Saturday, September 5, 2026

Kelana Kali Ini

Telah aku temui banyak Kelana pada tiap-tiap perjalananku. Sebab akulah stasiun, bandara, terminal, atau barangkali pelabuhan; tempat orang-orang hanya menghabiskan hidupnya paling banyak semalam lalu berpindah ke tempat tuju berikutnya.

Aku pernah bertemu dengan Kelana yang setiap kali ia ke daerah-daerah, ia selalu mengoleh-olehkan kosakata baru dari daerah tersebut. Kelana yang lain pernah memberikanku biji kopi tiap kali pergi ke dataran lainyang sampai hari ini aku tak sempat menggiling dan menyeduhnya. Pernah juga aku temui Kelana yang nama ibunya adalah 'Pertiwi', dan ia selalu membanggakan kalau rumahnya di Indonesia dan ibunya adalah Ibu Pertiwi.

Kelana-kelana selalu fasih bercerita tentang kota-kota yang ia datangi. Telingaku seperti diajaknya serta melihat hal-hal yang pernah ia lihat: orang-orangnya, budayanya, tata kotanya, makanannya, cuacanya, arsitekturnya, dan banyak hal lain. Dari kepalanya, aku seperti mengembara tanpa perlu membayar akomodasi dan waktu. Cukup diam, mendengarkan, dan memastikan fakta-fakta yang pernah aku baca dan lihat di tempat lain. Itulah kenapa, membuka hati untuk Kelana-Kelana selalu lebih mudah untukku.

Beberapa bulan lalu, aku temui lagi seorang Kelana. Ia tak ada bedanya seperti Kelana-Kelana yang pernah aku temui: kulitnya hitam legam, ceritanya selalu mengenyangkan perutku, obrolan kami mengalir deras seperti air sungai yang bermuara ke lautan.

Sepanjang obrolan kami, aku yakin sekali kalau Kelana kali ini tak akan jauh berbeda dengan Kelana-Kelana yang pernah aku jumpai. Bertemu dengan Kelana kali ini rasanya seperti menegaskan bahwa ia pasti terus ingin bertualang dan tak ingin lama menetap. Setidaknya, begitu yang aku alami pada dua-tiga Kelana yang pernah aku jumpai.

Lalu suatu malam, ia berujar, berujar, "Aku tak pernah lama tinggal di satu kota. Bulan depan aku pindah ke Ternate. Entah akan balik entah tidak."

Tertebak. Ternyata, sejauh-jauh aku dapat mengembara menyusuri isi kepalanya, pada akhirnya ia lebih jauh dari jangkauan yang aku kira. Lalu sampailah aku pada waktu ketika stasiun, bandara, terminal, atau barangkali pelabuhan tak ada lagi orang yang bertandang.

Ada muncul ketakutan untuk menerima orang baru. Barangkali hari-hari depan akan tidak banyak orang yang bertandang dan pergi. Tapi stasiun, bandara, terminal, dan pelabuhan ini masih berfungsi meski nampak tutup.

No comments:

Post a Comment