Thursday, September 3, 2026
Monday, June 1, 2026
Saudara Kembar Kedua Adikku
Kalau bisa kubunuh kedua adikku, barangkali akan aku bunuh mereka. Sebab dengan keberadaan mereka, hidupku terasa sengsara dan dipenuhi kesakitan. Aku masih ingin hidup lebih lama. Maka, aku pikir, membunuh adikku adalah salah satu cara yang tepat untuk menghilangkan rasa sakitku.
Kedua adikku laki-laki. Tentu saja dengan jenis kelamin itu, kehidupan mereka ke depan akan jauh lebih mudah daripada aku yang perempuan ini. Apalagi mereka tidak akan mewarisi trauma dari ibuku. Aku yakin, mereka tidak pernah mendengar banyak cerita tentang bagaimana menjadi ibu. Aku pernah. Sering.
Kedua adikku lahir dengan kembarannya masing-masing: kesusahan yang tersampir di pundak kanan dan kiriku. Adikku yang pertama lahir dengan wajah yang tampan. Semua orang mudah terpikat oleh parasnya. Belum lagi ibu selalu menggadang-gadang kalau kehadiran ia adalah oase di tengah gurun; ketika seluruh keluarga besar hanya memiliki anak perempuan, ia lahir. Belum dua tahun, adik keduaku lahir. Aku rasa kedua orang tuaku sengaja memberikan dua adik—bersama kembarannya: kesusahan— untuk mengimbangi pundak kanan dan kiriku.
Karenanya, aku seperti harus mengorbankan masa SMAku. Aku harus masuk SMK dan digadang-gadang harus membantu perekonomian orang tua. Rasanya selalu ada beban ekonomi yang aku bawa sejak ia hadir. Dengan aku masuk SMK, rasa-rasanya ada banyak sekali kesempatan yang aku lewatkan. Kedua adikku dengan mudahnya diperbolehkan masuk SMA dan rasa-rasanya mereka mendapat kesempatan yang lebih banyak. Praktisnya, mereka tidak pernah menerima narasi tentang kesusahan ekonomi yang orang tuaku tanggung.
Sepanjang hidup aku terus mengungkit betapa aku sungguh terbebani, tapi tiada yang acuh. Setiap kali aku menyuarakan ada perlakuan tidak adil antara aku dan adik-adikku, aku selalu disuruh melihat ke masa lalu: ada berapa keberuntungan yang aku terima jauh sebelum adik-adikku lahir. Aku ingin menyangkalnya:
- Justru karena adik-adikku lahir, aku kehilangan segala keberuntungan dan kebaikan itu; dan
- Apa tidak pernah terpikir untuk memperhitungkan betapa di masa depan nanti, adik-adikku akan lebih banyak memiliki keuntungan hidup hanya karena mereka laki-laki?
Aku telah mencoba memahami banyak hal. Lalu siapa yang memahamiku? Adakah yang mendengar dengan saksama apa yang aku rasakan? Telah aku coba mencari hal baik yang telah terjadi. Tapi rasanya percuma dan sia-sia jika saudara kembar kedua adikku yang tersampir di kedua pundakku yang selama lebih dari 28 tahun ini tidak dianggap keberadaannya.
Sungguh, sejatinya aku tidak benar-benar ingin membunuhnya. Aku masih punya akal sehat. Itu hanya kiasan—ah, begini saja banyak yang tidak paham, memang tiada yang mau mencoba memahamiku. Aku hanya ingin meniadakannya. Bayangkan, jika kedua adikku tidak ada, barangkali kesusahan tidak sudi tersampir di bahuku. Meski tetap saja ada kesusahan lain yang hadir, setidaknya ia bukan saudara kembar adik-adikku.
Maka sebaiknya aku bunuh saja adik-adikku. Barangkali jika mereka tiada, saudara kembar mereka ikut pergi.
Saturday, January 17, 2026
Di Sebuah Kota Asing yang Hanya Kita yang Tahu
Tuesday, January 6, 2026
Anai-Anai dan Andai-Andai
Lalu kita mulai berandai-andai. Kratak kratak kratak.
