Wednesday, June 7, 2017

Surat Cinta Buat yang Lagi Jauh

Sudah bulan Juni, dan kau sedang jauh. 

I miss you already. Ah, gak seru. Belum apa-apa udah spoiler. Tapi gak apa. Ketimbang kayak surat cinta sebelah yang baru dibaca 2,5 tahun kemudian?


Aku bingung harus memulai dari mana. Tapi ini adalah perasaan yang tiba-tiba saja muncul siang ini. Kau tahu, kan, kalau aku tak pandai menyimpan perasaan lama-lama? Selalu meledak-ledak. Rinduku padamu pun. Terdengar picisan atau klise. Terserah kau memberi kesimpulan seperti apa. Yang penting, aku sudah rindu.

Sementara aku menyusun hal-hal apa saja padamu yang membuatku rindu, biarkan aku mengutarakan hal ini di awal surat. Kalimat yang selalu ingin aku utarakan tapi sayangnya tak tahu kepada siapa: 
Baik-baik di rantau orang. Berbahasalah yang baik. Jangan lupakan bahasa kesepakatan kita. Perpisahan itu pasti, yang tak pasti adalah pertemuan. Tapi, kita sudah melewati masa pertemuan itu, kan? Semoga ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang akan kita temui. Berpisah yang betul tuh, gak pakai perayaan. Aku merayakan perpisahan kita dengan tulisan ini, sebab kau tak ingin berpisah dengan betul denganku, kan?
Sesungguhnya, semenjak awal perpindahanmu ke Pandaan kala itu sudah membuatku resah. Aku membenci jarak. Untungnya cuma jarak geografis, bukan psikologis. Seringkali ada niatan untuk berkunjung ke tempat kosmu untuk sekadar mampir. Membuatmu bahagia karena pertemuan yang tidak direncanakan. Lalu aku menginap, dan esoknya kuajak kau jalan-jalan ke Kebun Raya Purwodadi. Gelar tikar, minum susu hangat kesukaanmu, makan biskuit, baca buku, dan mengobrol tentang macam-macam seperti biasanya. Namun proposalku kepada semesta selalu terhalang dan akhirnya tidak disetujui.

Namun tak lama, kau dipindah ke Madura. Aku amat bahagia ketika tahu jarak kita hanya sebuah jembatan dan perjalanan setengah jam. Kita sering bertemu. Tapi waktu jarang kita habiskan seperti yang biasa kita lakukan: duduk berdua di warung kopi dan membicarakan tentang banyak hal.

Aku rindu pada waktu ketika Surabaya masih memilikimu. Ketika aku mulai mengajakmu ngeskrim di McD, lalu terjadi percakapan absurd kita. Mulai dari masalah agama, negara, politik, seni, musik, film, teori-teori patah hati, science, sampai ke ranah ghibah. Kita selalu menganalisis sikap seseorang berdasarkan latar belakang yang dia miliki dan dari bahasa tubuh yang tak sengaja dia sampaikan.

Aku rindu memesankanmu susu hangat tiap kali kita cangkruk di warkop atau di Mbah Cokro. Aku rindu kita saling merekomendasikan film. Ketika kutanya bagaimana premis dari film yang kau rekomendasikan, kau menceritakan semuanya sampai ending! Dasar Mother of Spoiler!

Percakapan paling ekstrim yang aku ingat adalah sepulang karaoke pukul 2 pagi. Aku menginap di kosmu. 2 AM thoughts with you. Dan pada akhirnya kita baru tidur pukul 7 pagi. Aku lupa apa saja yang kita bicarakan. Tapi ketika itu kita sama-sama saling meladeni 2 AM thoughts masing-masing.

“If I were a boy, I would date you.” Kuucapkan kalimat ini berkali-kali. Di tengah-tengah diskusi kita, atau ketika kita sedang duduk berdua, sama-sama membaca. Kau mengangguk mengiyakan. Sayangnya kita sama-sama heterosex yang juga sama-sama jomblo.

Kau stuck sama bibir Tom Hardy, aku stuck sama pundaknya Nicholas Hoult.

We are both hopeless romantic. Sama-sama jomblo sejak kenal (awal kuliah, red), tapi punya pengalaman yang beda. “Dia itu bodo,” kalau kau ketemu cowok yang gak baca buku. Udah bodo, patriarki, masokis pula, ya gak? Ada saja pemuda yang mudah dekat denganmu, namun aku selalu stuck dengan illustrator cakep yang kutemui di Instagram.

Barangkali memang jodohmu bukan pemuda Jawa Timur atau bahkan pemuda Makassar satu itu (ea). Kalau kata Sinikini, “Senyummu masih menawan, cerita cinta masih akan datang.” Semoga di tempat barumu ini kau dapat bertemu dengan orang-orang yang dapat memenuhi hasratmu dalam bentuk apapun. Asmara, atau hanya sekadar teman diskusi kayak aku. Mari saling mendoakan untuk sama-sama saling menemukan.

