Friday, April 29, 2022

Kapan Aku Nikah?


Awal bulan Februari lalu, seorang tetangga akan melangsungkan lamaran. Sebelum hari itu tiba, salah satu sepupuku datang ke rumah. Asumsi di dalam kepalaku menggempur dengan prasangka bahwa ia akan memberikan kabar lamarannya. Lebih jauh lagi dari hari itu, aku selalu dideru desakan tentang pernikahan oleh orang tua, keluarga besar, dan orang-orang sekitar.

Sebagai perempuan yang tidak pernah membawa laki-laki ke rumah, 29 tahun menjomblo, selalu menghindari pembahasan tentang pernikahan, dan juga merasakan deruan kesepian di dalam dada, sepertinya aku harus melakukan sesuatu.

Aku memang belum pernah menjadi orang tua. Tapi yang terlintas di dalam kepalaku adalah orang tua pasti mendapat tekanan dari berbagai penjuru. Karena subyek dalam kalimat-kalimat tekanan tersebut adalah namaku, maka tentu saja tekanan tersebut selalu diteruskan kepadaku. Belum lagi aku banyak mendengar cerita-cerita tentang orang tua yang jatuh sakit karena terus memikirkan anaknya belum bisa memenuhi tekanan tersebut. Aneh rasanya jika melihat orang tuaku yang tidak pernah menggubris soal kepunyaan harta-benda orang lain tapi malah kepikiran tentang tekanan pernikahan. Sekali lagi lagi: aku harus melakukan sesuatu.

Aku harus mengomunikasikan semua yang ada di kepalaku tentang pernikahan kepada orang tua.

Tanpa berpikir panjang, sehari sebelum tetangga melangsungkan lamaran, tepat ketika saudara sepupu datang ke rumah, aku melipir ke sebuah cafe untuk merencanakan sesuatu.

Ada terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada orang tua tentang isu ini. Juga hal yang terlalu abstrak yang ada di dalam kepala yang harus aku luruskan. Belum lagi ketika aku bicara secara langsung, kemungkinan ngglambyar akan lebih besar. Sebagai sarjana Matematika dan memiliki profesi sebagai penulis, aku perlu menyelesaikan masalah ini secara sistematis dan terstruktur seperti kerangka cerita. Maka dari itu, yang ada di kepalaku adalah menyampaikannya dengan media presentasi, meniru kerangka TA/skripsi.

Di dalam presentasi ini aku memakai berbagai pendekatan; salah satunya agama. Aku juga sertakan logika-logika berpikir dan teori-teori yang akan mendukung argumenku. Beberapa hal mungkin akan terasa sangat personal bagiku, tapi tentu saja hal ini masih bisa diubah.

Sebelum aku mempresentasikan ini ke orang tuaku, aku menceritakannya ke teman-teman terdekat. Tak sedikit dari mereka yang membutuhkan cara ini. Aku juga yakin, desakan segera menikah ini tidak hanya terjadi kepadaku, tapi juga terjadi ke teman-temanku yang ‘sepantaran’ atau sedang berada di fase yang sama. Jadi, daripada harus aku pendam sendiri cara ini, ada baiknya aku sebar luaskan. Tidak semua bahan di dalam presentasi ini bisa digunakan. Setidaknya, semoga ini bisa membantumu untuk menjadi panduan merunutkan kerumitan berpikir.

Aku mengunggahnya ke Karya Karsa, sebuah Platform Apresiasi Kreator tempat fans dapat langsung mendukung kreator favorit mereka dengan kesinambungan finansial. Aku harap, dengan dipublikasikannya karya ini ke Karya Karsa, aku bisa mendapat dukungan dari teman-teman semua. Nanti, jika tak ada aral melintang, barangkali aku akan menulis buku yang aku kembangkan dari presentasi ini. Kamu bisa mengunduhnya seharga kopi. Tautan ada pada gambar dibawah ini:


Enjoy & good luck!

Monday, March 28, 2022

Menjadi Seperti yang Kau Minta


Bentuk kalimat di atas adalah salah satu contoh jajanan yang selalu aku kunyah selama bertahun-tahun. Jajan lainnya memiliki bentuk yang berbeda tapi rasanya sama: nylekit. Aku masih ingat betul kek mana bentuk kalimat-kalimat lainnya. Kurang lebih seperti ini:

“Mbok ya manut gitu lho jadi cewek.”