Kratak kratak kratak.
Tuesday, September 2, 2025
Bertarak
Selama bertahun-tahun aku telah membohongi diriku untuk merasakan bagaimana rasa makanan yang ingin aku rasakan dan kunyah. Aku perbuat ini kepadaku karena kala itu ingin juga merasakan apa yang orang lain rasakan, namun aku tiada punyai seorang lain untuk bertukar rasa. Maka aku buat sendiri seorang lain itu di kepala agar aku dapat pura pura tahu juga bagaimana rasanya. Ah, aku sungguh lihai membohongi diriku sendiri.
Aku pernah berhadapan dengan seseorang lain di atas meja makan. Barangkali dua hingga tiga orang dalam lima belas tahun belakang. Kami pernah bertukar cerita, berkelana ke masing-masing ruang waktu yang dituturkan. Aku selalu memakan setengah porsi makanan yang tersaji di depan mata dan menikmatinya. Namun piringnya selalu kosong. Hanya aku yang merasakan nikmat makanan yang tersaji.
Sudah kulakukan itu semua dan aku masih memandang pahit pada orang-orang yang makanannya aku inginkan itu.
Barangkali aku harus mengaku dengan jujur bahwa aku juga ingin merasakan makanan yang sama bersama seorang yang lain. Aku harus mengakui rasa kosong dan mengakuinya dengan baik dan jujur. Aku harus mengikuti ke mana perutku hendak mengarah. Aku lapar, tapi aku harus bertarak.
Aku wartakan ke banyak kawanku bahwa aku lapar. Barangkali itu dapat membantuku untuk bisa menerima rasa lapar dan kuat bertarak hingga dapat kutemukan makanan yang ingin kurasakan itu. Tapi semua orang rasanya seperti mendesakku untuk bergegas. Sedangkan aku tiada pernah merasa terburu untuk ke satu titik tuju. Tiada pernah terpikir olehku kalau semua makanan bisa dimakan atau diperuntukkan untuk aku makan. Bisa saja makanan tersebut hanya untuk aku pandang, aku hirup aromanya saja, atau hanya mengenal namanya. Aku tidak serakus itu. Aku lapar dan perutku kosong, tapi bukan berarti aku memakan semua makanan yang ada.
Memiliki kawan sebanyak ikan di laut juga tak dapat mengisi rasa kosong itu. Kawan yang cukup dekat pun tak selalu dapat mengisi rasa lapar meski mereka sering mencurahkan hati dan waktunya untuk memasakkan hidangan lezat untukku. Tapi bukan itu yang aku mau. Selain itu, kawan-kawanku bisa saja pergi mengurus hidupnya yang lebih penting daripada aku. Aku tentu saja tiada bisa mencegahnya. Maka itu aku selalu melihat kawan dekat sebagai ancaman; seorang yang akan pergi meninggalkanku untuk mengurus hidupnya.
Sempat aku berpikir barangkali Tuhan tidak menuliskan namaku dan sebuah nama lain untuk ada di satu halaman yang sama dan sama sama dapat berbagi makanan di atas meja bersama. Sempat juga aku berpikir barangkali Tuhan mengutukku karena satu-dua dosa yang telah kuperbuat. Tapi aku percaya Tuhan tidak sejahat itu untuk mengecualikanku mendapatkan kasih sebab Ia Mahakasih dan Mahacinta.
Rasa-rasanya hidup makin rumit dan sulit. Keinginan untuk bisa senang merasakan dan merayakan makanan di atas meja bersama seseorang makin meningkat. Itulah sebabnya aku sering ketakutan mendaki tangga hidup. Banyak orang bilang bahwa di atas sana rasanya sepi dan kosong. Ah, untuk apa aku menaiki tangga hidup jika di tempatku berdiri sekarang ini saja rasanya sepi dan kosong. Tiada yang bisa diajak makan di atas meja makan yang sama dan bertukar cerita.
Bertarak tidaklah mudah; setidaknya tidak semudah membuat seorang di kepala agar aku dapat membuat tipuan rasa untukku sendiri.