Pesanku satu lagi : tak perlu minum obat perontok bulu mata agar kau dapat mengira bahwa ada yang merindukanmu. Sebab sudah ada yang merindukanmu. Aku, yang masih heran kok ada yang mau kuajak nontonin senja bahkan purnama meski mendung.

Tak perlu ulang tahun untuk membuat kejutan untukmu. Semoga surat ini tak perlu menempuh perjalanan selama 2,5 tahun untuk kau baca. 

Bonus foto jaman kita masih polos. Belum kenal make up, belum berbahasa sarkastik, belum keseringan ngomong, "Logikanya dipake! Jangan kayak orang jatuh cinta ah!", belum kenal Banda Neira atau Aurora atau Keaton Henson, belum pacaran. 



Love, your favorite G.

Wednesday, April 26, 2017

Jarak


Ada rindu yang meruah. Namun kapasitas rindu yang aku punya tak cukup. Jika sampai seperti ini, rindu memang harus disampaikan. Ditumpahkan di hadapannya, di  samping telinganya, dengan peluk erat, dan bisik lirih, "Aku rindu." Sayangnya, kali ini aku tak dapat menciptakan pertemuan. Jarak terlalu angkuh, dan kami bersikukuh untuk saling jauh.

Tuesday, April 25, 2017

Berlabuh



Jangan pernah meminta seseorang berlabuh kepadamu. Sebab pelabuhan sama seperti terminal, stasiun, bandara, pangkalan ojek sekalipun. Mereka mempertemukan, pun memisahkan.

Singgah


Siang itu kutemukan seseorang tertidur di teras. Kuamati lekat-lekat garis wajah itu. Kelelahan menumpuk di dahi wajahnya yang terlihat tenang. Kelana, doa apa yang ibumu sematkan pada namamu? Sehinga lupa jalan pulang, lupa rumah, tapi kau tak lupa singgah. 

Sunday, April 23, 2017

Perjalanan/Pulang


+
Aku ingin pergi jauh dari kotaku. Barangkali akan jarang pulang.
-
Katamu, Surabaya kota kenangan.
+
Tidak bagiku. Apa yang harus dikenang? Kenangan tentangmu saja tak ada di dalamnya.
-
Aku tak ingin melukai kotamu.
+
Bagaimana jika, aku menemui kepulanganku tiap kali bertolak dari Surabaya? Lalu semua kenangan tentangmu ada di semua kota selain Surabaya. Kau telah melukai semua kota
-
Surabaya tidak.
+
Tapi aku tak suka kota ini. Surabaya bukanlah kepulanganku.
-
Pulang tak selalu ke rumah.
+
Aku tak sedang bicarakan tentang pulang. Kau tak mahir tentang itu.
-
Tapi kalau rumah makan...
+
Mas!
-
Kita. Kita tak mahir tentang hal yang berkaitan dengan pulang. Kau tak pernah merantau.
+
Enam tahun merantau, kau tak pernah rindu rumah.
-
Sudah kau dengarkan lagu-lagu Silampukau?
+
Sudah. Mengapa?
-
Barangkali jika kau merantau, lalu bertemu lagu mereka di telingamu, tiba-tiba kau rindu Surabaya.
+
Kupikir mereka tak cukup kuat untuk membuat aku menjadi manusia yang ingin pulang.
-
Ingatkah, kau pernah merengek sejadi-jadinya untuk memaksaku pulang ke tanah kelahiranku?
+
Tiap malam, tiap percakapan.
-
Masing-masing kita sering membuat perintah secara tak langsung untuk pulang. Pulang ke rumah, ke tanah kelahiran.
+
Bukankah kita sepakat kalau pulang tak selalu ke rumah?
-
Nah! Aku menemui kepulanganku pada perjalanan-perjalanan.
+
Aku menemui kepulanganku ketika bertolak dari Surabaya.
-
Tak bisakah kita pulang berdua?
+
Menemui kepulangan pada perjalanan?
-
Iya.
+
Tapi itu mustahil.
-
Aku tahu.


+, rahamnita

Saturday, April 22, 2017

Menitipkan Ingatan : rahamnalogi

Selangnya mbulet, kayak donat. Stadion ITS, 2 Maret 2017

Sudah lima bulan lebih terhitung dari November 2016 saya bermain kamera analog. Bermain sambil belajar. Katanya, kalau mau belajar fotografi dari nol, mulailah dari memakai kamera analog. Itu salah satu alasan mengapa saya mulai bermain dengan kamera analog, namun itu bukan alasan utama. Alasan utamanya berupa saya tak mampu (menabung secara istiqomah untuk) membeli kamera.

Friday, February 17, 2017

Balaena mysticetus (italic)

04.00, 16 Februari 2017
Beberapa jam yang lalu saya tiba-tiba memutuskan untuk membuat proyek menulis harian kembali. Proyek yang hampir sama sebelumnya bernama FCT. Dibuat sekitar bulan Oktober-November 2012, dan berlangsung selama 26 hari. Tulisan tersebut ada di blog saya yang lama. Ini linknya. Berkali-kali saya memiliki niatan untuk membuat proyek yang sama. Tapi saya ingkar.