“Jangan terlalu mandiri, sekali-kali minta tolong ke gebetan.”

“Makanya, ta, Jun, jangan terlalu pintar. Cowok jadi minder, kan.”

“Coba deh dipikir, masa iya cowok kayak dia suka ama cara berpakaianmu yang kek gitu.”

Aku tak perlu menyebutkan konteks pembicaraan di atas. Kalau saja aku punya keberanian yang cukup, aku akan menjawab,

“Who hurt you?”

Sayangnya, aku hanya bisa diam, menahan amarah, lalu menangis di belakang mereka.

Aku sering mendengar komentar-komentar dari teman tentang mengubah diri sendiri untuk menarik lawan jenis(ya, aku berbicara perkara heteronormatif karena kupikir permasalah non-binary, ekspresi gender, dan hal-hal non-heteronormatif lainnya masih terlalu jauh untuk aku bicarakan—dan mereka tangkap). Aku pernah mengubahnya. Aku pernah mengubah diriku untuk menarik lawan jenis. Tahu apa yang terjadi? Pasangan tetap saja tidak kudapatkan dan aku kelelahan karena kehilangan diri sendiri.

Aku senang mengevaluasi diri. Aku senang mendengar masukan-masukan tentang diri. Aku akan mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik, yang tidak menyakiti manusia lainnya. Tapi tentu saja tidak untuk meminta lawan jenis agar tertarik denganku.

Aku akan menjadi manusia yang manut kalau aku tidak tahu apa-apa dan argumen lawan bicaraku adalah benar. Aku akan merendahkan hati untuk meminta tolong jika aku menghadapi sesuatu di luar kemampuanku. Aku akan menjadi bodoh ketika aku sedang belajar agar aku bisa menyerap banyak ilmu. Aku akan mengubah cara berpakaianku jika pakaianku tidak sesuai dengan kondisi dan acara.

Aku bingung, kenapa perempuan harus mengubah hal-hal yang dimilikinya untuk memenuhi ego dan ekspektasi lawan jenis agar perempuan bisa ‘dipilih’ oleh lawan jenis?

Selama ini kita selalu dicekoki tentang perempuan di dalam media yang sering dinarasikan lemah lembut, cantik luar dalam, bertutur halus, penurut, berambut panjang, berkulit putih, dan lain-lain. Kini, standar kecantikan bergeser. Media sosial dan brand-brand kecantikan berlomba-lomba untuk menciptakan narasi baru soal kecantikan. Bahwa cantik tak harus berkulit putih, berambut hitam legam panjang, atau memiliki warna kulit rata nan halus tak berpori. 

Kalau kita setuju bahwa perempuan memiliki definisi cantiknya masing-masing, harusnya kita juga bisa belajar setuju bahwa perempuan bisa menarik dengan caranya masing-masing.

Aku bahagia dengan diri sendiri. Aku bahagia dan senang karena aku adalah perempuan yang ngeyelan, keras kepala, mandiri, dan ambisius. Sifat ini akan terus aku pertahankan. Karena inilah caraku untuk bisa jujur dengan diri sendiri. Menurutku, sifat-sifat yang aku miliki ini membuat laki-laki yang suka berkuasa atas perempuan dah auto terseleksi oleh alam. Aku bersyukur karena aku tak perlu menghabiskan tenaga untuk melakukan screening ke laki-laki seperti itu.

Satu lagi: aku yakin, laki-laki yang menjadi ‘target pasar’-ku adalah laki-laki yang suka ama perempuan yang bisa diajak mikir dan bekerja sama agar nantinya kami bisa berjalan bersama.

Sori dori mori nih ye aku gak sesuai ekspektasi. Yaelah, apa sih yang diekspektasikan dari seseorang yang namanya Juni tapi lahirnya Maret?

Monday, December 20, 2021

Meradang Menerjang

Kemarin Sabtu, dalam perjalananku menuju ke psikolog, aku belajar sesuatu dari sebuah kejadian. Kupikir, kejadian ini perlu ceritakan dan rekam. Sebab, barangkali bisa untuk menjadi pengingat buatku. 

