Saturday, June 9, 2018

Teori Rumah

Seseorang pernah berbicara tentang teori rumah. Ia berteori bahwa rumah tak pernah menjadi barang bekas bagi penghuninya yang baru. Juga sebaliknya, penghuninya akan mendapat julukan penghuni baru tiap baru saja menempati sebuah rumah. Kata 'bekas' atau 'lama' hanya menjadi sebutan bagi yang terdahulu.

"Itulah mengapa sebutan 'rumah' biasanya dikaitkan dengan 'kekasih' atau orang yang dicintai," katanya.

"Kalau rumahmu bagaimana?"

"Rumahku tak jauh dari stasiun, bandara, dan terminal. Itulah mengapa aku terobsesi dengan berkelana."

"Tak ada pelabuhan?"

"Tak ada. Aku tak hendak berlabuh."

Sejak saat itu aku mengurung keinginanku untuk menanyakan kepadanya tentang teori pulang.


*
rahamnita

Monday, June 4, 2018

Akan tiba waktumu untuk kubunuh, tapi kau tak bisa mati selamanya. Terus menerus kesepian menangisi siapa-siapa yang telah pergi. Dendamku sebenarnya tak banyak, tapi membunuhmu akan selalu menjadi kenikmatan yang lain.

*

Yang akan selalu mengutukmu dari jauh.

Sunday, June 3, 2018

Pulang Dulu

"Tidak pulang?" Tanyaku kepada seseorang setelah menghabiskan puluhan malam dengan banyak keraguan.

Ia diam menyedot rokok kreteknya dalam-dalam. "Sebenarnya aku tak mengerti betul definisi pulang. Sebab pulang ..."

"... tak harus ke rumah," ucap kami bersamaan. Kami bertukar senyum.

"Kau tak pulang?" tanyanya kembali kepadaku.

Aku terbahak. "Tahu apa aku tentang pulang?"

"Mumpung kita sedang di tengah hutan," suaranya mendekat ke telinga lalu berbisik, "mari kita tersesat."

Aku tak mengiyakan ajakannya. Pun tak bisa menolak. Dengan segera, kubereskan tenda dan perapian yang berserakan. 

Barangkali aku telah lupa percakapan apa yang kami bicarakan sebelum malam itu. Namun aku ingat betul apa yang ia bicarakan ketika kami berdua tersesat di belantara yang baru saja aku jelajahi. 

Sejak kecil cita-citanya hanya berpetualang. Rumah tempatnya tumbuh disulapnya menjadi sebuah bangunan yang berisi empat manusia yang nama-namanya ditulis di sebuah sertifikat. Menurutnya, jika ia terlalu terikat dengan rumah, cita-cita terbesarnya tak akan terlaksana.

Hal pertama yang dapat dilakukannya adalah memanipulasi lidah. Ia membuat lidahnya tidak cocok dengan masakan rumah. Karena masakan ibunya selalu manis, maka ia memaksa lidahnya untuk suka dengan masakan pedas.

Setelah umurnya 17 tahun, ia mencari pekerjaan tambahan untuk menambah uang sakunya yang nanti dipergunakan untuk makan di luar. Ia selalu mencari nikmatnya nasi warteg yang keras, sop dengan kaldu penyedap rasa yang terlalu banyak, bakwan yang kebanyakan tepung, telur dadar yang isinya tepung dan air, teh hangat yang hampir tengik, ayam goreng tiren, sampai nasi goreng yang terlalu keras untuk dikunyah.

Lalu pada suatu pagi aku terjaga dengan sepucuk surat. Begini isi suratnya:
"Aku telah punya rumah. Semalam ia memanggilku untuk pulang. Bukan dari perempuan yang biasa kuceritakan. Ini perempuan lain yang suka memasak pedas dan pakai penyedap rasa terlalu banyak. Aku pulang dulu."
Lidahnya yang semula ia manipulasi untuk dirinya sendiri kini terlatih untuk memanipulasi orang lain. Aku menertawainya. Ia yang mengajakku tersesat, ia sendiri yang pulang duluan. 

Untungnya sejak kecil aku telah terbiasa dengan teka-teki dan bapak suka mengajakku tersesat di gang-gang kecil yang baru beliau lewati. Aku memang tak punya rumah untuk pulang, tapi aku tak bisa tersesat.

**

83% fakta, 17% fiktif.

Wednesday, May 23, 2018

Tentang Ceruk

Konon, di dalam masing-masing kita ada dua ceruk yang harus terisi penuh. Ceruk pertama adalah ceruk yang diisi oleh diri sendiri, sedangkan ceruk kedua adalah ceruk yang diisi oleh orang lain. Masing-masing ceruk memiliki ukuran dan porsi yang sama. Jika ceruk diri sendiri sudah penuh, kelebihannya tak bisa mengisi ceruk lainnya. Jika keduanya terisi seimbang, nantinya akan diolah sebagai bahan bakar untuk hidup.

