Sudah bulan Juni, dan kau sedang jauh.
I miss you already. Ah, gak seru. Belum apa-apa udah spoiler. Tapi gak apa. Ketimbang kayak surat cinta sebelah yang baru dibaca 2,5 tahun kemudian?
Aku bingung harus memulai dari mana. Tapi ini adalah perasaan yang tiba-tiba saja muncul siang ini. Kau tahu, kan, kalau aku tak pandai menyimpan perasaan lama-lama? Selalu meledak-ledak. Rinduku padamu pun. Terdengar picisan atau klise. Terserah kau memberi kesimpulan seperti apa. Yang penting, aku sudah rindu.
Sementara aku menyusun hal-hal apa saja padamu yang membuatku rindu, biarkan aku mengutarakan hal ini di awal surat. Kalimat yang selalu ingin aku utarakan tapi sayangnya tak tahu kepada siapa:
Baik-baik di rantau orang. Berbahasalah yang baik. Jangan lupakan bahasa kesepakatan kita. Perpisahan itu pasti, yang tak pasti adalah pertemuan. Tapi, kita sudah melewati masa pertemuan itu, kan? Semoga ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang akan kita temui. Berpisah yang betul tuh, gak pakai perayaan. Aku merayakan perpisahan kita dengan tulisan ini, sebab kau tak ingin berpisah dengan betul denganku, kan?
Sesungguhnya, semenjak awal perpindahanmu ke Pandaan kala itu sudah membuatku resah. Aku membenci jarak. Untungnya cuma jarak geografis, bukan psikologis. Seringkali ada niatan untuk berkunjung ke tempat kosmu untuk sekadar mampir. Membuatmu bahagia karena pertemuan yang tidak direncanakan. Lalu aku menginap, dan esoknya kuajak kau jalan-jalan ke Kebun Raya Purwodadi. Gelar tikar, minum susu hangat kesukaanmu, makan biskuit, baca buku, dan mengobrol tentang macam-macam seperti biasanya. Namun proposalku kepada semesta selalu terhalang dan akhirnya tidak disetujui.
Namun tak lama, kau dipindah ke Madura. Aku amat bahagia ketika tahu jarak kita hanya sebuah jembatan dan perjalanan setengah jam. Kita sering bertemu. Tapi waktu jarang kita habiskan seperti yang biasa kita lakukan: duduk berdua di warung kopi dan membicarakan tentang banyak hal.
Aku rindu pada waktu ketika Surabaya masih memilikimu. Ketika aku mulai mengajakmu ngeskrim di McD, lalu terjadi percakapan absurd kita. Mulai dari masalah agama, negara, politik, seni, musik, film, teori-teori patah hati, science, sampai ke ranah ghibah. Kita selalu menganalisis sikap seseorang berdasarkan latar belakang yang dia miliki dan dari bahasa tubuh yang tak sengaja dia sampaikan.
Aku rindu memesankanmu susu hangat tiap kali kita cangkruk di warkop atau di Mbah Cokro. Aku rindu kita saling merekomendasikan film. Ketika kutanya bagaimana premis dari film yang kau rekomendasikan, kau menceritakan semuanya sampai ending! Dasar Mother of Spoiler!
Percakapan paling ekstrim yang aku ingat adalah sepulang karaoke pukul 2 pagi. Aku menginap di kosmu. 2 AM thoughts with you. Dan pada akhirnya kita baru tidur pukul 7 pagi. Aku lupa apa saja yang kita bicarakan. Tapi ketika itu kita sama-sama saling meladeni 2 AM thoughts masing-masing.
“If I were a boy, I would date you.” Kuucapkan kalimat ini berkali-kali. Di tengah-tengah diskusi kita, atau ketika kita sedang duduk berdua, sama-sama membaca. Kau mengangguk mengiyakan. Sayangnya kita sama-sama heterosex yang juga sama-sama jomblo.
Kau stuck sama bibir Tom Hardy, aku stuck sama pundaknya Nicholas Hoult.
We are both hopeless romantic. Sama-sama jomblo sejak kenal (awal kuliah, red), tapi punya pengalaman yang beda. “Dia itu bodo,” kalau kau ketemu cowok yang gak baca buku. Udah bodo, patriarki, masokis pula, ya gak? Ada saja pemuda yang mudah dekat denganmu, namun aku selalu stuck dengan illustrator cakep yang kutemui di Instagram.
Barangkali memang jodohmu bukan pemuda Jawa Timur atau bahkan pemuda Makassar satu itu (ea). Kalau kata Sinikini, “Senyummu masih menawan, cerita cinta masih akan datang.” Semoga di tempat barumu ini kau dapat bertemu dengan orang-orang yang dapat memenuhi hasratmu dalam bentuk apapun. Asmara, atau hanya sekadar teman diskusi kayak aku. Mari saling mendoakan untuk sama-sama saling menemukan.
Pesanku satu lagi : tak perlu minum obat perontok bulu mata agar kau dapat mengira bahwa ada yang merindukanmu. Sebab sudah ada yang merindukanmu. Aku, yang masih heran kok ada yang mau kuajak nontonin senja bahkan purnama meski mendung.
Tak perlu ulang tahun untuk membuat kejutan untukmu. Semoga surat ini tak perlu menempuh perjalanan selama 2,5 tahun untuk kau baca.
Bonus foto jaman kita masih polos. Belum kenal make up, belum berbahasa sarkastik, belum keseringan ngomong, "Logikanya dipake! Jangan kayak orang jatuh cinta ah!", belum kenal Banda Neira atau Aurora atau Keaton Henson, belum pacaran.
Love, your favorite G.
No comments:
Post a Comment