Di dalam perjalanan kemarin, aku berangkat dengan dengan menaiki motor. Di tengah perjalanan, aku sempat berhenti di salah satu pertigaan karena lampu lalu lintas menyala merah. Namun aku mendengar klakson berbunyi dan beberapa kendaraan di belakangku menyalip untuk terus maju. Aku bertanya, apakah aku melakukan kesalahan? Lalu aku mengecek posisiku.

Pertigaan ini datang dari tiga arah: dari arahku, dari arah berlawanan, dan dari arah sebelah kananku. Dari arahku, ada penanda yang melarang kendaraan untuk belok kanan dan putar balik. Kendaraan-kendaraan yang searang denganku hanya bisa lurus. Maka, lampu merah yang menyala untuk kendaraan-kendaraan yang searah denganku tentu saja fungsinya hanya untuk menghentikan kami. Argumen ini mutlak.

Aku benar dan orang-orang yang tidak berhenti adalah salah. 

Ketika aku memilih untuk berhenti di tengah-tengah kendaraan yang terus melaju, aku masih saja dihantui pertanyaan, "Apakah aku salah?" Aku juga terus mempertanyakan posisiku dengan mengecek argumen-argumen di sekelilingku.

Peristiwa ini membuatku berpikir; ternyata, meski aku melakukan hal yang benar, di tengah orang-orang yang melakukan kesalahan, aku akan tetap merasa bersalah dan terus mempertanyakan sikapku.

Aku tentu saja tidak punya daya dan upaya untuk melarang mereka terus melaju. Namun, bukan berarti bertahan menjadi hal yang mudah. Aku harus bermusuhan dengan diri sendiri untuk tetap teguh dan yakin.

Barangkali ini menjadi pengingat buatku: untuk memiliki keteguhan hati dan ketangguhan kaki untuk terus bertahan di jalan yang aku yakini benar. Ini adalah perlawananku. Seperti pada puisi Chairil yang belakangan aku kumandangkan untukku sendiri:

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari...
Hingga hilang pedih peri
Dan aku lebih tidak peduli
Aku ingin hidup seribu tahun lagi

Menjadi jujur di tengah-tengah pendusta, menjadi berani dan lantang di tengah-tengah penindasan, atau menjadi bineka di tengah-tengah kebineran adalah sebentuk perlawanan.


Friday, December 17, 2021

Mencuri Dengar

Seorang penjual cilor berkata kepada salah satu pembelinya sambil mengecek bara api dan membereskan dapur kecilnya, "Lek sepi tergantung ambe dodolane. Lek dodolane dewe yo sante ae. Nek melu wong liyo sing rodok medeni. Soale, lek gak laris iso diganti."

Diam sejenak.

Ia kembali bertanya, "Pedes, Mbak?" Si pembeli mengiyakan.

Sambil menunggu gorengannya matang, sambil mengelap tangannya ke serbet, si penjual melanjutkan kalimatnya, "Nek ndodoli dagangane wong liyo trus gak payu, bose nyoba ganti karyawane. Wah arek iki gak ngerejekeni. Pas diganti, eh lha kok rame. Wah arek iki ngerejekeni. Nek dodolan dodolane dewe kan sepi rame..."

Seorang pedagang lain datang memanggil ke arah gerobak cilor, "Mbak Tako, onok sing tuku."

Pembeli menoleh.

Pedagang cilor berkata kepada pembelinya tadi, "Didoli sek, engko tak terno."

Pembeli tadi meninggalkan gerobak pedagang cilor, menyeberang, dan menghampiri gerobak takoyakinya.

*

Bagiku, mencuri dengar percakapan orang asing tentang hidup mereka sangatlah menyenangkan. Aku bisa mendengar suara yang jujur. Aku bisa mencoba sepatu mereka. Aku selalu merasa kaya. Bukan karena materi, melainkan karena aku telah mendapatkan pengalaman hidup dari orang asing hanya dengan mencuri dengar tanpa membuat orang asing tersebut kehilangan.

Sebelum pandemi, aku sering melakukan ini. Aku yakin, makan adalah salah satu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah hidup. Maka itu, aku sering menyasar tempat-tempat makan atau penjual jajan yang memiliki antrian yang panjang. Aku sering makan sendirian di warung penyetan agar bisa fokus mendengarkan orang-orang di sekitarku membicarakan hidupnya. Aku sering tiba-tiba belok beli jajan pinggir jalan untuk menangkap peristiwa-peristiwa kecil yang berharga.