Barangkali bertarak akan lebih mudah jika aku tiada pernah tahu bagaimana rasanya mengisi perut dengan percakapan, pertukaran pikiran, saling berkelana ke ruang waktu masing-masing —meski hanya aku saja yang menghabiskan setengah piring makanan yang disajikan di depan kami. Aku tiada pernah ingin bergegas segera melahap makanan apapun yang ada di depan mata, tapi aku juga tiada lagi bisa lebih lama membohongi diriku sendiri.
Tuesday, August 12, 2025
Memori Usang
Saturday, July 6, 2024
Surat Cinta
Kalau aku diberi pilihan terlahir menjadi siapa, aku akan tetap memilihmu. Aku akan tetap memilih hidup kita.
Kamu punya mata yang indah. Bulu matamu yang lebat itu membingkai indah matamu yang cemerlang. Alismu pun juga lebat—meski hanya bagian depannya saja. Aku suka hasil dari alis yang kamu rapikan sendiri.
Mata itu cocok dengan senyummu yang menawan—cerita cinta masih akan datang, kata Sinikini. Ah, kamu menangis pun tidak mengurangi estetika keindahan sorot matamu.
Aku suka hidungmu. Besaarrr. Daya pikat yang sering tak kamu sadari pada lawan jenis. Eit, bukan besar, deng. Lebar dan pesek. Kalau pakai kacamata suka melorot.
Jangan lupa, kamu juga punya rambut hitam lebat yang indah. Cuma ini standar kecantikan yang kamu punya. Jaga baik-baik karena mukamu jerawatan dan warna kulitmu belang. Tapi aku tak masalah dengan kekurangan ini. Toh kamu punya mata, senyum, dan rambut yang indah.
Kita belum bisa beli sepatu baru untuk jalan terjal di depan dan tas baru untuk membawa beban-beban baru. Untuk itu lah, Tuhan beri kamu betis yang besar dan pundak yang bidang. Banggakanlah!! Sebab betismu membuatmu berdikari, pundakmu membuatmu kuat sendiri.
Selain hal-hal yang bisa dilihat, aku juga suka pada hal-hal yang tak mudah orang lihat: hati dan isi kepalamu.
Kita sering protes kepada dunia mengapa kita diberi hati yang mudah berempati, sedangkan kau belum temui manusia yang bisa berempati pada hidup kita. Namun pelan-pelan kau sadari, barangkali ini jalan ninja yang harus dihadapi agar kau punya ketangguhan diri.
Soal isi kepalamu...sampai hari ini pun aku belum paham betul; bagaimana mungkin kekeuh dengan kau punya caramu sendiri dalam hadapi hidup?? Tak kau indahkan petuah dari kanan dan kiri. Maumu keras seperti batu.
Kita pun sering tak habis pikir; dari mana ide-ide cara pemecahan masalah hidup yang keluar dari kepalamu?? Bahkan kamu bisa memilah dan memilih cara yang benar dan cara yang salah. Dari hanya membaca dan belajar menulis fiksi?? Aneh.
Kamu juga menciptakan tokoh imajinasi yang sangat kompleks dan bisa membuatmu berjalan sejauh ini.
Belum lagi kemampuanmu untuk melihat diri sendiri dari sudut pandang ketiga. Kamu memanggil dirimu dengan sebutan 'dia' agar kamu bisa berempati dan obyektif dengan diri sendiri.
Ada di buku panduan mana itu?
Tulisan ini pun kamu buat karena kamu sedang haus afeksi, butuh afirmasi, kantong cintamu butuh diisi, dan kamu merasa bertanggung jawab dengan dirimu sendiri.
Lalu kamu berkaca dan menulis tulisan di atas untuk dibaca.
Dasar, punya kepala kok ngeyel & ngayal.
Jadi, dengan segala kecanggihan dan kehebatan yang ada pada diri ini, aku hendak sampaikan:
Tiada mengapa tak hari ini. Bisa lain hari.
Mari,
Kita usahakan hal yang diingin dan di angan itu.