Monday, June 1, 2026

Saudara Kembar Kedua Adikku

Kalau bisa kubunuh kedua adikku, barangkali akan aku bunuh mereka. Sebab dengan keberadaan mereka, hidupku terasa sengsara dan dipenuhi kesakitan. Aku masih ingin hidup lebih lama. Maka, aku pikir, membunuh adikku adalah salah satu cara yang tepat untuk menghilangkan rasa sakitku.

Kedua adikku laki-laki. Tentu saja dengan jenis kelamin itu, kehidupan mereka ke depan akan jauh lebih mudah daripada aku yang perempuan ini. Apalagi mereka tidak akan mewarisi trauma dari ibuku. Aku yakin, mereka tidak pernah mendengar banyak cerita tentang bagaimana menjadi ibu. Aku pernah. Sering.

Kedua adikku lahir dengan kembarannya masing-masing: kesusahan yang tersampir di pundak kanan dan kiriku. Adikku yang pertama lahir dengan wajah yang tampan. Semua orang mudah terpikat oleh parasnya. Belum lagi ibu selalu menggadang-gadang kalau kehadiran ia adalah oase di tengah gurun; ketika seluruh keluarga besar hanya memiliki anak perempuan, ia lahir. Belum dua tahun, adik keduaku lahir. Aku rasa kedua orang tuaku sengaja memberikan dua adik—bersama kembarannya: kesusahan— untuk mengimbangi pundak kanan dan kiriku.

Karenanya, aku seperti harus mengorbankan masa SMAku. Aku harus masuk SMK dan digadang-gadang harus membantu perekonomian orang tua. Rasanya selalu ada beban ekonomi yang aku bawa sejak ia hadir. Dengan aku masuk SMK, rasa-rasanya ada banyak sekali kesempatan yang aku lewatkan. Kedua adikku dengan mudahnya diperbolehkan masuk SMA dan rasa-rasanya mereka mendapat kesempatan yang lebih banyak. Praktisnya, mereka tidak pernah menerima narasi tentang kesusahan ekonomi yang orang tuaku tanggung.

Sepanjang hidup aku terus mengungkit betapa aku sungguh terbebani, tapi tiada yang acuh. Setiap kali aku menyuarakan ada perlakuan tidak adil antara aku dan adik-adikku, aku selalu disuruh melihat ke masa lalu: ada berapa keberuntungan yang aku terima jauh sebelum adik-adikku lahir. Aku ingin menyangkalnya:

  1. Justru karena adik-adikku lahir, aku kehilangan segala keberuntungan dan kebaikan itu; dan
  2. Apa tidak pernah terpikir untuk memperhitungkan betapa di masa depan nanti, adik-adikku akan lebih banyak memiliki keuntungan hidup hanya karena mereka laki-laki?

Aku telah mencoba memahami banyak hal. Lalu siapa yang memahamiku? Adakah yang mendengar dengan saksama apa yang aku rasakan? Telah aku coba mencari hal baik yang telah terjadi. Tapi rasanya percuma dan sia-sia jika saudara kembar kedua adikku yang tersampir di kedua pundakku yang selama lebih dari 28 tahun ini tidak dianggap keberadaannya.

Sungguh, sejatinya aku tidak benar-benar ingin membunuhnya. Aku masih punya akal sehat. Itu hanya kiasan—ah, begini saja banyak yang tidak paham, memang tiada yang mau mencoba memahamiku. Aku hanya ingin meniadakannya. Bayangkan, jika kedua adikku tidak ada, barangkali kesusahan tidak sudi tersampir di bahuku. Meski tetap saja ada kesusahan lain yang hadir, setidaknya ia bukan saudara kembar adik-adikku.

Maka sebaiknya aku bunuh saja adik-adikku. Barangkali jika mereka tiada, saudara kembar mereka ikut pergi.

Saturday, January 17, 2026

Di Sebuah Kota Asing yang Hanya Kita yang Tahu

Di sebuah kota asing yang hanya kita yang tahu, aku selalu melihatmu dari kejauhan melambaikan tangan dan berlari ke arahku. Tapi sekuat tenaga kau berlari, tak kunjung jua langkahmu mendekat padaku. 

Kakiku terpasung. Aku ingin mendekat, tapi tak bisa. Yang bisa aku lakukan hanya berdiri saja atau berbalik badan. Namun jika aku memejamkan mata, potongan-potongan gambar gerak berputar di kepala menampilkan sosokmu yang begitu dekat di sisiku dan kita sedang berada di tempat-tempat yang kita buat: ladang hijau, atap sebuah gedung, gedung pertunjukan, pasar malam, dan tempat-tempat lain yang hanya kita yang tahu. 

Kita telah sampai juga di tempat ini setelah percakapan-percakapan panjang tentang bagaimana kota ini dibuat hanya dari gagasan tentang ironi dari sebuah hal yang manis. Sekarang memang masih menjadi kota mati tak berpenghuni karena hanya kita yang tahu. Tapi mungkin beberapa tahun lagi, isinya tak hanya kita. 

Di antara gairah-gairah hidup yang tiba-tiba menghilang belakangan, dengan aku berada di tempat ini bersamamu, rasanya seperti ada percik api di dalam dada yang sedang mencoba menyalakan lilin. Apalagi ketika aku mencoba menghadirkan seorang-dua orang hadir di kota asing ini, aku merasakan sosokmu berada di sisiku. Api itu menyala lagi. Sepertinya hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kehadiran sosokmu di sisiku. 

Telah aku umumkan kepada kawan-kawanku tentang keberadaan kota ini. Tapi tak satu pun dari mereka mengacuhkan bualan kosongku. Tak apa. Tak jadi masalah besar. Yang paling penting adalah ketika aku berada di kota asing ini dan pelan-pelan aku isi dengan peradaban, aku bisa dapat kembali merasakan sosokmu di sisiku membicarakan bagaimana peradaban akan tumbuh di sebuah kota asing yang telah kita namai ini.

Tuesday, January 6, 2026

Anai-Anai dan Andai-Andai

Jika kesepian adalah anai-anai, maka kayu dan kertas-kertas adalah jiwa dan kenangan yang lembab karena air mata. Diam-diam anai-anai itu berkoloni dan menggerogoti kayu-kayu dan kertas-kertas.

Kratak kratak kratak. 

Jika musim hujan tiba, laron-laron berterbangan. Tandanya ada hidup lain yang tak sengaja dihidupi dan harus dibayar oleh kebinasaan. Kayu-kayu jiwa dan kenangan-kenangan yang pernah lembab karena air mata pelan pelan binasa.

Ketika satu kayu jiwa itu diketuk, rasanya kosong seperti telah habis dimakan anai-anai. Lalu tak lama kemudian, ia rapuh dan binasa, tak kuat menopang tubuh yang lain. Kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata berubah menjadi serpihan kecil tak terbaca.

Lalu kita mulai berandai-andai. Kratak kratak kratak.

Andai saja kita lebih bisa mendengar. Andai saja kita bisa lebih mengamat. Andai saja kita tahu bagaimana cara kesepian bekerja. Andai saja ada sekolah untuk bisa membasmi buta tanda.

Andai saja kita menjelma menjadi anai-anai. Barangkali kita tak pernah kesepian meski harus menjadi pekerja siang dan malam menggerogoti kayu-kayu jiwa dan kertas-kertas kenangan untuk Sang Ratu. Sebab kita lah yang bertugas untuk menggerogoti kayu jiwa dan kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata manusia.

Andai saja kita menjelma menjadi anai-anai. Hidup hanya setahun dua tahun lalu mati. Untuk Sang Ratu Kapitalis yang Berumur Panjang Hingga Puluhan Tahun. Tak perlu berpikir berhenti atau mengundur diri. Sebab jiwa dan kenangan kita tidak mati dari dalam dirong-rong kesepian.

Kratak kratak kratak.

Tapi anai-anai tak bisa berserikat. Anai-anai tak bisa memakan Sang Ratu atau menggulingkan otoritas Ratu.

Barangkali jika aku diberikan pilihan akan menjadi anai-anai atau tidak berandai-andai menjadi anai-anai, aku tetap tidak memilih keduanya. Sebab keduanya tidak jatuh cinta.

Barangkali aku akan menggerogoti tubuh kayuku sendiri dan kertas-kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata. Sambil terus hidup seperti Sang Ratu.

Kratak kratak kratak.

Thursday, November 6, 2025

Untuk G(Todi)

Bagaimana langit Adelaide? Apakah sama seperti yang digambarkan Adhitia Sofyan?

Langit Surabaya masih biru. Panas sekali. Tapi belakangan mendung dan hujan. Barangkali masih seperti yang kamu ingat delapan tahun lalu.

Beberapa tahun belakangan aku mencoba beberapa hobi baru yang tidak berkaitan dengan kamu. Bukan karena ingin melupakanmu. Tapi karena aku ingin menahan diri untuk tidak bercerita tentang banyak hal di antara kita yang beririsan itu; film klasik yang diputar di layar lebar, buku yang tokohnya mengingatkanku padamu, Jogja yang makin panas dan sangat turistik itu, buku filsafat yang aku temukan di kamar adikku, dan banyak hal lain.

Ini sungguh tidak adil. Aku menyukai hobi-hobi itu sebelum aku bertemu kamu. Lalu kini aku enggan menyentuhnya lagi karena aku takut mengingatmu dan harus menahan diri untuk menghubungimu. 

Lebih bajingan lagi, ingatanku tentangmu terputar jelas di kepala pada hobi-hobi itu: kemaja kotak-kotak dan posisi menunduk membaca buku ketika menungguku untuk bertemu di kios kopi, kepalamu yang meneleng itu dengan menyembunyikan tangan di belakang punggung ketika berhadapan dengan karya seni, mata memicing atau menutup sebelah atau mengerutkan alis ketika kameraku mengarah padamu, rona merah padam pada mukamu ketika aku menyerahkan cerita pendek buatanku tentangmu, dan lain lain lain lain.

Tapi kini belakangan aku kembali menyukai hobi hobi itu. Aku pergi berkelana, ke Jogja. Aku membaca buku lagi. Entah kenapa belakangan sensitivitas kosakataku kembali. Aku kembali menulis hal-hal kecil untuk diriku sendiri. Sepertinya aku lebih cocok menulis untuk diriku sendiri meski aku mampu menghasilkan karya-karya yang lebih besar. Aku rindu sekali menulis. Aku juga kembali suka menonton film. Baru saja aku membeli tiket terusan 3 film akhir pekan ini. Kamu tahu, Opera Jawa diputar di pembukaan JAFF tahun ini. Citizen Kane diputar di layar lebar di Jakarta. Aku ingin sekali membaca Anak Bajang Mengayun Bulan yang bercerita tentang tokoh wayang favoritmu, Karna. Bapak kini suka menonton wayang dari ponselnya kalau kamu ingin tahu kabarnya. Bulan depan ibu pensiun kalau kamu ingin tahu kabarnya. Itu saja.

Ada satu hobi baru yang sama sekali tidak mengingatkanku padamu. Hobi yang sangat sepi dan sepertinya tidak akan aku izinkan sembarangan orang masuk untuk membuatnya terasa semakin menyenangkan. Sebab yang telah terjadi adalah ketika hubungannya asing, hobinya ikut asing. Aku tidak mau hal itu terulang untuk yang ketiga kali.

Aku juga bertemu dan bercakap dengan orang-orang baru. Hal yang paling bajingan dari fase ini adalah aku selalu membandingkan mereka denganmu: ah pemikirannya tidak tajam, ah ketikannya tidak sesuai kaidah berbahasa, ah tidak mampu memantik percakapan yang menarik, ah wawasannya cetek, dan lain lain lain.

Tapi mungkin aku akan bertemu seorang yang tidak seperti kamu dan itu yang membuatku mau.

Barangkali jika nanti hatiku telah jatuh pada yang lain, aku tak mungkin bisa menulis banyak tentangnya. Biarkan ia menjadj pusat duniaku, sedangkan kamu telah menjadi pusat imajiku. Agar aku terus menulis dan punya karya. Ingat, kamu punya utang nyawa untuk satu cerita pendek yang belum selesai.