Aku juga sering nonton wayang kulit, wayang orang, ketoprak, ludruk, dan kesenian tradisional lainnya. Memakai baju gelap dan celana belel. Aku juga pernah sekali dua kali ke pasar malam. Namun bagiku, pasar malam terlalu terang untukku bisa bersembunyi. Aku tak suka jika keberadaanku diketahui. 

Aku ingin lebih banyak memotret dan mencuri dengar suara-suara penting.

Namun ketika pandemi berlangsung, aku seperti kehilangan kemampuan ini. Aku seperti kehilangan kemampuan bersosialku. Aku seperti kehilangan kemampuanku untuk bertemu dengan manusia secara langsung. Padahal aku rindu menjadi pencuri dengar. Padahal suara-suara itu penting bagiku.

Dalam angan-anganku, aku bisa lebih berani ke tempat-tempat yang berisi suara-suara itu. Tentu saja untuk mengubah magak-karyaku menjadi mahakarya. Untuk menulis, aku tak hanya butuh membaca. Aku juga butuh mendengar.

Friday, October 8, 2021

Lima Pertemuan dengan Gunawan Maryanto

"Gunawan Maryanto meninggal, kata Diah."

Sebuah pesan singkat masuk di WhatsApp dari mbak Nabila malam (05/10) kemarin. Aku tentu tercengang. Bingung dan tidak percaya campur jadi satu. Aku hanya mampu membalas dengan emoji patah hati. Lalu tangan menelusur ke sosial media orang-orang terdekat Gunawan Maryanto untuk mencari kebenaran kabar. Belum ada tersiar kabar. Tapi betul, hatiku sungguh patah.

Aku menelusur kolom pencarian di Twitter: Gunawan Maryanto. Memang benar adanya, mas Cindhil telah berpulang. Aku menangis. Hatiku patah tak keruan. Aku kembali mengingat memoar-memoar bagaimana karyanya dan aku bertemu.

Pertemuan pertama kami adalah di dalam bioskop. Aku melihat ia memerankan Widji Thukul di film Istirahatlah Kata-Kata. Ia juga memperkenalkan aku dengan sosok Widji Thukul lewat keaktorannya yang ciamik. Aku ingat, aku sempat menangis di bioskop karena melihat keindahan film tersebut. Pada hari itu aku berjanji untuk melihat karya-karya Gunawan Maryanto dan sutradaranya, Anggi Noen.

source: catchplay

Pertemuan kedua kami ada di toko buku, di sebuah buku puisi. Aku membaca puisi-puisinya. Senyum tersungging. Aku suka dengan cara bertutur dan berpikirnya. Namun sayang, aku tak bisa menebus buku puisinya karena satu-dua lain hal (aku lupa).

Pertemuan ketiga kami adalah ketika aku menonton film Mencari Hilal di layanan streaming, Hooq, Mei 2018 lalu. Ia menjadi salah seorang warga sekitar.

Juli 2018, aku hampir saja bertemu dengannya di Folk Musik Festival. Tapi sayang gak jadi berangkat karena aku tidak memenuhi janjiku sendiri bulan itu: sidang. 


 
Menengok lebih ke belakang lagi, tahun 2015 silam, aku pernah sowan ke Teater Garasi untuk ngambil backdrop putih menemani seorang teman dari Teater Gadjah Mada. Backdrop itu nantinya akan digunakan pentas teman-teman Pappermoon Puppet Theatre. Pappermoon Puppet Theater adalah pertunjukan boneka yang aku temui di internet. Aku pernah membayangkan menonton pertunjukan Papermoon Puppet, kemudian main sebentar ke Teater Garasi. Ternyata, tak disangka, ternyata kedua tempat tersebut jaraknya tidak jauh.

Pertemuan keempat kami lagi-lagi terjadi di bioskop, tepatnya ketika pemutaran film Nyai. Aku begitu girang ketika Gunawan Maryanto mengisi peran di situ. Lagi-lagi, ia mampu mencuri perhatian. Ia memerankan seorang abdi. 

source: IMDb

Begitu tahu Anggi Noen menelurkan film lagi bersama Gunawan Maryanto, aku adalah salah satu orang yang paling ingin menikmatinya. Film itu berjudul The Science of Fiction, atau dalam bahasa Indonesianya adalah Hiruk-Pikuk sang Al-Kisah. Belum lagi isu yang diangkat sangat menarik dan berkaitan erat dengan naskah teaterku yang sudah tujuh tahun ini menjadi magak-karya.

