Friday, May 8, 2020

Jatuh pada Jiwa

Telah aku temui sebentuk jiwa paling indah. Betapa manusianya ia dengan segala lebih dan kurang, luka dan bahagia, nestapa dan tawa telah mengisi ceruk miliknya. Segala yang ia tak punya adalah kekayaan untuk melihat warna lain yang ia miliki.

Aku ingin memasuki raganya. Aku ingin menyusuri kepalanya dan akan membiarkan diriku tersesat. Agar aku dapat lebih lama berkenalan denan caranya memandang dunia, jalan pikirnya, bahasa yang ia kuasai, rencana-rencananya, dan segala hal rumit yang tak dapat ia urai.

Aku ingin merayakan segala duka, lara, tangis, dan nestapa yang ia paksa untuk tidur lebih lama lalu menerimanya sebagai hal yang membuatnya semakin menjadi manusia.

Aku ingin bercerita tentangnya sepanjang hari karena sebanyak itu aku telah mengagumi jiwa paling indah yang tak pernah aku temui sebelumnya.

Tuesday, March 31, 2020

Pemacu Pemicu

Gimana? Mau nulis apa ini? Niat sudah ada lho. 

Coba dikulik otaknya ya. Isinya apa? Ada siapa saja di dalam situ? Siapa yang akan memainkan cerita? 

Jika tak ada yang bermain, coba didirikan dulu taman bermainnya. Prosotan, jungkat-jungkit? Panggung pertunjukan? Waktu? Perjalanan? Peradaban baru? Apa?

Kalau masih belum ada taman bermainnya, coba bayangkan halaman kosong. Ah, ternyata halaman ini tak lagi kosong. Kau bisa menggelar apa saja di atas halaman yang sudah kau mulai ini. Bisa taman bermain, pasar malam, ruang gelap kosong yang ada di kepalamu, bait, paragraf, atau bahkan omong kosong. Tapi, kalau bisa jangan omong kosong. Orang akan abai. Kecuali kau sudah lama berkiprah mengisi halaman yang didatangi banyak orang. 

Coba renungkan kembali, apa yang cocok untuk halaman yang sudah terisi dengan 123 kata ini? Kalau sampai malam nanti tak jua bertemu dengan permainannya, kau boleh menginap sehari-dua hari. Bebas. Toh halaman ini milikmu. 

Tapi, ya, kamu harus ingat saja kalau rumput tetangga akan selalu lebih hijau. Kalau halamanmu tak kau isi sekarang, tetangga akan lebih dulu menuai rumput hijaunya.

Tuesday, March 17, 2020

Hari Depan

Sering kali aku didera ketakutan akan hari depan. Takut jika nantinya aku tak sanggup menghadapi apa yang terjadi. Takut jika nantinya tiba-tiba orang-orang tak lagi dapat mengingatku. Jika aku dihadapkan oleh hal ini, aku biasanya tidur sepagi mungkin sampai setidaknya orang rumah baru bangun. Lalu jika aku mulai terjaga, aku paksa mataku untuk kembali terpejam. Kenyataan begitu menakutkan.

Jika ini terjadi kepadaku, aku biasa menarik diri dari pertemanan, keluar dari semua grup WhatsApp, membenci semua temanku, membuktikan bagaimana jadinya jika mereka hidup tanpa aku.

Dua hari yang lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana jika aku tak pernah dilahirkan? Bagaimana jika suatu hari nanti aku tiba-tiba menghilang dari bumi dan ingatan orang-orang yang mengenalku? Adakah mereka akan lebih bahagia?

Lalu tibalah hari ini. Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Bagiku, usia 27 adalah sebuah ketakutan terbesar. Chairil Anwar dan Soe Hok Gie waat sebelum usianya 27. Hal ini yang selalu aku wanti-wanti kepada temanku untuk menyelamatkan hidupnya dalam perjalanannya menuju 27. Apakah aku sanggup bertahan sampai usiaku 27?

Barangkali aku sudah cukup bertahan sampai hari ini. Tapi, apakah aku bisa bertahan setidaknya sampai tahun depan?