Tuesday, September 2, 2025

Bertarak

Selama bertahun-tahun aku telah membohongi diriku untuk merasakan bagaimana rasa makanan yang ingin aku rasakan dan kunyah. Aku perbuat ini kepadaku karena kala itu ingin juga merasakan apa yang orang lain rasakan, namun aku tiada punyai seorang lain untuk bertukar rasa. Maka aku buat sendiri seorang lain itu di kepala agar aku dapat pura pura tahu juga bagaimana rasanya. Ah, aku sungguh lihai membohongi diriku sendiri.

Aku pernah berhadapan dengan seseorang lain di atas meja makan. Barangkali dua hingga tiga orang dalam lima belas tahun belakang. Kami pernah bertukar cerita, berkelana ke masing-masing ruang waktu yang dituturkan. Aku selalu memakan setengah porsi makanan yang tersaji di depan mata dan menikmatinya. Namun piringnya selalu kosong. Hanya aku yang merasakan nikmat makanan yang tersaji.

Sudah kulakukan itu semua dan aku masih memandang pahit pada orang-orang yang makanannya aku inginkan itu.

Barangkali aku harus mengaku dengan jujur bahwa aku juga ingin merasakan makanan yang sama bersama seorang yang lain. Aku harus mengakui rasa kosong dan mengakuinya dengan baik dan jujur. Aku harus mengikuti ke mana perutku hendak mengarah. Aku lapar, tapi aku harus bertarak.

Aku wartakan ke banyak kawanku bahwa aku lapar. Barangkali itu dapat membantuku untuk bisa menerima rasa lapar dan kuat bertarak hingga dapat kutemukan makanan yang ingin kurasakan itu. Tapi semua orang rasanya seperti mendesakku untuk bergegas. Sedangkan aku tiada pernah merasa terburu untuk ke satu titik tuju. Tiada pernah terpikir olehku kalau semua makanan bisa dimakan atau diperuntukkan untuk aku makan. Bisa saja makanan tersebut hanya untuk aku pandang, aku hirup aromanya saja, atau hanya mengenal namanya. Aku tidak serakus itu. Aku lapar dan perutku kosong, tapi bukan berarti aku memakan semua makanan yang ada.

Memiliki kawan sebanyak ikan di laut juga tak dapat mengisi rasa kosong itu. Kawan yang cukup dekat pun tak selalu dapat mengisi rasa lapar meski mereka sering mencurahkan hati dan waktunya untuk memasakkan hidangan lezat untukku. Tapi bukan itu yang aku mau. Selain itu, kawan-kawanku bisa saja pergi mengurus hidupnya yang lebih penting daripada aku. Aku tentu saja tiada bisa mencegahnya. Maka itu aku selalu melihat kawan dekat sebagai ancaman; seorang yang akan pergi meninggalkanku untuk mengurus hidupnya. 

Sempat aku berpikir barangkali Tuhan tidak menuliskan namaku dan sebuah nama lain untuk ada di satu halaman yang sama dan sama sama dapat berbagi makanan di atas meja bersama. Sempat juga aku berpikir barangkali Tuhan mengutukku karena satu-dua dosa yang telah kuperbuat. Tapi aku percaya Tuhan tidak sejahat itu untuk mengecualikanku mendapatkan kasih sebab Ia Mahakasih dan Mahacinta.

Rasa-rasanya hidup makin rumit dan sulit. Keinginan untuk bisa senang merasakan dan merayakan makanan di atas meja bersama seseorang makin meningkat. Itulah sebabnya aku sering ketakutan mendaki tangga hidup. Banyak orang bilang bahwa di atas sana rasanya sepi dan kosong. Ah, untuk apa aku menaiki tangga hidup jika di tempatku berdiri sekarang ini saja rasanya sepi dan kosong. Tiada yang bisa diajak makan di atas meja makan yang sama dan bertukar cerita. 

Bertarak tidaklah mudah; setidaknya tidak semudah membuat seorang di kepala agar aku dapat membuat tipuan rasa untukku sendiri.

Barangkali bertarak akan lebih mudah jika aku tiada pernah tahu bagaimana rasanya mengisi perut dengan percakapan, pertukaran pikiran, saling berkelana ke ruang waktu masing-masing —meski hanya aku saja yang menghabiskan setengah piring makanan yang disajikan di depan kami. Aku tiada pernah ingin bergegas segera melahap makanan apapun yang ada di depan mata, tapi aku juga tiada lagi bisa lebih lama membohongi diriku sendiri.

Tuesday, August 12, 2025

Memori Usang


Sebuah memori usang tiba-tiba berputar di kepala. Aku pikir aku telah menyimpannya rapi dan tiada yang bisa memutarnya kembali. Aku pikir aku telah menyelesaikannya hingga tandas, hingga tak perlulah ia bermain lagi. Namun ternyata tidak. Ia kini berputar di tempat-tempat yang bukan seharusnya.

Barangkali karena belum sebulan ini aku singgah di kota kelahirannya dan tempatnya bersekolah tinggi—dua tempat yang selalu ia banggakan. Bahkan ketika bermalam di salah satunya, ia berputar lagi di dalam mimpi seperti tujuh tahun silam.

Barangkali juga ia sedang memberitakan padaku kalau ia telah sampai pada cita-citanya dahulu kepadaku: menjadi poros tumpu imaji dalam karyaku. Sebab belum ada lagi manusia yang dapat aku gubah menjadi fiksi-fiksi dan sajak kecuali ia.

Barangkali aku rindu berpikir. Sebab menaruh perasaan padanya sama artinya harus memasok pengetahuan dan mengaktifkan seluruh kerja otak agar percakapan terus bisa bergulir.

Aku memang sedang rindu menulis. Barangkali ini sebuah pertanda untuk bisa lebih rapi lagi mengarsipkan memori usang tentangnya sekaligus mewujudkan cita citanya untuk menjadi poros tumpu imaji dalam karyaku.

Agar ia tak perlu lagi berputar tiba-tiba di tempat-tempat yang harusnya menjadi memori baru. Agar aku tetap sadar bahwa ia adalah memori usang yang tidak perlu berputar kembali jika tidak diputar. Agar aku tetap bisa menulis—meski harus tentangnya.

Saturday, July 6, 2024

Surat Cinta

Kalau aku diberi pilihan terlahir menjadi siapa, aku akan tetap memilihmu. Aku akan tetap memilih hidup kita.

Kamu punya mata yang indah. Bulu matamu yang lebat itu membingkai indah matamu yang cemerlang. Alismu pun juga lebat—meski hanya bagian depannya saja. Aku suka hasil dari alis yang kamu rapikan sendiri.

Mata itu cocok dengan senyummu yang menawan—cerita cinta masih akan datang, kata Sinikini. Ah, kamu menangis pun tidak mengurangi estetika keindahan sorot matamu.

Aku suka hidungmu. Besaarrr. Daya pikat yang sering tak kamu sadari pada lawan jenis. Eit, bukan besar, deng. Lebar dan pesek. Kalau pakai kacamata suka melorot.

Jangan lupa, kamu juga punya rambut hitam lebat yang indah. Cuma ini standar kecantikan yang kamu punya. Jaga baik-baik karena mukamu jerawatan dan warna kulitmu belang. Tapi aku tak masalah dengan kekurangan ini. Toh kamu punya mata, senyum, dan rambut yang indah.

Kita belum bisa beli sepatu baru untuk jalan terjal di depan dan tas baru untuk membawa beban-beban baru. Untuk itu lah, Tuhan beri kamu betis yang besar dan pundak yang bidang. Banggakanlah!! Sebab betismu membuatmu berdikari, pundakmu membuatmu kuat sendiri.

Selain hal-hal yang bisa dilihat, aku juga suka pada hal-hal yang tak mudah orang lihat: hati dan isi kepalamu.

Kita sering protes kepada dunia mengapa kita diberi hati yang mudah berempati, sedangkan kau belum temui manusia yang bisa berempati pada hidup kita. Namun pelan-pelan kau sadari, barangkali ini jalan ninja yang harus dihadapi agar kau punya ketangguhan diri.

Soal isi kepalamu...sampai hari ini pun aku belum paham betul; bagaimana mungkin kekeuh dengan kau punya caramu sendiri dalam hadapi hidup?? Tak kau indahkan petuah dari kanan dan kiri. Maumu keras seperti batu.

Kita pun sering tak habis pikir; dari mana ide-ide cara pemecahan masalah hidup yang keluar dari kepalamu?? Bahkan kamu bisa memilah dan memilih cara yang benar dan cara yang salah. Dari hanya membaca dan belajar menulis fiksi?? Aneh.

Kamu juga menciptakan tokoh imajinasi yang sangat kompleks dan bisa membuatmu berjalan sejauh ini.

Belum lagi kemampuanmu untuk melihat diri sendiri dari sudut pandang ketiga. Kamu memanggil dirimu dengan sebutan 'dia' agar kamu bisa berempati dan obyektif dengan diri sendiri.

Ada di buku panduan mana itu?

Tulisan ini pun kamu buat karena kamu sedang haus afeksi, butuh afirmasi, kantong cintamu butuh diisi, dan kamu merasa bertanggung jawab dengan dirimu sendiri. 

Lalu kamu berkaca dan menulis tulisan di atas untuk dibaca.

Dasar, punya kepala kok ngeyel & ngayal.

Jadi, dengan segala kecanggihan dan kehebatan yang ada pada diri ini, aku hendak sampaikan:

Tiada mengapa tak hari ini. Bisa lain hari.

Mari, 

Kita usahakan hal yang diingin dan di angan itu.

Monday, March 25, 2024

Ide dan Sinikini

Setahun yang lalu, aku pulang dari psikolog dengan sebuah PR besar: sinikini. Bukan, bukan menjadi band favoritku yang hanya punya satu album itu. Tapi menjadi di sini, kini. Hari ini aku bertemu dengan sebuah pemikiran agar aku bisa lebih banyak melatih sinikini. Aku memisah diriku menjadi tiga subyek yang berbeda:

Aku, di sini, kini.
Dia, di sana, kemarin.
Siapa, di mana, entah kapan.

Ini semua bermula karena aku merasa aku lebih bisa menghargai teman-temanku daripada diriku sendiri. Aku selalu melihat teman-temanku dengan positif: pekerja keras, baik hati, logis, mudah memaafkan, dll. Akhirnya aku mencoba memandang diri sendiri dari sudut pandang ketiga.

Aku mengenalnya sejak kecil. Sejak dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan. Aku melihatnya berpikir, melakukan banyak hal, dan segala pertumbuhan yang terjadi pada dirinya. Dia orang yang gigih. Dia usahakan hal-hal yang ia ingin dapatkan. Pun sekarang masih belum banyak yang dia ketahui, dia tak henti-hentinya belajar.

Aku lebih bisa melihat diri sendiri secara obyektif ketika aku memisahkan diri sendiri menjadi dua: aku dan dia. Cara ini pernah dicoba oleh salah seoang teman. Selain bisa melihat diri sendiri secara obyektif, dia juga mengaku bisa lebih banyak menghargai dirinya sendiri.

Selain sinikini, satu PR besar dari psikologku adalah menurunkan ekspektasi. Dalam perjalanan menurunkan ekspektasi, aku mencari definisi tentang ekspektasi yang terjadi di dalam diriku. Lalu aku menemukan diriku sangat lihai dalam berpikir dan beride. 

Ide adalah hasil kerja otak. Apa yang terjadi di otak adalah ide. Aku sering mengalami jatuh cinta dengan ide tentang seseorang(we falling in love with the idea of someone). Aku sering membayangkan seseorang tersebut di dalam kepalaku menjadi sebuah ide dan inspirasi untuk tulisan-tulisanku. 

Ekspektasi adalah bagian dari ide. Aku suka membayangkan hal-hal yang belum terjadi di masa depan sebagai ekspektasi yang indah. Kekecewaan selalu terjadi ketika kenyataan berlainan dengan ekspektasi.