Film tersebut sempat diputar di JAFF 2019. Aku sempat ke JAFF, tapi aku tidak sempat menyaksikan film tersebut. Aku sempat lega dan senang ketika ada pengumuman bahwa TSoF akan tayang tahun 2020 di bioskop-bioskop reguler. Namun sayang, beberapa pemutaran film banyak yang tertunda karena pandemi.

Begitu tahu TSoF ditayangkan di salah satu bioskop Malang, tanpa pikir panjang aku langsung merencanakan untuk ke sana dan nonton. Sekaligus menikmati short escape.

Pertemuan ke lima kami lagi-lagi di bioskop, ketika aku menonton The Science of Fiction. Ketika menontin film TSoF, aku merinding dan menangis. Aku juga sering misuh-misuh karena melihat keaktoran Gunawan Maryanto yang luar biasa. 

Tubuh adalah modal utama seorang aktor. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengendalikan tubuh. Aku sempat menangis melihatnya tablo sambil membawa beban yang tampak berat. Aku tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana ia bisa dengan penuh mengendalikan tubuhnya. 

Aku pikir aku akan diberi kesempatan untuk ke Yogya dan melihatnya pentas, atau bertemu saja dengannya secara langsung, mengobrol basa basi dengannya, lalu berfoto. Aku pikir aku bisa bertemu dengannya kembali di bioskop lewat film-film yang dimainkannya. Aku pikir aku bisa meguru tentang keteateran, mengobrol sampai pagi, mendengar sudut pandangnya terhadap dunia. Tapi ternyata tidak.

Lima pertemuan kami memang tak pernah secara langsung. Tapi aku seperti merasakan kedekatan dengannya karena ada bidang-bidang seni yang beririsan. Mengutip kata Intan Paramaditha: 

Ia salah satu dari sedikit seniman yang bekerja secara konsisten melintasi sekat-sekat disiplin: sastra, teater, film.

Sastra, teater, dan film. Tiga bidang seni yang juga aku minati.

Sampai sekarang, sampai tulisan ini ditulis, hatiku masih patah. Aku masih menitikkan air mata ketika Melihat orang-orang masih mengenang Gunawan Maryanto lewat tulisan, postingan, atau apapun itu. Aku, yang cuma menikmati dan mengagumi karya-karyanya saja, amat sangat merasakan kehilangan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang pernah mengenal, berkarya, dan bekerja bersama.

Selamat pulang, Mas Cindhil. Sampai jumpa nanti, di kehidupan yang abadi. Terima kasih atas karya-karyamu.

Sunday, October 3, 2021

Membaca Nalar Kritis Muslimah

Hampir tiga minggu ini aku membaca Nalar Kritis Muslimah yang ditulis oleh Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. Buku ini aku dapatkan dari seorang teman, Nabila Budayana. Menurutku, ketika seseorang memberikan sebuah buku, rasanya seperti ada tanggung jawab untuk menyelesaikan dan menyebarkan apa yang aku dapatkan dari buku tersebut. 

Ulasan dan rangkuman ini aku tulis berdasarkan buku Nalar Kritis Muslimah dengan menggambungkan pengalamanku sebagai muslimah (ciye) dan pemanggilan informasi-informasi lain yang pernah aku dapatkan—entah itu diskusi atau buku lain.

*



Blurb

Islam hadir ketika perempuan belum dianggap sebagai manusia sehingga diperlakukan sebagai objek dalam sistem kehidupan. Mereka dijual dan diwariskan, baik di Jazirah Arab maupun di belahan dunia lain. Karenanya, penegasan Islam atas kemanusiaan perempuan berarti empat hal. 