Hari ini terasa sedikit menyenangkan karena doa baik yang terpanjat dari teman-teman. Panjang umur, bahagia selalu, dan dilimpahkan rezekinya. Aku berharap tak ada doa-doa tentang jodoh dan cinta. Aku pikir aku dan teman-teman sudah bosan dengan permintaan tentang hal itu. Barangkali aku harus menghentikan pertanyaan bagaimana rasanya dicintai?

Tapi jika ini adalah kesempatan terakhir, izinkan aku memohon doa ini:
Jika memang dia adalah orangnya, buat kami dekat. Jadikan ia nyala, nyata, dan nyata. Karena aku ingin merasakan dan mengerti bagaimana rasanya memberi. Aku janji akan mencintainya sebanyak yang aku bisa. 
Jika bukan ia, beri ia hidup yang lebih bahagia dari hari ini. Buat ia menjadi dewasa dan bijaksana. Pertemukan ia dengan perempuan yang dapat saling melengkapi. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga.

Hatiku telah patah berkali-kali dan remuk berkeping-keping tapi semoga ia tidak kehilangan kemampuannya untuk memaafkan dan mengikhlaskan.

Saturday, January 11, 2020

Utara

Ada derap dada tiap kali mendengarkannya berbicara. Aku percaya bahwa yang hidup dapat menyalakan degup meski nyala makin meredup. Kini aku bertemu lagi satu manusia yang tak ingin aku ceraikan nyawa dari tubuhnya lewat untaian kata yang aku buat. Tak ada metafora untuk menggantikan jiwanya jika harus aku bunuh rasanya. Kepalaku adalah orbit tempat dunianya berputar. Tapi toh dunianya tak hanya berputar untukku. Aku tak ingin menginginkannya.

Wednesday, January 1, 2020

Menuju 2020

Aku tak begitu mengingat apa saja yang terjadi pada semester pertama 2019. Ingatanku hanya ada di bulan April. Selebihnya mungkin gagal sidang, menjalani hari-hari dengan biasa saja, kesepian, dan aku menikmati masa-masa kelamku.

Patah hati, ke Solo.
Pernah aku tulis di postingan berikut(tapi sepertinya akan segera dihapus karena ada hal yang menggembirakan). Tidak bisa dibilang patah hati terbaikku. Tapi dari patah hati tersebut aku belajar memaafkan dan menemui diri sendiri di Solo.


Sidang
Setelah pernikahan sahabatku tepat di akhir semester pertama 2019, 30 Juni 2019, tiba-tiba tangan dan otak bergerak untuk segera sigap menyelesaikan tanggungan Tugas Akhir. Ditambah lagi kepala departemen dan dosen pembimbing mengancam akan mengeluarkanku jika aku tak segera maju sidang. Hari-hari yang amat berat; menyelesaikan apa yang telah aku mulai. 26 Juli 2019 akhirnya selesai sidang. 

Image
S. Mat: Sarjana Mathemaesthetic

Klub Literasi Anak
Dua sampai tiga minggu setelah sidang, tiba-tiba seseorang menghubungiku untuk menjadi pengajar di Klub Literasi Anak atas rekomendasi Hestia Istiviani. Sudah lama penasaran dengan KLA dan tiba-tiba saja ada tawaran mengajar. Kesempatan yang tak pernah terpikirkan. Betapa menyenangkannya berbagi ilmu dan pengalaman bersama teman-teman kecil tentang dunia literasi(membaca dan menulis). Di KLA juga aku belajar banyak hal dari penggagasnya dan dari teman-teman kecil.


Jakarta
Wawancara program dari BEKRAF, SCARA 2019. Pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah ibukota. Tak hanya wawancara, aku juga datang ke JILF yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki; pasar santa; POST; ketemu teman-teman; merasakan naik MRT, Trans Jakarta, dan KRL, dan banyak pengalaman seru.


Jakarta without saying its word.