Nostalgia juga bagian dari ide. Bedanya, nostalgia terjadi di masa lalu. Aku suka meromantisasi hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu. Hal ini membuatku menjadi individu yang susah move on.

Ide dalam dimensi waktu

Ide–yang di dalamnya terdapat nostalgia dan memori–tidak benar-benar terjadi di depan mata. Semuanya tidak nyata. Semuanya hanya terjadi di dalam kepala. Apalagi aku suka sekali berpikir. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang aku lakukan lebih banyak menggunakan kepala: analisa, mengonsep, merancang, memikirkan ide cerita, dll. Nostalgia dan ekspektasi membuat otakku berdaya karena otakku sedang bekerja. Tapi sayangnya hal ini yang membuatku kesulitan untuk sinikini. 

Aku sudah bisa memisahkan diriku sendiri menjadi dua subyek: aku dan dia. Aku juga memisahkan dua subyek ini dengan dua dimensi waktu dan tempat yang berbeda:

Aku, di sini, kini.
Dia, di sana, kemarin.

Aku adalah orang yang aku kenal sekarang. Dia adalah orang yang pernah aku kenal.

Agaknya ada yang kurang. Ada satu subyek yang belum aku temui. Siapa? Di mana? Kapan? Maka aku melengkapinya:

Siapa, di mana, entah kapan.

Untuk bertemu dengan siapa, aku harus terus berjalan. Aku tidak bisa terus-terusan bersama dia. Suatu hari kelak, aku akan menjadi dia, aku menjadi seseorang yang pernah aku tanyakan siapa, dan akan selalu ada siapa yang tak pernah habis.

Dia, aku, dan siapa pada kemarin, hari ini, dan entah kapan.

Inilah mengapa ke-aku-an tidak pernah habis. Aku akan terus menanyakan siapa aku?

Lihatlah, betapa aku suka berpikir seperti ini. Tulisan ini ditulis karena pemikiranku. Aku yakin konsep ini pernah dipaparkan oleh ahlinya. Alih-alih mencari literatur atau artikel, aku mengonsepkan sendiri apa yang terjadi di dalam pikiranku.

Aku sendiri memahami bahwa kerja otakku sering berlebihan. Aku lebih suka berpikir daripada eksekusi. Aku harus bisa mengendalikannya dan melampiaskan ke hal-hal yang tidak melukaiku atau orang lain.

Ketika overthink, aku membaginya dalam dua overthink: (1) overthink yang harus diladeni dan perlu diuraikan lewat menulis, dan (2) overthink yang tidak perlu. Untuk overthink yang tidak perlu, aku percaya kalau otakku sedang butuh kerjaan. Aku biasanya menggunakannya untuk bermain TTS, mengerjakan soal, atau meriset tulisan.

Belakangan, ketika aku mulai beride dan berekspektasi tentang seseorang, aku memberi otakku pekerjaan dengan mengonsep cerita atau memikirkan jalan cerita. Ketika aku mulai mengungkit masa lalu yang seharusnya nggak diungkit, aku mengajak kepalaku untuk mempelajari sejarah.

*

Pekerjaan-pekerjaanku yang lebih banyak menggunakan kepala ini membuatku ingin lebih banyak menganggarkan uangku untuk pergi ke psikolog.

Saturday, February 24, 2024

Mari Kita Pergi Saja

Kita sama-sama sedang menanggung duka dan kesukaran hidup yang telah lama membebani bahu. Aku memang tiada banyak tahu seberapa berat duka yang engkau tanggung. Tapi, dari raut sayu matamu, telah dapat kubaca bahwa kau telah menahan keluh yang begitu lama.

Kalaulah bisa bebanmu kau bagi denganku, aku mau membawanya. Tiada mengapa jika aku harus membawa beban berlipat ganda. Asal kau dapat bernapas lega. Tapi sayang beban nasib selalu menempel pada tubuh masing-masing kita. Bebanmu tetap menempel padamu, dan beban hidupku pun.

Kau sering berujar bahwa kau ingin pergi saja. Jika kau pergi, aku mau ikut serta. Aku juga ingin pergi. Atau kau saja yang ikut pergi bersamaku.

Jika kau pergi bersamaku, aku akan mengajakmu ke tempat yang orang lain tiada akan pernah tahu. Tiada orang lain yang akan mau mengekor. Kita buat sendiri dunia yang tiada miliki kesukaran itu. Barangkali jika kita bisa meniadakan hukum grafitasi, mari kita tiadakan saja. Agar beban yang selalu kau bawa itu terasa lebih ringan.

Di sana, hanya akan aku dan engkau. Kita akan buat dunia yang tidak bisa melukai kita dan apa-apa yang kita inginkan bisa di depan mata. Aku tak bisa janji kau bisa menghapus duka itu. Tapi kita bisa sama-sama saling bergurau melupakan waktu sampai mata kita berair. Kurasa itu sama saja dengan air mata.

Namun, kalau kalau kau tak bisa tertawa juga, barangkali kita memang harus menangis saja. Nanti akan aku buat peraturan bahwa air mata adalah alat tukar yang paling berharga. Semakin banyak air mata yang dikumpulkan, maka akan semakin ringan langkah kaki.

Jika memang kita harus menangis selama tiga hari tiga malam untuk meringankan langkah kaki selama sehari, aku mau menangis bersamamu sepanjang tahun untuk meringankan kakimu selama empat bulan. Kalau aku bisa memberikan keringanan langkahku untukmu saja, akan kuberikan. Biarlah aku menangis sepanjang tahun, menggantikan dukamu, agar langkah kakimu terasa ringan lebih lama.

Tak perlu kau risaukan aku. Hatiku akan ringan jika melihat langkah kakimu ringan. Kalau kau bersikeras tak mau menerima upah air mataku, tak apa. Aku pakai sendiri. Tapi izinkan aku menemanimu menangis selama yang kau ingin. Meski duka tak bisa dibagi dua, aku mau ikut merasakan dukamu yang memberatkan itu.

Maka, mari kita pergi saja ke tempat itu. Mari kita menangis saja. Mari kita rasai duka berdua. Mari kita kumpulkan liter-liter air mata.

Wednesday, December 13, 2023

24fps.


Galang dihadirkan karena aku tidak sanggup menghadapi lima perasaan yang datang secara bersamaan ketika aku berusia 16 tahun: kesepian, iri, tidak diinginkan, kehilangan, dan diabaikan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalutnya perasaanku kala itu ketika harus berhadapan dengan perasaan tidak nyaman tersebut; sehingga harus membuat tokoh khayalan yang hanya hidup di kepalaku.

I was sick. Selama 14 tahun aku menipu diriku. 

Tahun kemarin, tiga belas tahun kemudian, aku mulai memberanikan diri untuk menghadapi perasaan-perasaan itu. Aku mau belajar berjalan dengan satu roda karena aku mau belajar berkompromi dengan satu roda lain yang akan menemaniku menghadapi terjalnya hidup.

Setahun ini rasanya kepayahan. Namun aku cukup mampu dan berani menghadapi satu persatu trauma yang muncul. Lalu datanglah lima hidangan itu secara berurutan: belum selesai merasakan kesepian, datanglah tidak diinginkan, lalu iri, lalu kehilangan teman sekantor, lalu terabaikan.

Aku pingin pulang. Aku pingin pulang ke rumah yang dindingnya terbuat kaos abu-abu semen dan jaket merah bata dengan lantai celana kargo krem selutut dan atap rambut acak-acak. Aku ingin pulang ke pemuda bertelinga empat dan nir-ego.

Aku datangkan ia kembali setelah satu tahun menjalani hidup dengan satu roda.

Lalu muncullah ide untuk dapat menyekapnya dalam potret dan tulisan. Sekaligus berbicara pada dunia tentang betapa sepi, sengsara, sakit, dan kosongnya aku. Apalagi sebagian besar inspirasi dan doronganku untuk menulis adalah Galang Adyatarna. Doronganku untuk mempelajari dan melakukan banyak hal juga Galang Adyatarna. Masa-masa yang membuat hidupku lebih hidup juga karena di kepalaku ada Galang Adyatarna.

Jadi aku aku akan membuat proyek tentang Galang Adytarna di Kabelegi:

24 semester, 24 jam, 24 tempat, dan 24 frame dalam 1 detik. 24fps.

Tentu saja aku skeptis dengan proyek ini.

Pertama, seperti proyek-proyek lainnya, proyek ini pasti tidak selesai karena ada proyek lain yang lebih menarik bagiku.

Kedua, kupikir aku akan sedikit gila. Ah, aku memang gila. Aku memang selalu merasa kesakitan selama 14 tahun belakangan. Aku selalu meminta tolong, namun sepertinya tidak ada yang mengindahkan. Aku selalu mencari bahasa yang tepat untuk menyampaikan segala luka dan kesakitanku lewat tulisan tapi sepertinya juga percuma.

Ah, ternyata ada 3 hal yang membuatku skeptis: tidak selesai, terlihat sakit, dan tidak ada yang akan peduli. Tapi ya, kalau dipikir-pikir, siapa tahu cara ini adalah cara yang tepat untuk mengakhiri kesakitan dan berkomunikasi dengan dunia bahwa aku sakit.

Kita lihat nanti.

Monday, October 30, 2023

FCT #1: Rencana Pmbnhn

Setiap kali aku mendengar kabar dari ibu tentang kerabat atau saudara yang akan melangsungkan lamaran atau pernikahan, dadaku seperti terbakar. Sama seperti ketika aku mendengar kabar serupa dari kawanku. Ketika mendengar kabar-kabar itu, sebenarnya aku tak benar-benar bahagia. Aku tak benar-benar ingin datang dan merayakannya. Aku ingin selalu mendoakan agar langkahnya tak mudah, hidupnya tak bahagia, dan akan selalu tersandung duka dan lara.

Ada kalimat yang selalu berhenti di tenggorokan: aku juga ingin. Aku juga ingin memiliki pasangan, melaksanakan lamaran, lalu menikah. Namun, alih-alih aku mengutarakan keinginan ini, aku lebih penasaran dengan siapa aku akan menghabiskan sisa hidupku. Untuk memenuhi rasa penasaran ini, kupikir jalan satu-satunya adalah membunuh banyak orang dan menyisakan satu orang yang akan menjadi suamiku.

Manusia-manusia pertama yang aku bunuh adalah kekasih dan mantan kekasih adik-adikku. Kalau mereka tidak memiliki kekasih atau mantan kekasih—yang kurasa tidak mungkin—, aku akan membunuh perempuan yang membuat mereka jatuh hati. Adik-adikku tidak boleh lebih dulu bahagia dariku. Ah, dunia ini sungguh tak adil. Aku telah membayar banyak hal untuk mereka, lalu mereka dengan mudahnya mendapat pasangan. Aku yang menderita, mereka yang serta merta bahagia.

Lalu manusia-manusia berikutnya yang akan aku bunuh adalah mereka yang pernah berujar kalimat-kalimat yang tak menyenangkan, kamudian membuatku terdiam lama, dan bertengger di kepala sampai saat ini. Mereka berbicara begitu mudahnya tanpa pikir panjang. Kalau aku tak mampu membunuh mereka, barangkali aku potong saja bibir atau lidahnya agar mereka tak perlu semena-mena lagi padaku. Mereka adalah yang pernah berbicara:

‌"Nikmatilah masa jomlomu." Tai anjing! Kurang menikmati bagaimana?!? Aku telah lama jomlo daripada ia. Ia yang tak kuat merasakan nikmat jomlo, sehingga menikah, lalu ternyata pernikahannya tak bahagia. Aku yakin suaminya telah mengekang geraknya dari kanan, kiri, dan tiga anak.