Pertama, penegasan kedudukan perempuan sebagai subjek pe­nuh dalam sistem kehidupan. Kedua, sebagai sesama manusia, laki-laki dan perempuan sama-sama hanya hamba Allah Swt. dan  mengemban amanah yang sama sebagai khalifah fil ardh dengan mandat mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya di muka bumi. Ketiga, sebagai sesama subjek penuh sistem kehidupan, laki-laki dan perempuan mesti bekerja sama mewujudkan kemaslahatan, sekaligus sama-sama berhak menikmatinya, baik di dalam maupun di luar rumah. Keempat, laki-laki bukanlah standar kemaslahatan perempuan sehingga pengalaman perempuan, baik secara biologis (menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui) maupun sosial (stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda hanya karena menjadi perempuan) adalah sah untuk dipertimbangkan dalam kemaslahatan Islam meskipun tidak dialami laki-laki.

*

Keadilan Perempuan dan Posisinya

Di buku ini paling sering membahas tentang pengalaman perempuan yang tidak dialami laki-laki. Ada dua pengalaman: pengalaman biologis dan pengalaman sosial. Pengalaman biologis meliputi: menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Pengalaman sosial meliputi: stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda hanya karena menjadi perempuan.

Di buku ini juga sering dibahas bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama manusia yang menjadi hamba Allah dan memiliki peran dan tugas yang sama yaitu menjadi khalifah fil ardh, yaitu sama-sama mewujudkan kemaslahatan di muka bumi. Harusnya, laki-laki dan perempuan bisa menjadi mitra yang baik untuk memskmurkan bumi.

Namun sayangnya, segala sesuatu yang maslahat oleh laki-laki belum tentu demikian bagi perempuan. Karena laki-laki tidak memiliki lima pengalaman biologis dan lima pengalaman sosial yang akan mempengaruhi keberadaannya di bumi; tidak seperti perempuan.

Pengabaian lima pengalaman biologis dan lima pengalaman sosial bagi perempuan sering membuat perempuan menjadi kaum yang rentan dan sering mendapat ketidakadilan.

Aku jadi kebayang kalau ruang publik masih diisi oleh banyak laki-laki, sedangkan perempuan masih dibebankan dan diekspektasikan peran domestik dan dipersulit untuk mengisi peran di ruang publik. Akhirnya, kebijakan-kebijakan yang muncul hanya berdasarkan dari sudut pandang laki-laki yang menjadi mayoritas tanpa mempertimbangkan pengalaman-pengalaman perempuan yang tidak dialami laki-laki. Tentu saja ini akan tidak menguntungkan perempuan.

Maka, harusnya perempuan juga diberi kesempatan yang sama untuk bergerak dan berdaya di ruang publik agar ruang publik dengan memberikan akses-akses yang memudahkan perempuan dan membuat kebijakan dengan mempertimbangkan pengalaman perempuan. Menurutku, salah satu caranya adalah dengan tidak membebankan dan mengekspektasikan perempuan hanya ada di ranah domestik saja. Perempuan dan laki-laki harus memiliki peran yang sama di ruang publik dan domestik.


Bahasa dan Tafsir 

Sebagai orang yang memiliki ketertarikan di bidang bahasa dan pengembangannya, sangat menarik bagiku ketika penulis membahas tentang bagaimana bahasa Arab dan tafsirnya. Aku mencoba menuliskannya dengan memanggil pengalamanku ketika mencoba menerjemahkan bahasa Jawa ke bahasa Inggris.

Pertama, bahasa Arab sendiri memiliki konsep gender. Buku ini menjelaskan bahwa bahasa Arab memiliki konsep berbahasa yang ditentukan oleh konsep mudzakar (laki-laki) dan muannatz (perempuan). Setiap kata dalam bahasa Arab memiliki gender atau jenis kelamin. Di buku ini juga dijelaskan pula bagaimana relasi gender dalam bahasa Arab sangat bias. Jadi ini membuat bahasa Arab mustahil untuk menjadi bahasa yang netral gender seperti bahasa Indonesia.

