasa tubuh yang tak sengaja dia sampaikan.

Aku rindu memesankanmu susu hangat tiap kali kita cangkruk di warkop atau di Mbah Cokro. Aku rindu kita saling merekomendasikan film. Ketika kutanya bagaimana premis dari film yang kau rekomendasikan, kau menceritakan semuanya sampai ending! Dasar Mother of Spoiler!

Percakapan paling ekstrim yang aku ingat adalah sepulang karaoke pukul 2 pagi. Aku menginap di kosmu. 2 AM thoughts with you. Dan pada akhirnya kita baru tidur pukul 7 pagi. Aku lupa apa saja yang kita bicarakan. Tapi ketika itu kita sama-sama saling meladeni 2 AM thoughts masing-masing.

If I were a boy, I would date you.” Kuucapkan kalimat ini berkali-kali. Di tengah-tengah diskusi kita, atau ketika kita sedang duduk berdua, sama-sama membaca. Kau mengangguk mengiyakan. Sayangnya kita sama-sama heterosex yang juga sama-sama jomblo.

Kau stuck sama bibir Tom Hardy, aku stuck sama pundaknya Nicholas Hoult.

We are both hopeless romantic. Sama-sama jomblo sejak kenal (awal kuliah, red), tapi punya pengalaman yang beda. “Dia itu bodo,” kalau kau ketemu cowok yang gak baca buku. Udah bodo, patriarki, masokis pula, ya gak? Ada saja pemuda yang mudah dekat denganmu, namun aku selalu stuck dengan illustrator cakep yang kutemui di Instagram.

Barangkali memang jodohmu bukan pemuda Jawa Timur atau bahkan pemuda Makassar satu itu (ea). Kalau kata Sinikini, “Senyummu masih menawan, cerita cinta masih akan datang.” Semoga di tempat barumu ini kau dapat bertemu dengan orang-orang yang dapat memenuhi hasratmu dalam bentuk apapun. Asmara, atau hanya sekadar teman diskusi kayak aku. Mari saling mendoakan untuk sama-sama saling menemukan.

Pesanku satu lagi : tak perlu minum obat perontok bulu mata agar kau dapat mengira bahwa ada yang merindukanmu. Sebab sudah ada yang merindukanmu. Aku, yang masih heran kok ada yang mau kuajak nontonin senja bahkan purnama meski mendung.

Tak perlu ulang tahun untuk membuat kejutan untukmu. Semoga surat ini tak perlu menempuh perjalanan selama 2,5 tahun untuk kau baca. 

Bonus foto jaman kita masih polos. Belum kenal make up, belum berbahasa sarkastik, belum keseringan ngomong, "Logikanya dipake! Jangan kayak orang jatuh cinta ah!", belum kenal Banda Neira atau Aurora atau Keaton Henson, belum pacaran. 



Love, your favorite G.