"Jadi perempuan jangan suka menggambar alis, terlalu berani, mandiri, pintar, bisa segalanya, dll. Nanti suamimu apa tugasnya?" Ketahuilah, manusia seperti ini adalah mereka yang tak bisa menggambar alis, tak bisa apa-apa, menggantungkan diri kepada orang lain, tak bisa bernalar logis, dan bodoh. Mereka berujar seperti ini karena mereka tak tahu bagaimana cara memuji. Sepanjang hidupnya mereka hanya menelan celaan. Kasihan sekali. Apakah harus kupotong saja telinganya agar mereka tak lagi bisa mendengar celaan dan cercaan yang menyakitkan itu?

"Menikahlah, jangan terlalu banyak menikmati hidup." Manusia seperti ini sebenarnya memiliki hidup yang tak jauh berbeda dari manusia yang pertama. Rumah tangganya tidak bahagia. Bedanya, ia ingin mengajak aku turut serta untuk merasakan nestapa yang tak kunjung usai itu. Beban yang ditanggungnya berat dan ia tidak bisa berkomunikasi dengan pasangannya. Sengsaralah hidupnya. Ah, kasihan betul.

"Kamu terlalu unik, punya cara pandang yang berbeda, ekspresif pula. Lelaki idamanmu di luar sana ada banyak. Tapi aku tak yakin apakah kamu adalah idaman mereka." Aku telah menelan kalimat serupa seperti ini selama bertahun-tahun. Sejak SMK hingga kuliah. Aku memang sudah melupakan betapa sakitnya hati ini karena terus mempertanyakan apakah aku harus mengubah diri. Tapi aku akan selalu mengingat nama mereka yang dengan entengnya mengucapkan kalimat tersebut. Barangkali ucapan mereka terbukti: tak ada laki-laki yang mengidamkanku. Barangkali mereka mudah menghasut manusia. Barangkali aku saja yang mudah terhasut oleh omongan mereka. Maka dari itu, aku bunuh saja orang-orang ini agar mereka tak menghasut laki-laki yang ternyata mengidamkanku.

‌"Jadilah seperti perempuan pada umumnya. Laki-laki tak suka perempuan seperti kamu." Tak sekali dua kali aku diminta untuk menjadi orang lain, lalu nantinya aku akan kehilangan diri sendiri. Orang-orang seperti ini sejatinya adalah tak punya jati diri. Makanya mereka bisa menjadi siapa saja agar bisa dicintai. Untuk manusia-manusia ini, barangkali aku akan penuhi permintaannya untuk menjadi orang lain. Aku akan mengelupas kulit wajah mereka dan memajangnya di etalase agar mereka bisa bergantian ingin memiliki wajah seperti apa dan menjadi siapa.

"Sudahkah kamu menyelesaikan trauma masa lalumu?" Aku sungguh betul ingin membantah apakah di KUA nanti ada tes penilaian penyelesaian masa lalu. Kalau belum 100% beres, tidak boleh menikah! Konyol, aku seperti akan menikah dengan malaikat saja yang tak punya masa lalu dan dosa. Dikiranya aku juga tak punyai kesadaran diri dan tak mampu mencintai seseorang dengan segala traumanya, lalu aku tidak diperbolehkan untuk menikah sebelum seluruh trauma yang pernah aku miliki hilang dan musnah. Orang-orang seperti ini akan aku kurung di dalam sel-sel sempit tanpa makan tanpa apa. Agar mereka bisa menjelajahi masa lalu dan masa depan, kemudian menghadapi dengan gagah segala trauma dan ketakutan yang katanya sudah mereka damaikan.

Setelah aku membuat orang orang ini tak bisa bicara lagi, atau mati, aku akan membunuh seluruh pasangan-pasangan. Pasangan suami istri, pasangan yang akan menikah, atau pasangan kekasih. Aku tak peduli umur. Seluruh manusia yang telah berpasangan akan aku bunuh. Aku mungkin bisa membunuh perempuannya saja, tapi aku tak mau merebut lelaki dari seorang perempuan lain untuk kebahagaiaanku sendiri. Aku tak mau menyakiti perempuan lain. Maka aku bunuh saja dua-duanya. Lalu, jika mereka memiliki anak, aku juga akan membunuh anak yang tak berdosa itu. Aku tak mau mereka menjadi anak yatim piatu yang terlunta tanpa orang tua. Aku tak tega.

Selanjutnya, aku akan membunuh seluruh perempuan yang tidak berpasangan. Aku tak mungkin menikahi perempuan. Kemudian setelah perempuan-perempuan ini mati, muncullah laki-laki yang melolong menangisi perempuan yang dicintainya telah tiada. Mereka akan kebingungan bagaimana menghabiskan hidup tanpa perempuan-perempuan ini. Maka aku permudah saja hidup mereka dengan membunuhnya. Agar mereka tak kesusahan lagi atau bingung bagaimana menghabiskan hidup tanpa perempuan yang dicintainya. Laki-laki yang mencintai perempuan lain juga tak akan mungkin dengan mudahnya berbelok langsung menginginkanku.

Manusia terakhir yang aku habisi adalah laki-laki yang usianya terlalu muda atau terlalu tua untukku. Aku tidak mungkin menikahi seseorang yang berusia tujuh belas tahun.

Lalu tersisalah laki-laki yang tidak memiliki pasangan dengan usia yang tak jauh berbeda denganku. Untuk mempertahankan hidupnya, mereka harus bertarung. Aku akan menyediakan banyak babak untuk mereka lewati. Modal yang mereka harus miliki hanyalah isi kepala yang kaya. Pertarungan sengit ini barangkali akan seperti acara Kuis Siapa Berani atau Rangking Satu. Mereka akan mempertaruhkan pengetahuan mereka dengan berbagai soal dan pertanyaan.

Jika kandidat sudah menipis menjadi sepuluh, tes terakhir adalah tes berkencan dengan penilaian yang sangat subyektif dariku. Kencan yang akan kami lakukan akan penuh dengan obrolan seperti tes wawancara tapi akan lebih mudah karena aku tak perlu menanyakan beberapa hal seperti: mantannya, saudara-saudaranya, atau bahkan orang tuanya. Karena barangkali mereka telah aku bunuh dan perjalanan kami ke depan tak akan lebih mudah tanpa adanya hal-hal tersebut.

Dari sepuluh kandidat ini akan aku saring lagi menjadi lima dan aku akan memilih satu laki-laki yang paling cocok denganku.

Lalu bagaimana jika sampai akhir pertarungan tak ada satu kandidat pun yang lolos? Bagaimana jika setelah membunuh laki-laki dengan usia yang terlalu muda dan terlalu tua, tak ada satu laki-laki pun yang tersisa? Tak jadi masalah. Kalau memang betul tak ada laki-laki yang tersisa, artinya memang betul tak ada laki-laki yang ditakdirkan untukku. Buktinya sudah jelas; teramat jelas.

Ketika sudah pasti tak ada laki-laki yang ditakdirkan untukku, aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan keluargaku: bapak, ibu, dan kedua adik-adikku. Tak jadi masalah jika memang aku akan menghabiskan sisa hidupku seorang diri. Toh aku sudah melakukannya selama 30 tahun ini. Kami akan merayakan pembuktian yang jelas terbukti. Kami akan habiskan sisa waktu di dunia ini dengan rasa sepi berlima. Kami akan sama-sama sengsara dan kesepian. Setidaknya tidak hanya aku yang tidak bisa menikah. Adik adikku juga. Kami akan menjadi lima manusia terakhir yang ada di bumi.

Tuesday, October 3, 2023

Untuk Nita si Petualang

Segala ingatan tentang pengalaman pertama apresiasi seni selalu tersimpan rapi di kepala. Aku tak pernah lupa bagaimana pertama kali aku menonton wayang dengan pencahayaan ublik (lentera) dan debog (pohon pisang) di Trenggalek bersama kakek di tempat mbecek (kondangan) dengan berangkat menaiki sepeda kumbang, teater pertama yang kebetulan cukup surealis di Gedung Kesenian Cak Durasim dengan kaos berkerah berwarna merah jambu, dan tentu saja film pertama di bioskop, Petualangan Sherina.

Kala itu tahun 2000 aku masih berusia tujuh tahun, kenaikan kelas 3 SD. Setelah menerima rapor dan mendapatkan hasil yang memuaskan yaitu rangking 1, aku langsung mengutarakan keinginanku: "Nonton Petualangan Sherina sekarang. Pokoknya sekarang. Titik." Bioskop dekat rumah yang menjadi tujuan adalah Mitra 21. Tiketnya masih Rp8.000 dan ngantrinya lamaa banget. Berangkat dari rumah jam 12, bersama bapak, dan kami baru dapat jadwal nonton jam 19. Ketika ditawari untuk pulang dan menunggu di rumah, aku bersikeras menolak. Akhirnya aku dan bapak mengaso di masjid belakang Mitra 21 yang sekarang menjadi satu kawasan Balai Pemuda a.k.a Alun-Alun Surabaya. Sampai hari ini, 23 tahun kemudian, ingatan dan perasaanku hari itu masih tersimpan rapi di kepala.

Sejak kecil, aku lebih suka memilih mainan pistol dan pedang. Setelah menonton Petualangan Sherina, aku jadi semakin suka dengan karakter-karakter cewek pemberani dan perkasa. Xena The Princess Warrior dan Sherina adalah karakter cewek yang aku suka sejak kecil. Petualangan Sherina memberikan efek yang luar biasa di masa kecilku. Aku tak begitu punya kenangan fisik berupa CD atau poster. Tapi di kepalaku ada ingatan yang terus berputar bagaimana inginnya aku menjadi petualang yang pemberani dan kuat. Kalau ke luar kota aku selalu ingin pakai sepatu boots, tas ransel, dan jaket bomber.

Ketika umur bertambah, aku tumbuh dengan benih-benih yang Sherina tinggalkan di filmnya: selalu bertanya, 'Kenapa sih kok...' 'Emang...' 'Kok bisa ya...' Ketika umur bertambah, sebenarnya aku juga tumbuh jadi gadis tomboy yang kadang terobsesi pakai flannel dan kaos oblong. Waktu kuliah, aku suka banget pakai celana jeans belel dan selalu merasakan kesenangan yang meletupp-letup tiap kali ada perjalanan ke luar kota. Ketika menonton sekuelnya, Petualangan Sherina 2, aku seperti diingatkan bahwa aku dulu juga sempat memiliki kepercayaan diri dan keberanian yang cukup besar. Aku pernah menjadi Nita yang tidak meragukan kemampuan dirinya. Tapi sayangnya, aku cukup pengecut untuk jadi petualang. Aku merasa aku tak ke mana-mana dan diam di tempat.

Meski hari ini aku masih menjadi Nita yang keras kepala dan ngeyelan seperti Sherina, tapi aku seperti kehilangan dan merindukan Nita yang percaya diri dan pemberani.

Awalnya aku pikir aku memang tidak pernah ke mana-mana. Aku tak pernah menjelajah panjangnya sungai Kapuas, menaiki tingginya gunung Jaya Wijaya, ke tempat paling asing, ke Banda Neira, mengunjungi suku Baduy, atau bahkan ke luar negeri melihat aurora. Aku tidak pernah merantau, ke luar pulau hanya ke Bali, liburan favorit cuma ke Solo, berkemah di alam juga baru sekali.

Aku sedih. Aku seperti tidak pernah mengajak Nita ke tempat-tempat baru yang asing namun menyenangkan. Ternyata aku cukup pengecut.

Tapi aku punya ingatan yang baik tentang bagaimana ia membawa bekal yang cukup banyak untuk menghadapi hidup. Segala pengalaman hidup yang aku hadapi adalah petualangan bagi Nita. Nita membuat hidup seperti perjalanan ke tempat-tempat.

Nita,

kita telah berpetualang jauh ke rimba raya hidup yang tak pernah kita duga. Kita punya tubuh yang luar biasa; tidak pernah mabok. Tubuh kita mampu bertahan begitu hebatnya di dalam situasi dan keadaan apapun. Naik mobil, bus ekonomi yang penuh sesak dan keringat, kereta ekonomi dengan kursi tegak selama dua belas jam, naik perahu dengan ombak yang rasanya seperti ditimang lalu tertidur. Bahkan, kita tak pernah butuh sandaran leher dan bisa mengatur tubuh untuk bisa tetap tidur di dalam perjalanan.