Kedua, tentang pengalamanku menerjemahkan. Aku jadi ingat ketika aku sedang mencoba menerjemahkan film pendekku dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris untuk dijadikan takarir. Susah. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Bahasa tidak diterjemahkan hanya secara harfiah.
  • Dibutuhkan analisis yang mendalam terkait komponen lain dari bahasa seperti sejarah, etimologi, budaya, pengalaman, dsb.
Berdasarkan dua hal di atas, aku kini mengerti mengapa Al-Quran tetap dibaca dengan bahasa Arab. Menurutku karena Al-Quran adalah firman Allah, segala sesuatunya sudah diatur di kitab tersebut. Sedangkan manusia memiliki keterbatasan untuk menafsirkannya. Tidak sembarangan orang bisa menafsirkan ayat di Al-Quran, karena ada banyak hal yang harus dianalisis dan menjadi landasan tafsir.
Al-Quran itu dari Allah, Dzat yang Mahaadil kepada perempuan, maka mustahil memaksudkan firmannya untuk ketidakadilan bagi mereka. Namun, Al-Quran selalu disampaikan melalui pemahaman manusia yang tidak satu pun maha adil. Bahkan sering tidak adil pada perempuan.


Cara Perempuan Mengetahui

Ilmu seperti cahaya; ia menerangi kegelapan. Namun, jika cahaya langsung disorot ke mata, tentu saja akan menyilaukan dan membuat mata tak bisa melihat. 

Mary Belenky, Blythe Clinchy, Nancy Goldberger, dan Jill Tarule dari Ferris State University membuat suatu terkait mengenai hal ini. Hasilnya adalah teori Women's Ways of Knowledge. Cara perempuan mengetahui dibagi dalam lima tingkatan:

  1. Diam (silent)
    Perempuan dalam posisi ini tidak punya pilihan lain kecuali diam dan mengerjakan yang pihak lain perintahkan.
  2. Pengetahuan Terterima (Received Knowledge)
    Pada tahap ini, perempuan menghayati pengetahuan sebagai kebenaran. Segala informasi dianggapnya benar dan langsung mereproduksinya. Tidak ada proses klarifikasi, apalagi refleksi.
  3. Pengetahuan Subjektif (Subjective Knowledge)
    Perempuan mulai menghubungkan pengetahuan dengan hati dan pengalaman personalnya. Pada tahap ini pula, perempuan mulai muncul daya kritisnya.
  4. Pengetahuan Prosedural (Procedural Knowledge)
    Perempuan mulai menyandarkan pengetahuan pada prosedur objektif dan mulai mengomunikasikan pengetahuan. Dia mulai mencari pendapat lain tentang hal yang sama. Pada tahap ini, perempuan mulai tidak percaya begitu saja kepada sebuah pengetahuan dan mulai tergerak mencari sumber lain, lalu menghubungkan dan mengomunikasikan satu sama lain.
  5. Pengetahuan Kukuh (Constructed Knowledge)
    Pada tahap ini, perempuan telah berada dalam posisi pengetahuan yang kukuh karena telah melakukan verifikasi atas pengetahuan yang didapatnya. Ia memandang pengetahuan secaara konstektual. Pada tahap ini pula, perempuan telah mempunyai alasan kuat atas sebuah pengetahuan yang dipilihnya.

Tingkatan ini sangat dinamis. Seorang perempuan bisa saja memiliki banyak level pengetahuan di berbagai isu. Ada yang masih di level diam saja di satu isu, namun menjadi level 5 di isu yang lain. 

Menurutku, tingkatan perempuan dalam mengetahui ini bisa dipakai untuk tingkatan berpikir kritis dan bernalar dari berbagai aspek. Ketika berkomunikasi dengan perempuan lain, sepertinya perlu mempertimbangkan tahapan pengetahuan ini. 

Nggak mungkin mengajak perempuan yang masih ada di tahap 1,langsung diajak menjadi tingkatan berpikir no 5. Ada tingaktan proses berpikir yang harus dialami.


Kemanusiaan, Perbedaan, Keadilan, Keberagaman, Keberagamaan

Selain membahas tentang keperempuanan dan keislaman, buku ini juga membahas tentang kemanusiaan. Ada banyak sekali yang dibahas terkait dengan kemanusiaan. Perbedaan, keadilan, keberagaman, dan keberagaman. Aku jadi ingat lagunya ERK yang Kuning (Keberagaman, Keberagamaan).


Kesimpulan 

Buku ini penuh daging. Aku sadar bahwa ulasanku di atas sangat amat kurang menyajikan informasi yang ada di dalam buku. Belum lagi tentang ilmuku yang masih ecek-ecek. Saranku, sih, baca sendiri saja bukunya. Menurutku bahasa yang digunakan oleh penulis tidaklah sulit, dan penulis mampu menjabarkan dengan baik.

