Monday, June 1, 2026

Saudara Kembar Kedua Adikku

Kalau bisa kubunuh kedua adikku, barangkali akan aku bunuh mereka. Sebab dengan keberadaan mereka, hidupku terasa sengsara dan dipenuhi kesakitan. Aku masih ingin hidup lebih lama. Maka, aku pikir, membunuh adikku adalah salah satu cara yang tepat untuk menghilangkan rasa sakitku.

Kedua adikku laki-laki. Tentu saja dengan jenis kelamin itu, kehidupan mereka ke depan akan jauh lebih mudah daripada aku yang perempuan ini. Apalagi mereka tidak akan mewarisi trauma dari ibuku. Aku yakin, mereka tidak pernah mendengar banyak cerita tentang bagaimana menjadi ibu. Aku pernah. Sering.

Kedua adikku lahir dengan kembarannya masing-masing: kesusahan yang tersampir di pundak kanan dan kiriku. Adikku yang pertama lahir dengan wajah yang tampan. Semua orang mudah terpikat oleh parasnya. Belum lagi ibu selalu menggadang-gadang kalau kehadiran ia adalah oase di tengah gurun; ketika seluruh keluarga besar hanya memiliki anak perempuan, ia lahir. Belum dua tahun, adik keduaku lahir. Aku rasa kedua orang tuaku sengaja memberikan dua adik—bersama kembarannya: kesusahan— untuk mengimbangi pundak kanan dan kiriku.

Karenanya, aku seperti harus mengorbankan masa SMAku. Aku harus masuk SMK dan digadang-gadang harus membantu perekonomian orang tua. Rasanya selalu ada beban ekonomi yang aku bawa sejak ia hadir. Dengan aku masuk SMK, rasa-rasanya ada banyak sekali kesempatan yang aku lewatkan. Kedua adikku dengan mudahnya diperbolehkan masuk SMA dan rasa-rasanya mereka mendapat kesempatan yang lebih banyak. Praktisnya, mereka tidak pernah menerima narasi tentang kesusahan ekonomi yang orang tuaku tanggung.

Sepanjang hidup aku terus mengungkit betapa aku sungguh terbebani, tapi tiada yang acuh. Setiap kali aku menyuarakan ada perlakuan tidak adil antara aku dan adik-adikku, aku selalu disuruh melihat ke masa lalu: ada berapa keberuntungan yang aku terima jauh sebelum adik-adikku lahir. Aku ingin menyangkalnya:

  1. Justru karena adik-adikku lahir, aku kehilangan segala keberuntungan dan kebaikan itu; dan
  2. Apa tidak pernah terpikir untuk memperhitungkan betapa di masa depan nanti, adik-adikku akan lebih banyak memiliki keuntungan hidup hanya karena mereka laki-laki?

Aku telah mencoba memahami banyak hal. Lalu siapa yang memahamiku? Adakah yang mendengar dengan saksama apa yang aku rasakan? Telah aku coba mencari hal baik yang telah terjadi. Tapi rasanya percuma dan sia-sia jika saudara kembar kedua adikku yang tersampir di kedua pundakku yang selama lebih dari 28 tahun ini tidak dianggap keberadaannya.

Sungguh, sejatinya aku tidak benar-benar ingin membunuhnya. Aku masih punya akal sehat. Itu hanya kiasan—ah, begini saja banyak yang tidak paham, memang tiada yang mau mencoba memahamiku. Aku hanya ingin meniadakannya. Bayangkan, jika kedua adikku tidak ada, barangkali kesusahan tidak sudi tersampir di bahuku. Meski tetap saja ada kesusahan lain yang hadir, setidaknya ia bukan saudara kembar adik-adikku.

Maka sebaiknya aku bunuh saja adik-adikku. Barangkali jika mereka tiada, saudara kembar mereka ikut pergi.

No comments:

Post a Comment