Kita jago membaca peta. Kita tahu bagaimana cara membaca peta topografi. Kita tahu dan paham mana letak barat, timur, utara, dan selatan. Tapi toh kita pernah juga tersesat tanpa arah dan terpaksa mengubah tujuan; tanpa ada petunjuk berupa bintang utara atau remah roti. Tapi kita selalu menemukan jalan. Kita selalu melihat peristiwa tersesat adalah sebuah petualangan untuk mengenal jalan pintas baru.

Kita pernah tenggelam di tempat paling dalam: Palung Mariana. Rasanya gelap, sepi, sendiri, dan basah. Kita pernah ada di tempat dengan malam paling panjang, penuh badai, dan tanpa matahari. Namun kita tetap saja selalu selamat dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Kita pernah bertemu dengan satu dua petualang. Petualang pertama bernama Kelana yang kemudian mengubah namanya menjadi Pak Tualang dan ia tak pernah mau pulang ke bait. Satu petualang lain adalah petualang yang cukup lama membersamai malam-malam panjang namun ternyata berbeda tujuan. Ia hendak ke Timur, kita ke Selatan. Kita tawarkan untuk ke Tenggara, namun ia menolak.

Kita pernah ke hutan beton Jakarta yang asing dan membingungkan. Ah, ternyata kita selalu mengaitkan hal-hal yang kita temui ini menjadi tempat petualangan.

Nita,

tubuh kita memang tak pernah banyak menjajaki tempat-tempat. Tapi kita tumbuh dengan membaca, dan ini yang membuat kita berpetualang melewati waktu dan tempat. Kita tumbuh dengan rasa penasaran yang tinggi, dan ini bisa membuat kita terus belajar dan berpetualang menjelajahi dunia meski raga tetap di sini-sini saja. 

Kita memang belum sampai ke puncak hidup. Tapi perjalanan yang berkelok dan sering tersesat tak tahu arah ini adalah petualangan yang tak kalah menyenangkan.

Terima kasih, ya. Aku janji, suatu hari nanti, kita akan pergi ke Indonesia Timur untuk menjadi Panitia Penerbitan Matahari, ke Kabelegi untuk residensi, atau bahkan kita akan ke tempat-tempat yang orang lain tak pernah kunjungi. Barangkali petualang-petualangan selanjutnya akan ditemani oleh petualang lain dengan tujuan yang sama. Suatu hari nanti.

*

Aku dan Nita akan terus tetap berpetualang. Aku akan biarkan ia melihat dunia ini dengan caranya sendiri. Sebab aku telah hidup bersamanya selama 30 tahun. Sampai atau tidak sampai di puncak hidup, kami akan terus berpetualang. Kami tak sabar untuk bertemu dengan hal-hal yang mengejutkan lain dalam hidup.

Sunday, January 29, 2023

Self-train

Soal belajar, aku sering tidak mengingat bagaimana caraku belajar sampai bisa mengantarkanku untuk memiliki beberapa keahlian. Di bangku sekolah, aku tidak pernah mengingat betapa tersiksanya masa-masa belajar di sekolah formal. Bahkan ketika duduk di bangku SMK yang memiliki 25 mata pelajaran, praktikum, dan kimia tiga biji, aku tidak merasa sekalipun tersiksa.

Ibu sering bercerita ke orang lain bahwa beliau tidak pernah memaksa anak-anaknya belajar. Ini benar adanya. Pernah suatu waktu di minggu-minggu UAS, ibu mengingatkan, "Besok UAS. Tidak belajar?" Aku menolak dengan alasan malas. Kata ibu, nilai jelek dan malu karena tidak naik kelas adalah urusanku. Pada akhirnya nilaiku bervariasi. 0, 20, 35, sampai 100 pernah kudapat. Ibu tak pernah marah.

Sampai suatu ketika, aku mengajar seorang murid les yang memiliki kesulitan belajar. Ia tidak mau belajar. Lalu aku bertanya pada ibu, "Bu, dulu tuh ngajarin aku baca dan tulis seperti apa?" Berkali-kali ibu menjawab tak pernah mengajari secara formal dengan duduk dan buku. Tak puas, aku mengoreknya lagi.

Ibu kemudian mengaku. Ibu mengajariku berhitung lewat kegiatan rumah sehari-hari: menghitung cabe, telor untuk bikin kue, bertanya jam, dll. Ibu juga sering membuka empat meja (satu untuk dia, satu untuk anak-anaknya) dan membuka jurnal pekerjaannya. Katanya, setelah itu, aku dan adik-adik membuka buku. Entah itu cuma membaca atau mengerjakan PR.

Aku juga mencoba mengingat bagaimana aku mempelajari belajar. Yang aku ingat, ketika sudah bisa membaca, semua hal kubaca. Baliho, iklan, brosur, stiker. Apapun. Aku mau mengenali dan membaca semua huruf tanpa peduli artinya dan salah ucap. Aku begitu antusias dengan huruf-huruf yang berjejer dan bisa dibaca lalu menghasilkan bunyi. Kebiasaan ini ternyata terpatri hingga dewasa.

Setahun lalu, aku belajar aksara Hangeul. Sekarang, setiap kali aku melihat Hangeul, aku baca. Aku tidak peduli salah tajwid dan tidak memahami artinya. Aku justru lebih senang kalau kawanku mengoreksi dan memberi masukan. Kebiasaan seperti ini ternyata juga berlaku di bidang lain seperti fotografi, tari, menulis, memasak, renang, dll. Hampir semua keahlianku tidak bermentor. Aku suka mengulik dan mempelajari semuanya sendiri. Sesekali mengikuti lokakarya, pelatihan, dan mencari teman diskusi.

Belakangan aku juga menyadari bahwa aku tidak cocok dengan metode belajar duduk dan mendengarkan. Awalnya aku merasa aneh kenapa teman-temanku suka belajar(duduk dan mendengarkan) sedangkan aku tidak. Lalu dari mana datangnya semua keahlian ini? Ternyata, aku lebih nyaman dengan metode belajar eksploratif, observasi, dan self-train.

Tapi sayangnya, metode belajarku tentu saja memiliki kekurangan. Ketika temanku memintaku untuk mengajari suatu keahlian—menulis— aku kebingungan harus dimulai dari mana. Padahal aku juga butuh mengurai step belajar menulis untuk membuat kurikulum agar apa yang aku pelajari selama ini bisa disebar dan dibagikan.

Maka dari itu, aku merasa sangat senang sekali kalau ada kawanku yang meminta masukan tulisannya dan mengajakku berdiskusi tentang tulisan. Belum lagi ternyata hal ini pelan pelan mengembalikan kepercayaan diriku untuk menulis.

Monday, December 26, 2022

Mencatat Prestasi Baru

Kata Putu Wijaya, semakin pergi orang, maka ia semakin pulang. Bagiku, pulang adalah perjalanan-perjalanan yang bertolak dari Surabaya. Inilah kenapa aku selalu merasa senang ketika harus melakukan perjalanan. Apalagi perjalanan adalah salah satu cara perjumpaan dengan diri. 

Aku selalu membawa masalah hidup ketika melakukan perjalanan. Destinasi paling utama dalam setiap perjalanan adalah bengong dan jurnaling di kafe. Meski aku melakukan perjalanan bersama orang lain, aku selalu menyempatkan waktu untuk melakukan ritual ini. Pulang dari perjalanan, tas terasa enteng. Bukan bebannya yang berkurang, tapi pundaknya yang semakin kuat. 

Namun pernah ada satu kejadian yang membuatku memutuskan bahwa perjalanan paling baik adalah perjalanan yang dilakukan sendirian.

Pertengahan tahun lalu aku melakukan perjalanan ke Semarang, menginap di salah satu kos teman komunitas. Ternyata, beberapa orang dari komunitas yang sama sedang berada di kota itu untuk melakukan perjalanan dinas. Lalu kami semua bersepakat untuk bertemu dan main bareng pada hari Sabtu malam dan Minggu. 

Seperti biasa, aku membawa masalahku yang akan aku uraikan dan bahas pada hari Senin. Aku berencana meminjam motor kawanku yang sedang bekerja untuk berkeliling kota Semarang. Namun rencana hanyalah rencana. 

Pada hari Sabtu malam, aku dan enam kawanku bertemu dan mengobrol. Kami tertawa, bercanda, dan menukar banyak cerita seperti tujuh kawan lama yang pernah terpisah. Semua berjalan menyenangkan. Hingga sampai pada hari Minggu siang, salah satu kawanku tak sengaja menyenggol beban masalah yang sudah aku sembunyikan dengan rapi. Aku meledak. 

Setelah dua jam, tangisku mereda. Setelah satu setengah tahun kemudian, yaitu hari ini, aku baru saja menyadari kalau aku tidak nyaman dengan cara mereka meredakan tangisku. "Apa yang kamu rasakan tidak benar", "Kamu tidak seharusnya (menangis) begini", "Energi yang kamu keluarkan untuk menangis tadi cukup besar, harusnya kamu bisa gunakan energi itu untuk bersenang-senang", "Liburan ini agak rusak karena kamu menangis", diplomasi lain agar aku meredakan tangisku, dan martabak asin dan manis masing-masing sekotak yang dimakan bersama denganku yang berusaha menekan tangisku.

Setelah perjalanan Semarang itu, aku bertekad untuk melakukan perjalanan demi perjalanan dengan seorang diri. Satu-satunya orang yang hanya ingin aku temui adalah diriku sendiri.

Lalu, beberapa bulan lalu, keinginan untuk berjalan lebih jauh muncul. Untuk perjalanan kota dan perjalanan hidup. Katanya, kalau mau berjalan jauh, jalannya bareng-bareng; kalau jalannya mau cepet sampe, jalannya sendirian. Aku juga tidak mau menghabiskan sisa kesempatan perjalananku dengan tergesa. Maka dari itu, aku harus melatih diriku untuk mencoba membuka diri untuk bisa melakukan perjalanan dengan teman.

Percobaan pertama tidak berakhir dengan baik. Namun aku tidak melihat perjalanan ini sebagai kegagalan. Aku justru malah menemukan dan menyadari perasaan sepi yang sudah lama aku tekan untuk kemudian aku hadapi, olah, dan selesaikan. Aku sudah menulis cerita ini, tapi masih diedit karena tidak mudah bagiku menghadapi perasaan kesepian. Maka, ketika aku siap, aku akan melakukan percobaan kedua.

Kemarin Sabtu(24/12) dan Minggu(25/12), aku baru saja menyelesaikan percoban kedua. Lagi lagi perjalanan ini tidak berakhir dengan baik namun aku menemukan hal baru di dalam diriku(masih ingat tetang tujuan perjalanan adalah pertemuan dengan diri?).

Perjalanan kali ini lebih ekstrim dari perjalanan sebelumnya. Aku dan belasan kawan lain berangkat dari Surabaya untuk berkumpul bersama di satu villa di Trawas. Aku akan bertemu dengan 25 orang asing dan tidur semalam dengan satu atap dengan mereka.

Akhir yang tidak baik itu adalah: aku kelelahan. Aku kesulitan beradaptasi. Aku lelah dengan banyaknya orang. Aku lelah dengan usahaku untuk terkoneksi dengan mereka. Ini belum pernah aku lakukan sebelumnya. Namun aku berkenalan dengan sebuah perilaku baru dariku; nanti aku ceritakan. Aku juga berkenalan dengan sebentuk cinta yang baru.

Malam hari, setelah makan malam, kami duduk ber-26 di ruang tengah untuk bermain kartu Tentang Kita. Di lingkaran ini, tidak asing bagi kami untuk membiacarakan hal hal yang pelik dan rumit. Ada tangis dan tawa ketika kami berusaha menjawab pertanyaan dari kartu Tentang Kita. Tak hanya makanan, kami juga membagi banyak peristiwa, cerita, pengalaman, dan emosi. 