Tidak hanya memberikan pengetahuan baru tentang parempuan di dalam islam, ketuhanan, keberagaman, keberagamaan, dan kemanusiaan, buku ini juga secara gak langsung mengasah dan mempertajam pola pikir. Ketika membaca, aku juga memanggil beberapa informasi dan pengalaman yang pernah aku alami sebelumnya. Landasan berpikir ini nantinya dapat aku gunakan dalam menyikapi hidup

Menjadi perempuan yang berdaya dan sadar memiliki previlese membuatku ingin terus memperjuangkan hal ini; keperempuanan di ruang publik. Aku ingin memperjuangkan keadilan di dunia ini yang sepertinya hanya diciptakan untuk laki-laki. Heheskeptishehe.

Untuk menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi perempuan untuk anak-cucu-keponakan kelak, perjalanannya masih panjang dan perjuangannya masih banyak. Aku tentu saja tidak mau kembali ke zaman jahiliyah, di mana perempuan masih dianggap seperti barang. Perempuan adalah manusia yang perannya sama seperti laki-laki yang keberadaannya juga patut untuk dipertimbangkan.

Namun tetap saja. aku masih perlu lebih banyak belajar dan mengkasi agar bisa menjadi sebaik-baik manusia yang bisa menjalankan tugasnya menjadi khilafah fil ardh, menjadi muslimah yang memberikan maslahat ke sesama, dan menjadikan bumi sebagai tempat yang baik. 

*

Ternyata seru (dan susah) juga bikin ulasan seperti ini. Apalagi ditambah memanggil informasi dan pengalaman yang pernah aku dapatkan. Aku harus baca dua kali. Pembacaan pertama ya dibaca saja sambil menggarisbawahi informasi-informasi yang penting dan menarik. Pembacaan kedua dilakukan dengan dara skimming untuk mengambil informasi dan menuliskan kembali hal hal apa yang menarik.

Tak hanya membaca, proses menulisnya tak kalah menarik. Pertama, menulis kembali hal-hal yang menarik sebagai kerangka, mengingat pengalamanku dan memanggil informasi untuk memperkuat argumen yang ditulis, menulis ulang untuk merunutkan pola berpikir dan keterkaitan antar kalimat (proses paling lama), lalu membacanya ulang dan berperan sebagai editor dan pembaca.

Aku menjalani empat peran secara bergantian: pembaca buku, penulis, editor, pembaca tulisan sendiri. Wow, gilak. Sini yang bilang nulis itu gampang. 

Saturday, September 4, 2021

Untuk yang Berulang Tahun Tanggal Empat

Perayaan kelahiranmu harusnya tak dirayakan setahun sekali. Bagaimana mungkin aku memikirkan hadiah yang layak untukmu hanya sekali dalam setahun? Padahal, setiap kali aku melihat benda yang mengingatkanku padamu, aku selalu ingin memebelikan benda itu lalu akan aku berikan kepadamu. Jadi, jangan memaksaku untuk memberikanmu hadiah saat ada 'acara' penting dalam hidupmu. Semoga kamu dapat memahami hal ini.

Terima kasih. Terima kasih telah lahir dan bertahan sejauh ini. Terima kasih telah membuatku merasa berharga. Kamu tak perlu menjadi siapapun dan melakukan apapun untuk membuatku merasa berharga. Terima kasih karena sudah menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita. Kamu tak perlu membalas dengan cepat pesan-pesanku dan kamu tak perlu meminta maaf karena baru sempat membalas pesan-pesanku. Toh tak pernah ada yang membalas perasaanku. Hehe.

Terima kasih karena telah berbagi banyak hal; cerita, trauma, pengalaman, rejeki, drama, hal baik, hal buruk, dan banyak hal lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.

Aku hanya bisa memberi ini di hari ulang tahunmu. Kamu juga perlu tahu bahwa kamu berharga setiap hari. Ini adalah alasan mengapa aku tak begitu menggilai perayaan tahunan. Tapi hari ini tetap harus dirayakan.

Hari-hari ke depan nanti, kita tak perlu berusaha lebih banyak untuk mempertahankan semua yang telah terjadi. Aku tak mau menuntut banyak hal. Just be it. 

Ah, you know me. I'm a wordsmith. But now, I'm out of words. No, I'm not crying. You are. Happy birthday, I love you.