SCARA 2019
Aku ingat betul baru sampai Surabaya hari Selasa pagi, badan langsung tepar. Ketika tidur, aku bermimpi kalau aku diterima dalam program SCARA 2019. Tiba tiba aku terbangun dan pukul 11 siang aku langsung mengecek surel. Alhamdulillah! Aku diterima menjadi salah satu dari 20 peserta terpilih.

Dari SCARA 2019 ini aku bertemu dengan teman-teman baru yang sefrekuensi, seru, dan menyenangkan! Salah satu pengalaman yang gak bisa aku lupakan dari SCARA adalah pertama kalinya naik pesawat dan tidur di hotel dibayarin! Haha, norak ya. Tapi untuk bisa bertemu dengan teman-teman SCARA 2019 dan dilatih oleh mentor-mentor kece adalah sebuah pengalaman yang tak disangka-sangka. Bikin pingin ikutan lagi tahun depan tapi BEKRAF sudah bubar. :(

Bersama kelompok 4: (ki-ka) Mas Chandra, Widan, aku, Kak Diva as mentor, Mba Dini, dan Koko.
Katanya mas Salman Aristo, 
"Sampai jumpa di industri!"


Wisuda
Setelah delapan tahun kuliah, akhirnya wisuda juga! Seperti janjiku kepada diriku sendiri, aku menari di acara wisudaku. Dan, aku punya dokumentasi acara wisuda di jurusan. Terima kasih, Cici!




Indonesia Menari
Entah kapan mulai berpikir untuk mengikuti ajang Indonesia Menari. Awal tahun 2019 kemarin aku memutuskan untuk ikut sanggar tari lagi, Komunitas Kuwung. Yang punya sanggar masih muda pun. Oktober kemarin dia menantang kami untuk ikut Indonesia Menari 2019 di Solo. Berbekal nekat, kami berenam berangkat termasuk dia.


Kami tak membawa piala. Karena tujuan kami bukanlah piala atau kemenangan. Tujuan kami adalah berangkat ke Solo dan mengikuti lomba. Menyenangkan sekali bisa tiba-tiba menyoret salah satu mimpi di list tanpa disangka-sangka.

Antologi Pertama
Sebelum menghitung mundur pergantian tahun, Ihdina tiba-tiba mengirimkan pesan lewat WhatsApp. Begini isinya:


Tulisanku lolos kurasi. Tulisan patah hati yang aku bahas di pembuka postingan ini aku ikutkan lomba. Tulisan dari 25 penulis yang lolos kurasi akan diterbitkan menjadi antologi. Berikut tautan pengumumannya.


*
2019 adalah tahun yang begitu tak terduga. Banyak mimpi yang tiba-tiba mewujud di tahun ini. Mimpi yang ditulis, mimpi yang diucap, bahkan mimpi yang masih dalam angan-angan. 

Di akhir tahun 2019 juga aku belajar mencintai diri sendiri, belajar menerima apa yang telah terjadi pada diriku. Semua hidup ternyata punya siasat. Ternyata benar kata orang-orang. Semua terasa mudah jika kita mampu mencintai diri sendiri. Aku lebih bisa mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh diri. Bisa menahan apa saja yang menjadi nafsu yang dulu sering aku turuti.

Desember pertengahan kemarin juga memulai projek kecil-kecilan bersama dua orang teman yang masih belum bisa aku umumkan sekarang. Nanti, ya! Kami juga tak sabar menyajikannya ke hadapan kalian.

Tahun 2019 juga mencoba berbagai kota. Surabaya, Malang bertemu dengan Ayu Utami, Jakarta untuk SCARA 2019, Solo setelah patah hati dan Indonesia Menari, Jogjakarta mengunjungi JAFF, dan Trenggalek dengan pergantian tahun.

2020 nanti aku ingin lebih mencintai diri sendiri, lebih banyak menulis, dan berkarya. Aku siap menyambut kejutan-kejutan 2020! Termasuk jatuh cinta dan patah hati.

Pergantian tahun 2020 kemarin aku memutuskan untuk menghabiskannya di Trenggalek. Membawa laptop, menulis, dan memotret. 


xx,
rah

Wednesday, September 25, 2019

Kepada Adya

Adya, kalau tulisan ini sempat kamu baca, semoga engkau dalam keadaan baik; jauh dari sakit dan mara bahaya meski pada akhirnya kamu lebih suka menantang kedua hal itu.