Salah seorang dari kami baru saja mengalami hal yang pernah aku alami enam bulan yang lalu. Aku pernah ada di posisinya. Meski kondisi dan peristiwa kami tidak presisi, aku dapat mengerti betul apa yang ia rasakan sekaligus menjadi pendegar ceritanya. Ketika aku menguatkannya, aku seperti menguatkan diriku sendiri.

Jawaban-jawaban pertanyaan dari kartu, mendatangkan cerita lain. Kalau aku bisa menjadi lampu yang menerangi kami, aku sedang melihat ada 26 manusia yang sedang menciptakan sebuah ruang untuk bisa sama-sama saling mendengar. Sama-sama saling bersedia dan berani untuk ikut mencicipi kepahitan hidup orang lain. Sama-sama saling belajar untuk menghadapi pembicaraan tentang hal hal yang berat dan rumit. Aku mengenal sebentuk cinta yang baru.

Tentu saja peristiwa ini memiliki efek samping. Bagi aku yang memiliki perasaan yang sensitif dan mudah berempati begini, mendengarkan 25 cerita seperti sedang memeras emosi. Aku tadi sempat bilang kalau kami belajar untuk terlatih membicarakan hal-hal yang berat. Aku jarang ikut dalam forum itu. Aku suka obrolan berat. Aku bisa berjam jam bahkan sampai subuh melakukan hal ini dengan satu orang. Hanya dengan satu orang. Kalau dengan 25 orang...tenagaku rasanya diperas. 

Belum lagi aku memosisikan diri untuk mendapat tiga sudut pandang. Aku sebagai diri sendiri yang mengalami hal yang sama seperti yang dialami kawanku, aku sebagai pendengar bagian dari koloni, dan aku sebagai sudut pandang ketiga yaitu lampu ruang tengah yang melihat koloni ini.

Malamnya, aku hanya bisa tidur selama setengah jam dan pulangnya berhasil membawa oleh-oleh angin dari Trawas yang sejuk yang aku simpan di dalam tubuh. Untungnya Tanggulangin tak memperbolehkanku membawa angin tersebut ke Surabaya karena Tanggulangin adalah Tanggul Angin.

Meski berakhir ngedrop, tapi prestasi baru telah tercatat: mengizinkan diri sendiri untuk berangkat dan bermalam dengan 25 orang asing dalam satu atap.



Thursday, October 6, 2022

A Day with Adya - I

Pagi-pagi betul—tepatnya selepas subuh, Adya datang ke rumah. Seperti biasa, ia mengenakan baju dinas andalannya: kaus abu-abu lusinan, jaket butut merah marun, celana khaki selutut, tas selempang kanvas berwarna coklat, dan sandal gunung butut. 

"Pagii!" begitu sapanya dari atas sepeta butut milik pamannya dengan gigi meringis ketika aku mulai berjalan ke arahnya.

Tentu saja aku menyambutnya dengan wajah yang ditekuk karena ia menjemput terlalu pagi tidak sesuai janji. "Subuh! Masih subuh ini, Mas!"

Ia tertawa. Kali ini singkat, tidak terlalu lepas seperti biasanya. Sebab jika ia tertawa lepas, aku nanti yang kerepotan mengumpulkannya menjadi satu. Ia menyalakan mesin motornya. Aku langsung saja menaiki jok belakang motornya.

"Siap?" tanyanya. Tanpa perlu menunggu jawabanku, ia langsung melaju.

Tujuan pertama kami adalah Pantai Timur untuk melihat salah satu fenomena alam favoritnya: matahari terbit. Kebetulan semalam baru saja terjadi fenomena favoritnya yang kedua: purnama. Sehingga air laut agak sedikit naik dengan ombak yang masih pasang.

Sesampainya di Pantai Timur, langit masih gelap. Kami memutuskan untuk menelusuri tepi pantai untuk menunggu matahari terbit.

Kami berpapasan dengan nelayan yang baru saja menepi. Tanpa pamit, ia tiba-tiba saja berlari-lari kecil menuju nelayan-nelayan itu. Aku menghela napas, hapal dengan tabiatnya, lalu melanjutkan langkah kakiku setelah mengisyaratkan kepadanya kalau kalau aku akan ke tempat yang aku tunjuk. Ia mengangguk.

Aku berjalan, memilih tempat yang aman untuk duduk sambil memandang cakrawala timur dan menikmati debur ombak pasang yang bergemuruh. Sesekali aku melihat Adya dari kejauhan. Ia begitu luwes bergaul dengan bapak-bapak nelayan. Sampai tak berapa lama, ia menuju ke arahku dan…membawa segepok ikan.

Dia tak suka ikan, apalagi ikan laut. Untuk apa membawa ikan sebanyak itu?

Setelah mendekat, ia langsung menjelaskan sambil menyerahkannya kepadaku, “Untuk ibu masak di rumah. Kamu dan adik-adikmu kan suka banget ikan laut.”

Aku mengernyitkan dahi. Aku tak akan pernah mengerti bagaimana caranya berpikir. Tapi aku terima saja ikan pemberiannya sambil berucap terima kasih.

Ia duduk di sampingku, memandang langit yang sama. Kali ini benar-benar sama.

“Dya, apakah buku laksana matahari? Sebab keduanya memiliki kegiatan yang sama: terbit,” tanyaku tanpa menatapnya seperti kebiasaanku sebelumnya.

“Barangkali iya. Keduanya juga menerangi. Matahari beri cahaya, buku beri ilmu. Cahaya dan ilmu sama-sama menerangi. Terang pada ilmu tak hanya isyarat atau perumpamaan. Kamu pasti sering dengar kalimat ‘si A menerangkan hal baru kepada si B,’” terangnya panjang lebar.

“Apakah di bawah cakrawala terdapat percetakan?”

“Mungkin. Barangkali ada.” Kami diam sejenak. Lalu ia melanjutkan, “Ini kita sedang nunggu prapesan matahari, sebab matahari belum terbit, tapi kita sudah di sini.”

Kami tertawa.

Ia berujar lagi sambil menunjukkan tangannya, “Kalau matahari tinggi sedikit, bilang saja best seller. Kalau matahari sedang tepat di atas kepala kita, namanya mega best seller.“

“Di Surabaya mataharinya selalu mega best seller,” aku tiba-tiba menyahut. Kami tertawa lagi.

“Tapi ketika ia hendak tenggelam, ia menjelma manusia: renta.”

Aku menatapnya, melengkapi kalimatnya, “Lelah di mana-mana, raung klakson merengek minta pulang, apalagi?”

Ia menggeleng. “Itu kan kota. Ini matahari dan manusia.”

Aku memandangi cakrawala yang menyebarkan cahaya oranye. 

“Tak punya daya dan seakan hendak menyerah sebab cahayanya makin redup?” tanyaku dengan memandangnya lagi. Ia mengangguk.

Ia membalas tatapan mataku. “Lalu pulang. Banyak yang pulang ketika matahari hendak tenggelam atau ketika manusia telah menua.”

Pulang adalah kata yang paling sering kami ucapkan. Bagi kami, pulang tak melulu tentang rumah. Aku memandangi matanya dalam-dalam. Aku mencari-cari, menunggu argumen apa yang terlontar darinya tentang pulang kali ini.

Ia meringis, mengusap puncak ubun-ubun kepalaku. “Ngapa da dipikir? Tengok ja lah itu langitnya.”

Kami kembali memandangi langit dengan latar suara ombak. Sesekali aku memejamkan mataku, mendengarkan suara alam paling indah. 

Matahari perlahan naik merangkak. Aku memandang manusia di sebelah kananku sekali lagi. Kini ia yang memejamkan matanya. Garis-garis wajahnya begitu semakin tegas ketika diterpa cahaya lembut dari matahari pagi. Ia tersenyum, aku mengikutinya.

“Aku tak pernah melihat matahari terbit seindah ini,” kataku.

Lha yen tangimu awan terus, piye nek mu mbandingke?” tanyanya. Ya kalau bangunnya siang, gimana caramu membandingkan?

“Aku tuh bisa tauk jadi morning person. Cuma males aja nyari spot buat lihat matahari terbit,” sanggahku.

Tur ra enek sing keno dijak ndeleng ngenean isuk-isuk?” ia menegaskan. Belum lagi tidak ada yang bisa diajak lihat beginian pagi-pagi?

Lha mesti apes og. Yen ndeleng dewe i iso uapik. Mesti apik. Yen ngajak kanca, mesti zonk. Mendung. Ndeleng dewe mager, ngajak konco zonk. Kan hadeh,” protesku. Selalu apes. Kalau lihat sendiri bisa baguuus banget. Selalu bagus. Kalau ngajak temen, selalu zonk. Mendung. Lihat sendiri mager, ngajak temen zonk. Kan hadeh.

Bedjo, we, dino iki,” tiba-tiba ia menarik kesimpulan. Kamu beruntung hari ini.

“Iya. Panitia penerbitan mataharinya canggih, nih. Dah lihatnya ada temen, bagus pun. Dapat souvenir ikan segepok pula.”

“Ini belum apa-apa, Nyit.”

“Ah iya. Baru pagi, ya.”

“Huum. Baru pembukaan. Penilaian panitia diadakan nanti malam.” Ia berdiri, mengulurkan tangannya, mengajakku berdiri. “Yuk, masih ada beberapa tempat lagi yang harus kita kunjungi.”

Aku menyambut uluran tangannya dan ikut berdiri. Kami lalu berjalan menuju parkiran. Kami menaiki motor dan melaju ke destinasi selanjutnya: sarapan.

Menurut kami, pagi yang sempurna adalah pagi dengan sarapan bubur ayam. Kami tiba di salah satu tempat bubur ayam langganan.

“Mang, kayak biasanya, ya. Dua. Satu jumbo, satunya biasa. Yang jumbo pake telor, yang satu ga pake telor. Minumnya…air putih aja,” pesanku ke mamang penjual bubur ayam.

“Merica dan kecap asinnya ambil di situ, ya,” katanya sambil menunjuk botol merica dan kecap asin yang berbaris di tempat yang tidak bisa ia jangkau.

Aku tersenyum dan mengambil botol merica dan kecap asin tersebut, dan berjalan menuju kursi yang telah disiapkan Adya tak jauh dari tempatku berdiri. Ada tiga kursi. Satu kursi telah ia duduki, satu kursi sebelah kirinya untuk aku duduki, dan satu kursi di depan kami. Aku meletakkan merica dan kecap asin di atas kursi kosong tersebut.

“Nyit, nanti pulang dulu aja, ya. Karena nanti kita bakal main sampai malam, sepertinya kita butuh mandi dan memakai baju yang layak.”

“Oke.”

“Pakai baju yang belel, ya.”

“Kok ngatur? Katanya layak, kok belel?”

“Karena destinasi-destinasi kita nanti akan lebih menyenangkan kalau pakai baju belel. Dijamin, kalau kamu pake dress lalu aku pakai kemeja safari, ga bakal cocok. Layaknya ya pake baju belel.”

Aku memandangnya dengan menyipitkan mata curiga.

“Udah, percaya aja ka aku.”

Dua mangkuk bubur pesanan kami datang. Kami berdua menerima mangkuk tersebut sambil tersenyum dan berterima kasih.

“Kita mau ke mana, sih?”

Adya diam saja. Ia fokus mengaduk buburnya.

“Dya, kita kamu ke mana? Nyasar dulu? Nyasar bukan destinasi, ya.”

Ia menarik napas, meletakkan sebentar buburnya yang masih setengah teraduk. “Kali ini kita punya destinasi. Nanti aku kasih tahu. Sekarang kita makan dulu, ya.”

Aku menurut. Lagi. Kami fokus menikmati makanan kami hingga habis.

Setelah mengembalikan mangkuk dan membereskan sampah yang kami buat, kami membayar sarapan bubur kami. Kami beranjak. Adya mengantarkanku pulang.

Baru saja aku turun dari motornya, Adya langsung menodong perintah, “Gak perlu lama-lama, ya, siap-siapnya. Sejam cukup, kan? Sekarang pukul tujuh, satu jam lagi aku sampai sini.”