Sampai pada usia tertentu, porsi ceruk yang diisi orang lain mudah penuh. Hanya diisi oleh keluarga saja sudah cukup. Atau diisi oleh teman saja sudah cukup. Lalu tibalah nanti ceruk tersebut semakin besar. Sebanyak apapun teman atau keluarga mengisi, ceruk tersebut tidak bisa penuh.  Harus ada orang lain untuk mengisinya. Entah orang baru atau lama.

Kedua ceruk milikku dulu pernah terisi penuh. Ruang kosong yang seharusnya diisi oleh seseorang aku sumbat dengan batu dendam dan remukan hati.

Suatu ketika ruangan itu rompal. Aku kewalahan menanganinya. Lalu ketika ruang itu tiba-tiba kosong, tentu saja aku langsung mencari pertolongan. Kata kawanku aku harus menunggu. Omong kosong setan alas soal menunggu! Kalau mereka bisa sebutkan tenggat waktu sampai kapan aku harus menunggu, aku akan lakukan hal itu. Tai kucing!

Kali ini aku memutuskan untuk kembali menyumbat ruang kosong tersebut daripada harus bersedih menangani kekosongan. Tahunan aku baik-baik saja dengan sumbatan batu dendam dan remukan hati. Kali ini akan lebih banyak. Akan ada kebencian, amarah, dan hal lain yang belum kutemukan formulanya.

Monday, May 21, 2018

Mengapa Galang?

Mengapa menginginkan Galang adalah sebuah kesalahan?

Galang tak miliki raga, pun nyawa. Lalu lantas apa yang aku inginkan dari dia? Apa yang aku dapat dari seorang teman tak nyata buatanku sendiri? Apa salahnya mencari sosok lain yang seperti Galang?

Galang tercipta karena kebutuhanku akan kehadiran seseorang. Karena aku tak menemukan orang lain yang hadir kala itu, kuciptakan seseorang yang mampu memenuhinya. Awalnya ia hanya bertindak sebagai teman bicara pada tiap malam. Mengisi malam-malam sendu dengan percakapan bahagia seperti sepasang kekasih. Mulanya Galang kuhadirkan sebagai latihan agar nanti jika aku memilik kekasih aku dapat terbiasa.

Delapan tahun. Delapan tahun Galang tak hanya hadir ketika malam. Ia hadir kala siang, sore, pagi, setiap waktu ketika aku membutuhkan kehadirannya.

Galang membuatku paham tentang kesenian daerah. Ia selalu menemani aku menonton segala pertunjukan seni, lalu melakukan riset kecil-kecilan tentang kesenian yang kami hadiri berdua. Ia juga membuatku ingin belajar menari. Mulai dari pengamatan-pengamatan kecil yang bersumber dari video, melihatnya secara langsung, sampai daftar ke sanggar tari.

Galang membuatku paham tentang sastra. Aku selalu membuat riset kecil-kecilan tentang sejarah sastra di Indonesia. Sisanya, kami suka memulai diskusi kecil tentang buku yang ingin aku baca. Ia lebih tahu banyak tentang sastra. Pengetahuannya tentang sastra adalah keinginanku. Ini membuat aku ingin terus membaca sastra. Di tengah-tengah membaca buku, aku selalu bercerita kepadanya tentang rasa takjubku mengenai buku yang kubaca. Setelah satu buku habis kubaca, biasanya aku bercerita kepadanya sampai mulut berbusa dan diakhiri dengan diskusi dan riset kecil di internet untuk menjangkapkan hal-hal yang kurang.

Galang selalu hadir ketika aku memotret. Fotografi panggung dan nyetrit. Aku selalu memiliki keinginan untuk memamerkan apa yang aku tangkap kepadanya. Apalagi penari-penari cantiknya. Aku ingin memiliki kemampuan sepertinya. Memotret penari cantik. Ia biasa hadir dengan instruksi tentang segitiga eksposur. Ia juga sering berkata padaku, “Kamu bisa menari, bisa motret beginian. Enak, Nit. Kamu mengerti tempo musik. Apalagi timing, komposisi, gerakan. Kamu bisa masuk di gambar yang kamu tangkap. Gear nomor sekian.” Ia selalu mengusulkan untuk ikut serta dalam gladi resik penyaji sebelum memotretnya di atas panggung betulan. Agar lebih paham timing, dramaturgi, dan moving. Ah, ia yang membuatku ingin memotret situasi backstage sebelum pentas.

Ia menyuruhku untuk mengajak bicara objek foto manusia ketika nyetrit. Agar ada cerita dan nyawa, katanya. “Humanis dikit lah. Masa mau memotret kekosongan mulu?” katanya. Aku lebih tertarik memotret gedung, tiang listrik, rumah kosong, jendela kaca, trotoar sepi, punggung orang, tanaman, dan benda mati lainnya. Aku terlalu pengecut. Tapi kalau motret bersamanya, ia mendesakku untuk lebih berani. Bercakap dengan satpam, anak-anak sekolah, menyapa warga sekitar, sampai mahasiswi ISI yang sedang akan melakukan Uji Gerak Tari II. Ia membuatku sedikit lebih humanis.