Jujur, tidak mudah mendisiplinkan diri untuk menulis setiap hari. Bukan karena kesibukan. Menyisihkan waktu untuk memikirkan satu cerita yang harus diunggah tiap harinya bukan perkara mudah. Ketika dalam pembuatan proyek FCT, pernah satu hari saya tak pernah mendapat ide. Hukumannya saya yang buat. Menjadi hutang di kemudian hari. Esoknya, saya harus menulis dua FCT. Jika tak ada ide juga, hutang bertambah di hari berikutnya. Tapi dengan begitu, otak rasanya harus bekerja ekstra untuk menyajikan apa yang telah dimulai.

Ketika itu teman saya belum banyak. Yang membaca ya hanya itu-itu saja. Saya tak butuh audience. Proyek tersebut murni karena ingin melatih otak dan tulisan. Hasilnya? Ada satu teman yang ingin ikut mendisiplinkan diri untuk membuat satu hari satu tulisan. Meski cuma niat seorang teman, itu membuat saya merasa tak sia-sia untuk memeras otak selama 26 hari.

Sekarang telah banyak beredar proyek-proyek menulis yang menerapkan sistem satu hari satu tulisan, satu minggu satu tulisan, satu minggu satu puisi, begitu seterusnya. Saya tak pernah ikut serta dalam proyek tersebut. Menurut saya, percuma jika tekanan datangnya dari orang lain. Akan lebih menantang jika tekanan berasal dari diri sendiri.

Maka, saya memutuskan untuk membuat proyek sendiri. Sebab hanya saya yang tahu kemampuan yang saya punya. Dengan tantangan yang berasal dari diri sendiri. Bukankah lawan yang berat adalah melawan diri sendiri?

Sekitar awal September, beberapa hari sebelum seseorang berulang tahun, saya berniatan untuk membuat proyek yang sejenis. Isinya adalah tulisan-tulisan saya tentang dia dengan jumlah hari yang sama dengan jumlah umurnya yang akan saya post di blog. Jadi, ketika sampai pada hari ulang tahunnya, dia telah menerima jumlah yang sama dengan umurnya. Namun proyek itu tidak terlaksana karena dia kurang spesial untuk menerima itu semua.

Karena sebentar lagi saya berulang tahun, mengapa tidak membuat proyek yang nyaris sama? Menulis sekian tulisan yang jumlahnya sama dengan umur saya.

Sering terjadi ketika seseorang berulang tahun, ia mendapatkan kejutan, kado, ucapan, dan hal lainnya yang membuatnya merasa spesial. Setelah saya merayakan ulang tahun ke-4, 20 tahun yang lalu, seingat saya hanya ada 3-4 kejutan yang saya terima setelah itu. Maka, kali ini saya yang membuat hadiah untuk teman-teman saya berupa tulisan. Seperti kutipan berikut:
“Hiduplah untuk memberi yang sebanyak-banyaknya, Bukan untuk menerima yang sebanyak-banyaknya.” - Pak Harfan (Laskar Pelangi karya Andrea Hirata)
Daripada mengharapkan suatu hal yang tak pasti, Bagaimana jika kita memberi saja? Maka, proyek ini saya berinama Balaena mysticetus.

Balaena mysticetus. Paus kepala busur. Paus bukan ikan. Ia mamalia air. Saya lupa kapan pertama kali terobsesi dengan binatang satu itu. Yang saya ingat adalah ada hubungannya dengan zodiak saya. Pisces. Ikan. Lalu saya memilih paus. Alasannya karena ia hidup di laut tapi bernapas tidak di laut. Ia bukan ikan, tapi hidup di laut. Saya juga bingung.

Paus kepala busur adalah mamalia air dengan usia hidup paling lama; yaitu 200 tahun. Seperti berdoa untuk diri sendiri agar memiliki umur yang panjang meski umur rata-rata manusia hanya sampai hampir sepertiganya saja; 70 tahun.

Kali ini saya sedikit curang. Mencuri start. Harusnya tulisan pertama akan di-post esok Rabu(22 Februari 2016). Tapi hari ini saya telah memiliki dua bahan tulisan. Tak apa, saya ampuni. Saya sedang berada dalam fase pemulihan setelah merasa kehilangan muse semenjak 2-3 tahun yang lalu. Anggap saja sebagai pemanasan di tengah-tengah deadline pengumpulan draft proposal Tugas Akhir yang jatuh pada hari ini. Sore ini.

Sama seperti proyek sebelumnya, saya tak butuh audience. Bagi saya itu bonus. Namun, selain teman saya yang bertambah banyak, kali ini saya memiliki teman yang agaknya suka dengan tulisan-tulisan saya. Barangkali proyek ini akan menjadi pengobat rindu bagi mereka yang rindu akan tulisan saya.

Sama seperti memotret, tujuan saya menulis adalah untuk membagi apa yang saya lihat, alami, dan pikirkan. Saya berharap, dengan terlaksananya proyek ini, teman-teman pembaca blog saya akan mengerti hal-hal yang menarik menurut sudut pandang saya dan bisa menjadi acuan dalam melihat suatu hal ke depan.

Jadi, tungguin tanggal 22 besok, ya!