“Cepet banget,” protesku.

“Sayang aja sih kalau waktunya dibuang. Aku juga akan siap-siap sekilat mungkin, kok. Lima belas menit dari sekarang aku baru sampai kontrakan. Mandi dan siap-siap setengah jam cukup. Lalu jalan lagi ke sini lima belas menit. Ya paling molor lima sampai sepuluh menit lah. Cukup?”

Aku ingin protes lagi. Sebetulnya satu jam adalah waktu yang cukup untukku siap-siap. Tapi aku rindu kasurku. Aku ingin goleran agak lama sedikit.

Adya memberikan penawaran lagi, ”Nanti pas aku jemput, aku kasih tahu kita akan ke mana. Kita taruhan. Kalau tujuannya tidak membuatmu senang, kita bisa batalkan acara kita hari ini.”

Melihat wajahnya yang tegas dan serius, aku tak berani merengek dan meminta macam-macam lagi. Lagi-lagi aku menurutinya.

Adya menyerahkan ikan segepok yang ada di kemudinya sambil mengingatkan, “Jangan lupa pakai baju belel dan sepatu, ya. Kaos oblong dan jaket sudah cukup.”

Aku menerima ikan itu dan mengiyakan peringatannya yang sekaligus memberikanku ide harus pakai baju apa sehingga aku tak perlu berpikir lebih banyak untuk memutuskan memakai baju apa. Kaos dan jaket sudah cukup, jangan lupa sepatu. Oke.

Aku berpesan hati-hati. Ia mengangguk dan melaju pergi. Aku melihat punggungnya menjauh. Ketika punggungnya tidak terlihat lagi, aku masuk rumah.

Sampai di dalam rumah, aku meletakkan ikan ke dapur dan mencuci tanganku. Kemudian aku berlari ke kamar dan membuka lemari, melihat baju bersih yang tersedia dan cocok dengan syarat jalan-jalan kali ini. Kaos oblong dan jaket…ada! 

Aku segera mandi dan bersiap diri. Ternyata, tak butuh waktu satu jam. Sisa waktu yang tersisa aku gunakan untuk menunggu di ruang tamu sambil selonjoran. 

Tak berselang lama, tepat pukul delapan, suara motor butut Adya terdengar dari ruang tamu. Aku ke dapur mengecek tak ada kompor yang menyala, ke kamar mandi mengecek kran tidak menyala, dan ke kamarku sendiri untuk mengecek tidak ada perangkat listrik yang menyala, lalu aku keluar rumah.

Dari dalam pagar, Adya terlihat mengenakan kaos oblong, flannel kota-kotak merah putih, celana jeans belel, dan sepatu converse high favoritnya. Nampak normal seperti biasanya. Namun ketika mendekat ke sampingnya, aku kaget dengan detil dari baju yang ia kenakan.

Sepatu favoritnya yang ia kenakan itu kini telah menua. Aku ingat betul sepatu itu dulu berwarna biru navy. Kini berubah menjadi hampir abu-abu. Belum lagi solnya yang sudah sah menipis dan lem yang lepas di bagian samping sepatu.

Naik sedikit ke celananya. Aku yakin, celana jeans yang ia gunakan tidak dicuci selama dua bulan. Ada robekan sedikit di lututnya yang sebentar lagi pasti akan melebar. 

Lalu naik lagi ke atasannya. Aku tidak kaget dengan flannel kotak-kotak merah putih yang sedikit memudar. Ia sering mengenakan kemeja tersebut. Namun kaos oblong yang ia kenakan membuat mataku melotot. Dari dekat, kaos oblong berwarna krem itu terdapat robekan tipis nyaris bolongdi bagian jahitan leher. Aku familiar dengan kaos ini.

“Aku kayaknya ada pernah kenal dengan kaos ini,” aku memastikan.

Dengan bangganya ia menyibak flannelnya dan memperlihatkan gambar yang disablon di dada sebelah kiri: FSRD09. Kaos ospek ketika ia maba masih ada. Kaos yang sama itu terakhir kali aku lihat delapan setengah tahun yang lalu ketika mampir di kontrakannya di daerah Tukad Badung, Denpasar Timur, ketika ia sedang menjadi mahasiswa tingkat akhir dan sibuk mengurusi administrasi kampus setelah pameran dan sidang. Robekan yang ada di jahitan leher itu ada karena ia sering menggigitnya ketika berpikir atau sedang mengerjakan sesuatu.

"Tua banget??!!"

"Seusia perkenalan kita," godanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Lalu ia mengarahkan pandangannya naik turun kepadaku. Melihatku yang mengenakan celana berwarna krem, kaos biru dan jaket abu-abu. “Cosplay langit mendung?”

“Yoi. Biar hari ini terang. Sebab mendungnya sedang kukenkan.”

“Akan selalu terang, kan kamu bersamaku.” Galang adalah bahasa Bali yang artinya terang. Terang langit yang tidak mendung. Terang yang cahaya.

“Sesuai janjimu, kamu akan menjawab pertanyaan destinasi kita hari ini,” tagihku.

Ia tersenyum. “Kita nanti akan muter-muter ke tempat-tempat kesukaan kita. Malamnya, destinasi utama kita adalah…Kabelegi.”

Aku membelalakkan mata dan mulutku, nyaris memekik berteriak. Sontak, aku melompat-lompat dan menarik-narik lengannya. Kabelegi. Tempat nun jauh yang telah lama kita perbincangkan dan dambakan.

“Aduh, aduh, makin robek nanti, Nyit,” ia mengaduh sambil memegangi kemeja flannelnya.

Aku segera naik di jok belakangnya dengan sedikit melompat, tanpa peduli keseimbangan yang Adya miliki, menepuk pundaknya, dan berteriak, “Lesgo!!”

Kami melaju memecah jalanan. Aku tak sabar dengan destinasi utama kami. Aku juga tak kalah penasaran tempat-tempat yang akan kami kunjungi.

Monday, October 3, 2022

Juni

Dengarkan musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dibawakan oleh Ari Reda di layanan musik favorit.

*

Juni pernah mengira Juni adalah waktu paling romantis. Sebab namanya telah disebut sebagai bulan yang memiliki hujan paling tabah, bijak, dan arif oleh salah satu penyair favoritnya. Juni juga adalah alasan mengapa Juni terlahir dan ada di dunia.

Juni kemarin, Juni seperti berkhianat pada Juni. Juni melukai Juni sebanyak enam kali. Seperti hukuman bertubi bulan-bulan sebelumnya yang dirapel jadi satu. Tapi Juni tak ingin mengutuk dan merutuk Juni. Juni tahu, Juni tak salah apa-apa. 

Juni tak datangkan syahdu hujan untuk Juni. Melainkan angin badai nestapa. Namun Juni telah membuat Juni menjadi lebih tabah, bijak, dan arif. Seperti yang dijanjikan Sapardi.

Juni tidak membenci Juni. Juni sungguh ingin berterima kasih kepada Juni karena telah memberinya pelajaran. Juni juga ingin berterima kasih kepada Juni karena telah kuat bertahan meradang, menerjang, dan membawa bisa berlari hingga hilang pedih perih seperti yang dikoarkan Chairil Anwar.

*

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Monday, July 11, 2022

Kelana-Kelana Tanpa Tuju

Dulu, dulu sekali, aku memang petarung dan penantang sejati yang bodoh. Aku pernah menempuh 12 jam perjalanan darat-laut sendiri hanya untuk bertemu dengan seseorang. Tapi malah mendapat sebuah kepastian yang baru aku sadari hari ini.

Singkat cerita, setelah aku membereskan urusanku dan ia dengan urusannya, kami memutuskan bertemu dan berkeliling kota. Dibakar panas kota Denpasar, tak kunjung jua kami sampai di satu tempat.

"Ini kita mau ke mana, sih, Mas?" tanyaku dari jok belakang. Bingung dengan jalanan asing yang sepertinya sudah dilewati dua hingga tiga kali.

"Gatau, nyasar aja dulu," jawabnya ringan.

Kala itu aku hanya mengiyakan. Apalagi ditambah dengan celotehnya tentang betapa indahnya berkeliling kota tanpa tujuan.

Entah aku yang naif, atau memang kami berdua masih sama-sama remaja 20an, kami menikmati berjalan tanpa tujuan dan aku tak menangkap sebuah kepastian yang tersirat dari pertanyaan tersebut.

Tahun-tahun berlalu, dua-tiga manusia tukar temu. Aku terobsesi dengan perjalanan-perjalanan tanpa tujuan. Dalam satu-dua cerita, aku menggubah namaku menjadi nama kota yang tak menjanjikan pulang. Aku bakar waktu dengan keentahan.

Hari ini, delapan tahun kemudian, keberanian itu masih ada. Aku datangi kota-kota orang. Aku bertarung dengan rasa asing. Aku tantang perjalanan. Aku tebas waktu. Aku bunuh Kelana-Kelana tanpa tuju.

Friday, April 29, 2022

Kapan Aku Nikah?


Awal bulan Februari lalu, seorang tetangga akan melangsungkan lamaran. Sebelum hari itu tiba, salah satu sepupuku datang ke rumah. Asumsi di dalam kepalaku menggempur dengan prasangka bahwa ia akan memberikan kabar lamarannya. Lebih jauh lagi dari hari itu, aku selalu dideru desakan tentang pernikahan oleh orang tua, keluarga besar, dan orang-orang sekitar.

Sebagai perempuan yang tidak pernah membawa laki-laki ke rumah, 29 tahun menjomblo, selalu menghindari pembahasan tentang pernikahan, dan juga merasakan deruan kesepian di dalam dada, sepertinya aku harus melakukan sesuatu.

Aku memang belum pernah menjadi orang tua. Tapi yang terlintas di dalam kepalaku adalah orang tua pasti mendapat tekanan dari berbagai penjuru. Karena subyek dalam kalimat-kalimat tekanan tersebut adalah namaku, maka tentu saja tekanan tersebut selalu diteruskan kepadaku. Belum lagi aku banyak mendengar cerita-cerita tentang orang tua yang jatuh sakit karena terus memikirkan anaknya belum bisa memenuhi tekanan tersebut. Aneh rasanya jika melihat orang tuaku yang tidak pernah menggubris soal kepunyaan harta-benda orang lain tapi malah kepikiran tentang tekanan pernikahan. Sekali lagi lagi: aku harus melakukan sesuatu.

Aku harus mengomunikasikan semua yang ada di kepalaku tentang pernikahan kepada orang tua.

Tanpa berpikir panjang, sehari sebelum tetangga melangsungkan lamaran, tepat ketika saudara sepupu datang ke rumah, aku melipir ke sebuah cafe untuk merencanakan sesuatu.

Ada terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada orang tua tentang isu ini. Juga hal yang terlalu abstrak yang ada di dalam kepala yang harus aku luruskan. Belum lagi ketika aku bicara secara langsung, kemungkinan ngglambyar akan lebih besar. Sebagai sarjana Matematika dan memiliki profesi sebagai penulis, aku perlu menyelesaikan masalah ini secara sistematis dan terstruktur seperti kerangka cerita. Maka dari itu, yang ada di kepalaku adalah menyampaikannya dengan media presentasi, meniru kerangka TA/skripsi.

Di dalam presentasi ini aku memakai berbagai pendekatan; salah satunya agama. Aku juga sertakan logika-logika berpikir dan teori-teori yang akan mendukung argumenku. Beberapa hal mungkin akan terasa sangat personal bagiku, tapi tentu saja hal ini masih bisa diubah.

Sebelum aku mempresentasikan ini ke orang tuaku, aku menceritakannya ke teman-teman terdekat. Tak sedikit dari mereka yang membutuhkan cara ini. Aku juga yakin, desakan segera menikah ini tidak hanya terjadi kepadaku, tapi juga terjadi ke teman-temanku yang ‘sepantaran’ atau sedang berada di fase yang sama. Jadi, daripada harus aku pendam sendiri cara ini, ada baiknya aku sebar luaskan. Tidak semua bahan di dalam presentasi ini bisa digunakan. Setidaknya, semoga ini bisa membantumu untuk menjadi panduan merunutkan kerumitan berpikir.