Ada banyak hal yang rasa-rasanya ingin aku bagi denganmu. Semuanya terasa kurang ketika aku membaginya dengan teman-temanku di sini. Rasa-rasanya aku selalu ingin membagi cerita hidupku kepadamu. Tapi sepertinya percuma, aku kini sudah habis akal dengan cara yang bagaimana lagi aku menghubungimu. Waktuku kini tak sebanyak dulu. Kenyataan telah menarikku untuk lebih bertualang. Kamu pasti senang mendengar kabar ini. Tapi, Dya, bagaimana jika yang aku butuhkan hanyalah kamu?

Adya, kupikir sudah tidak ada lagi yang harus diceritakan lagi tentang duniaku kepadamu dan tentangmu kepada dunia. Semuanya impas. Kamu sepertinya tak akan pernah tahu apa-apa tentang duniaku dan duniaku tak akan pernah mau tahu tentang keberadaanmu. Terima kasih atas sepuluh tahunnya. Semoga aku bisa mengendalikan rindu yang suka berkecamuk. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik.

Tuesday, June 11, 2019

Tentang Menunggu

Ada jiwa masa kecil yang masih tertanam padaku. Menunggu. Entah sejak mulai kapan, menunggu adalah hal yang paling menyenangkan. Apalagi jika yang ditunggu memiliki kepastian datang. 

Sejak kecil aku berkenalan dengan menunggu dari sepupuku. Tiap kali lebaran tiba, aku dan keluarga selalu hadir sehari sebelum hari raya. Sedangkan sepupuku selalu hadir pada hari kedua atau ketiga. Selama beberapa hari itu, temanku bermain hanyalah sepi. Sedang adikku selalu bermain ke sawah, sungai, dan hutan tanpa pernah mengajakku. Tapi aku ingat betul ada perasaan tidak sabar yang meletup-letup untuk bertemu dengan sepupu setahun sekali.

"Mas Ario kapan datang, Yah?" adalah pertanyaan yang selalu aku lontarkan kepada ayah karena hanya ayah yang memiliki kuasa menanyakan kepada kakaknya. Tak peduli seberapa lama aku menunggu sepupuku, ayah selalu merancang kepulangan lebih lama agar aku bisa bertemu dengan sepupuku.

Setelah dewasa, setelah kepentingan-kepentingan pribadi merenggut kami, setelah kebebasan-kebebasan pada pilihan menjadi keniscayaan, setelah memiliki ponsel pintar masing-masing, aku masih bertanya kepada ayah, "Mas Ario kapan datang, Yah?" Sampai suatu ketika ayah menjawabnya dengan, "Coba kamu tanya sendiri."

"Nggak tahu, El," begitu jawabnya setiap tahun. Kadang disertai dengan embel-embel alasan yang lebih jelas. Meski begitu, aku selalu menyisakan waktuku untuk menunggunya.

Lalu pada suatu pergantian hari, saat baju-baju telah masuk ke tas ransel bersiap untuk balik ke Surabaya, suara deru mobil hadir. Mas Ario datang. Aku memupuk kembali niat untuk langsung balik bergegas. Bisa agak siangan nanti jam 12an setelah mengobrol sekecap dua kecap dengan mas Ario. 

Namun ternyata Mas Ario datang dengan seorang perempuan. Sengaja tak aku ingat namanya. Siapa peduli? Gemuruh dendam telah aku tanam seiring tangannya menjabat tamanku. Ia merebut mas Arioku.

"Lho, pulang sekarang, El?" tanyanya

"Iya, harus mengurus berkas klien. Di sini sinyal susah," jawabku singkat. Aku lantas pamit, pergi, minta antar bapak ke terminal.

Setelah hari itu, pertemuan kami tak pernah lebih lama seperti biasanya. Tapi bodohnya, aku selalu menunggu. Meski Mas Ario selalu hadir setelah aku hadir dan pergi sebelum aku pergi.