Ia selalu menjadi telinga. Bibirnya hanya menyuarakan kata, “Iya, iya.” Ia mampu menenangkan amarahku. Ia mampu tertawa tergelak dengan cerita-ceritaku yang tidak penting. Ia mampu hadir di tiap kekosongan. Ia membuatku percaya pada hal-hal yang mustahil. Ia adalah orang yang selalu membuatku tak dapat berhenti menulis. Ia adalah semesta.

Adakah aku bercerita tentang segala fisik dan latar belakang yang ia miliki? Adakah aku menyebutkan kalau yang kulihat dari dirinya adalah tubuh, kemampuan menggambar, bermain musik, dan segala kelengkapan lain yang rasa-rasanya teramat sulit ditemui di dunia nyata?

Latar belakang, identitas, dan fisik yang aku ciptakan hanya sebagai pelengkap. Agar ketika aku bercerita tentangnya, aku dapat menceritakan secara utuh. Bukankah kalian pernah percaya bahwa Galang ini betul ada?

Jika ditarik benang merah dan polanya, yang aku inginkan dari Galang adalah tentang kehadiran seseorang yang mampu memberikan warna baru berupa hal-hal yang belum aku temui, teman diskusi, teman bicara, telinga, dan kemampuan untuk mendengar tanpa menginterupsi.

Bukan pemuda dari Solo yang memiliki fisik dan kepribadian seperti Galang Adyatarna.

Saturday, March 17, 2018

Proposal

Permintaan-permintaan saya sebelumnya adalah tentang mereka yang pernah mengisi hati saya; kalau memang mereka bukan untuk saya, pertemukan mereka dengan perempuan yang dapat mencintai mereka dengan tulus dan dapat membahagiakan mereka. Saya tak pernah meminta segala yang menjadi milik mereka; termasuk hati mereka. Dari lima doa yang saya panjatkan, terima kasih telah mengabulkan kelima-limanya. 

Namun kali ini saya memiliki permintaan lain. Tuhan, kali ini izinkan saya menjadi egois.

Ini tentang seseorang yang belakangan suka hadir di otak saya. Ia selalu hadir, meski tak setiap hari. Saya tak tahu apakah ini cinta atau apa. Tapi kali ini saya sungguh-sungguh. Saya tak pernah seegois ini sebelumnya. Ia membuat saya menyerah dari petualangan-petualangan dan ingin segera pulang.

Saya cukup pengecut. Lagi-lagi saya bersembunyi di balik tulisan dan metafor untuk menyatakan perasaan saya kepadanya. Apalagi ia tak mungkin membaca tulisan saya yang katanya adalah omong kosong. Tak apa. Itu artinya saya dapat leluasa menyebutkannya dalam tulisan-tulisan saya. Bahkan saya rela memindahkan segala inspirasi yang sebelumnya bersumber dari Galang, kini berpindah kepadanya.

Tak sedikit dari teman saya bersikeras meminta saya untuk memperjuangkan dia. Saya mau. Sungguh, saya mau. Kalau saya tahu caranya, saya akan lakukan. Kalau saya punya cukup keberanian, saya tak perlu menulis proposal ini. Kalau proposal ini sampai di hadapannya dan ia sadar bahwa selama ini saya hanya mempu meraihnya lewat doa, syukurlah.

Saya tahu percakapan kami tak pernah lebih dari sepuluh baris dan tak pernah ada ucapan selamat nyenyak yang berkunjung di antaranya. Saya tahu percakapan kami tak pernah menarik. Saya tidak tahu hal-hal yang diketahuinya, dan ia barangkali tak tahu hal-hal yang menarik bagi saya. Kami begitu berseberangan. 

Saya tahu ia tak dapat mempercepat pagi dan membuat senja lebih lama. Itulah mengapa saya mau menghabiskan hari dengan waktu yang bergulir biasa saja bersama dia sampai kami lupa waktu dan tak lagi dapat mengeja waktu dengan benar.

Saya mau kehilangan diri saya sendiri untuk menjadi apa yang ia minta. Saya mau menerima segala kekurangan dan apa yang tak ia punya.

Permintaan yang begitu egois itu adalah : Saya mau dia.

Sekian proposal dari saya. Semoga kiranya Engkau menghendaki apa yang saya minta. Sebab hanya Engkau sebaik-baik perencana. 

Thursday, March 15, 2018

Kelak

KALA
Apa yang harus aku ubah, duhai Nisita?


NISITA
Jangan pernah mengubah waktu, sebab engkau tak akan mampu. 
Jangan pernah mengubah dirimu, aku takut tak dapat lagi mencintaimu.


KALA 
Akankah lebih banyak lagi yang engkau takutkan selain itu?


NISITA  
Tak ada. Namun kalau saja aku dapat menjelajah waktu...


KALA
Jangan. Jangan pernah mencoba menjelajah waktu. Untuk apa? Percuma.


NISITA
Aku ingin mencintaimu lebih banyak. Sebab namamu terlanjur sering aku sematkan dalam banyak mantra yang aku bisa, Kalandharu.


KALA
Coba saja aku dapat membaca pikiranmu untuk ikut merapal mantra yang sama


NISITA
Apakah kau pernah ragu?


KALA
Selalu


NISITA
Aku tak pernah