Aku mengunggahnya ke Karya Karsa, sebuah Platform Apresiasi Kreator tempat fans dapat langsung mendukung kreator favorit mereka dengan kesinambungan finansial. Aku harap, dengan dipublikasikannya karya ini ke Karya Karsa, aku bisa mendapat dukungan dari teman-teman semua. Nanti, jika tak ada aral melintang, barangkali aku akan menulis buku yang aku kembangkan dari presentasi ini. Kamu bisa mengunduhnya seharga kopi. Tautan ada pada gambar dibawah ini:


Enjoy & good luck!

Monday, March 28, 2022

Menjadi Seperti yang Kau Minta


Bentuk kalimat di atas adalah salah satu contoh jajanan yang selalu aku kunyah selama bertahun-tahun. Jajan lainnya memiliki bentuk yang berbeda tapi rasanya sama: nylekit. Aku masih ingat betul kek mana bentuk kalimat-kalimat lainnya. Kurang lebih seperti ini:

“Mbok ya manut gitu lho jadi cewek.”

“Jangan terlalu mandiri, sekali-kali minta tolong ke gebetan.”

“Makanya, ta, Jun, jangan terlalu pintar. Cowok jadi minder, kan.”

“Coba deh dipikir, masa iya cowok kayak dia suka ama cara berpakaianmu yang kek gitu.”

Aku tak perlu menyebutkan konteks pembicaraan di atas. Kalau saja aku punya keberanian yang cukup, aku akan menjawab,

“Who hurt you?”

Sayangnya, aku hanya bisa diam, menahan amarah, lalu menangis di belakang mereka.

Aku sering mendengar komentar-komentar dari teman tentang mengubah diri sendiri untuk menarik lawan jenis(ya, aku berbicara perkara heteronormatif karena kupikir permasalah non-binary, ekspresi gender, dan hal-hal non-heteronormatif lainnya masih terlalu jauh untuk aku bicarakan—dan mereka tangkap). Aku pernah mengubahnya. Aku pernah mengubah diriku untuk menarik lawan jenis. Tahu apa yang terjadi? Pasangan tetap saja tidak kudapatkan dan aku kelelahan karena kehilangan diri sendiri.

Aku senang mengevaluasi diri. Aku senang mendengar masukan-masukan tentang diri. Aku akan mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik, yang tidak menyakiti manusia lainnya. Tapi tentu saja tidak untuk meminta lawan jenis agar tertarik denganku.

Aku akan menjadi manusia yang manut kalau aku tidak tahu apa-apa dan argumen lawan bicaraku adalah benar. Aku akan merendahkan hati untuk meminta tolong jika aku menghadapi sesuatu di luar kemampuanku. Aku akan menjadi bodoh ketika aku sedang belajar agar aku bisa menyerap banyak ilmu. Aku akan mengubah cara berpakaianku jika pakaianku tidak sesuai dengan kondisi dan acara.

Aku bingung, kenapa perempuan harus mengubah hal-hal yang dimilikinya untuk memenuhi ego dan ekspektasi lawan jenis agar perempuan bisa ‘dipilih’ oleh lawan jenis?

Selama ini kita selalu dicekoki tentang perempuan di dalam media yang sering dinarasikan lemah lembut, cantik luar dalam, bertutur halus, penurut, berambut panjang, berkulit putih, dan lain-lain. Kini, standar kecantikan bergeser. Media sosial dan brand-brand kecantikan berlomba-lomba untuk menciptakan narasi baru soal kecantikan. Bahwa cantik tak harus berkulit putih, berambut hitam legam panjang, atau memiliki warna kulit rata nan halus tak berpori. 

Kalau kita setuju bahwa perempuan memiliki definisi cantiknya masing-masing, harusnya kita juga bisa belajar setuju bahwa perempuan bisa menarik dengan caranya masing-masing.

Aku bahagia dengan diri sendiri. Aku bahagia dan senang karena aku adalah perempuan yang ngeyelan, keras kepala, mandiri, dan ambisius. Sifat ini akan terus aku pertahankan. Karena inilah caraku untuk bisa jujur dengan diri sendiri. Menurutku, sifat-sifat yang aku miliki ini membuat laki-laki yang suka berkuasa atas perempuan dah auto terseleksi oleh alam. Aku bersyukur karena aku tak perlu menghabiskan tenaga untuk melakukan screening ke laki-laki seperti itu.

Satu lagi: aku yakin, laki-laki yang menjadi ‘target pasar’-ku adalah laki-laki yang suka ama perempuan yang bisa diajak mikir dan bekerja sama agar nantinya kami bisa berjalan bersama.

Sori dori mori nih ye aku gak sesuai ekspektasi. Yaelah, apa sih yang diekspektasikan dari seseorang yang namanya Juni tapi lahirnya Maret?

Tuesday, January 25, 2022

Untuk Todi/Kelana

Ada baiknya membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu Vierra - Seandainya.

*

Kami dipertemukan karena undian lotre yang dikocok Tuhan. Kencan pertama kami adalah jalan kaki 3,5 kilometer, pembacaan puisi Pada Suatu Hari Nanti karya Sapardi dengan lirih di toko buku, dan menunggu hujan dengan bermain siapa paling banyak menonton film TOP 50 IMdB. Setelah itu, kencan-kencan terjadi di Perpustakaan C2O dan warung Mbah Cokro. Yang paling penting adalah obrolan kami yang tak pernah ada habisnya. Apa saja kami bicarakan.

Dari kepalanya aku mengenal Sartre, Carl Jung, dan Freud. Tokoh wayang kesukaannya adalah Bhisma. Film favoritnya adalah 12 Angry Men yang belum pernah berhasil aku tonton. Baginya, Raden Mandasia adalah novel yang haram untuk dilewatkan. Aku masih ingat caranya membaca di warung kopi tempat kami biasa bertemu. Musik favoritnya adalah musik metal, punk, rock, dan musik-musik keras lainnya yang sayangnya tak pernah bisa aku pelajari. Aku masih ingat bagaimana ia berduka ketika mendengar Chester Bennington meninggal.

Aku masih ingat bagaimana ia selalu membayangkan obsesinya tentang anarko dan menjadi anak punk. Celana jeans favoritnya adalah yang berwarna hitam, berbentuk pensil ketat, agak belel, dan paling tidak pernah dicuci. Aku yakin, baju-baju di lemarinya hanya hitam, hitam, hitam, abu-abu, dan navy. Pernah suatu kali aku datang dengan kaos berwarna oranye. Ia langsung menunduk dan menghindari bertukar pandang. Sepatu favoritnya yang selalu ia kenakan adalah Converse High Chuck Taylor berwarna hitam. Aku bahkan masih mengingat parfum apa yang ia pakai.

Di kepalaku terrekam jelas bagaimana ia tertawa begitu lepas; seperti telah terkurung lama. Aku mengingat betul ia suka menggunakan kata 'kemudian' ketika bercerita. Ia kehilangan logat jawanya ketika mengobrol denganku, namun logat matramanannya masih lekat di lidah ketika berbahasa Jawa. Ia memanggilku 'Mbak', aku memanggilnya 'Pak'.

Kopi adalah oleh-oleh yang selalu ia tawarkan ketika melakukan dinas ke luar kota yang dalam sebulan bisa sampai dua hingga tiga kali. Ia selalu mengirim laporan "I'm on board" melalui chat WhatsApp jam berapa pun, meski aku masih tertidur. Ia memperkenalkanku pada sapaan selamat pagi dan malam. Ia yang memperkenalkan aku dengan pertanyaan sepele tentang sudah makan atau belum. Ia suka mengirim meme dari twitter, info twitwor, artikel, dan apa pun yang menarik di internet.

Aku tak pernah lupa bagaimana ia menjadi relawan untuk menggantikan peran Galang Adyatarna. Meski ia tak bisa menggambar, bermain musik, dan fitur-fitur di tubuhnya tak mirip seperi Galang, ia berhasil menjadi sumber inspirasiku. Aku suka mendokumentasikan kejadian-kejadian yang kami lalui ke dalam tulisan. Aku menulis dua cerpen yang terinspirasi darinya. Padahal sebelumnya aku tak pernah membuatkan cerpen yang aku dedikasikan untuk seseorang; ia dapat dua. Sampai saat ini, belum ada yang bisa membuatku menulis sebanyak itu lagi untuk seseorang.

Aku sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-25½. Karena aku belum mengenalnya ketika ia berumur 25 dan belum tentu kami masih bisa bersama ketika ia berumur 26. Sebuah pop up dengan angka 25½, cheesecake, dan sebuah buku mampu membuat mukanya berubah merah padam. Barangkali ia pernah dan akan merayakan ulang tahun di hari kelahirannya bersama perempuan lain. Tapi hanya ketika ia bersamaku, ia merayakan ulang tahunnya yang ke 25½.

Sebulan setelah perayaan ulang tahunnya yang ke 25½, ia memilih pergi. Pamit, tapi meninggalkan janji dan luka. Ia mengaku masih memiliki kekasih yang menjalani hubungan jarak jauh. Ia pernah berjanji ingin diantar ke bandara—jobdesc favoritku di dalam pertemanan. Sebulan setelah itu, peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya ia kabarkan lewat mimpi; termasuk perempuan baru yang mengisi hidupnya. Perkiraanku benar: kami tidak bisa merayakan ulang tahun bersama di bulan Maret, ketika usianya bulat 26 dan aku 25.

Aku dihantui oleh kabar hidup dari seseorang yang tak ingin aku pedulikan lagi. Aku marah, aku dendam. Sedang ia bahagia dengan hidupnya. Kepada perempuan barunya, aku diceritakannya. Tentu saja dengan narasi berbeda: Juni, seorang teman perempuan yang ia temui di perpustakaan. Selama 1,5 tahun, dendam itu kubiarkan membara. Namun, setelah ia mengabarkan pernikahannya dengan perempuan yang ia temui ketika masih berkencan denganku, perasaan itu tiba-tiba hilang. Berganti menjadi tanya tentang narasi yang ia ciptakan tentangku kepada perempuannya. Sayang, sampai hari ini, aku tak bisa menuntut penjelasan lebih banyak tentang perilakunya ketika kami masih sering berkencan, alasannya pergi, dan narasinya tentangku.

Maka, untuk hidupku yang lebih baik, agaknya aku harus meluruskannya sendiri dengan merevisi beberapa bagian:

Kami bertemu di perpustakaan secara tidak sengaja. Tidak dari lotre. Percakapan pertama kami adalah tentang buku yang aku baca di dekat rak. Bukan karena pertanyaan tentang konsep ke-Tuhan-an.Kami bercakap banyak. Sangat banyak, sampai-sampai aku memilih untuk menyamakannya saja dengan kejadian sebenarnya. Kami tak pernah membicarakan tentang masa depan karena itu adalah satu-satunya topik yang paling mustahil.

Bagi orang yang suka membaca buku, bertemu dan berkenalan dengan seseorang di perpustakaan adalah khayalan picisan yang paling tinggi; apalagi sampai merencanakan pertemuan di luar perpustakaan dan toko buku. Hal itu terjadi kepada kami. Aku yakin, inilah alasan mengapa ia bersikeras menarasikan aku sebagai perempuan yang ia temui di perpustakaan.

Kejadian-kejadian setelahnya anggap saja sama persis. Aku hanya ingin mengubah bagaimana kami bertemu dan berpisah.Ia tidak pergi. Kami memutuskan untuk sama-sama menyudahi. Masa depan tak akan pernah bisa kami hampiri. Dengan begini, tak ada kesumat, tak ada angkara.

Todi—Kelana, kalau tulisan ini telah sampai ke hadapanmu, kamu tak perlu lagi menjelaskan apa-apa. Hutangmu lunas. Kamu hanya perlu menunggu ceritaku tentang seorang laki-laki yang membuat Galang Adyatarna purnatugas. Aku juga menunggu hari itu datang.