Wednesday, December 13, 2023
24fps.
Monday, October 30, 2023
FCT #1: Rencana Pmbnhn
Setiap kali aku mendengar kabar dari ibu tentang kerabat atau saudara yang akan melangsungkan lamaran atau pernikahan, dadaku seperti terbakar. Sama seperti ketika aku mendengar kabar serupa dari kawanku. Ketika mendengar kabar-kabar itu, sebenarnya aku tak benar-benar bahagia. Aku tak benar-benar ingin datang dan merayakannya. Aku ingin selalu mendoakan agar langkahnya tak mudah, hidupnya tak bahagia, dan akan selalu tersandung duka dan lara.
Ada kalimat yang selalu berhenti di tenggorokan: aku juga ingin. Aku juga ingin memiliki pasangan, melaksanakan lamaran, lalu menikah. Namun, alih-alih aku mengutarakan keinginan ini, aku lebih penasaran dengan siapa aku akan menghabiskan sisa hidupku. Untuk memenuhi rasa penasaran ini, kupikir jalan satu-satunya adalah membunuh banyak orang dan menyisakan satu orang yang akan menjadi suamiku.
Manusia-manusia pertama yang aku bunuh adalah kekasih dan mantan kekasih adik-adikku. Kalau mereka tidak memiliki kekasih atau mantan kekasih—yang kurasa tidak mungkin—, aku akan membunuh perempuan yang membuat mereka jatuh hati. Adik-adikku tidak boleh lebih dulu bahagia dariku. Ah, dunia ini sungguh tak adil. Aku telah membayar banyak hal untuk mereka, lalu mereka dengan mudahnya mendapat pasangan. Aku yang menderita, mereka yang serta merta bahagia.
Lalu manusia-manusia berikutnya yang akan aku bunuh adalah mereka yang pernah berujar kalimat-kalimat yang tak menyenangkan, kamudian membuatku terdiam lama, dan bertengger di kepala sampai saat ini. Mereka berbicara begitu mudahnya tanpa pikir panjang. Kalau aku tak mampu membunuh mereka, barangkali aku potong saja bibir atau lidahnya agar mereka tak perlu semena-mena lagi padaku. Mereka adalah yang pernah berbicara:
"Nikmatilah masa jomlomu." Tai anjing! Kurang menikmati bagaimana?!? Aku telah lama jomlo daripada ia. Ia yang tak kuat merasakan nikmat jomlo, sehingga menikah, lalu ternyata pernikahannya tak bahagia. Aku yakin suaminya telah mengekang geraknya dari kanan, kiri, dan tiga anak.
"Jadi perempuan jangan suka menggambar alis, terlalu berani, mandiri, pintar, bisa segalanya, dll. Nanti suamimu apa tugasnya?" Ketahuilah, manusia seperti ini adalah mereka yang tak bisa menggambar alis, tak bisa apa-apa, menggantungkan diri kepada orang lain, tak bisa bernalar logis, dan bodoh. Mereka berujar seperti ini karena mereka tak tahu bagaimana cara memuji. Sepanjang hidupnya mereka hanya menelan celaan. Kasihan sekali. Apakah harus kupotong saja telinganya agar mereka tak lagi bisa mendengar celaan dan cercaan yang menyakitkan itu?
"Menikahlah, jangan terlalu banyak menikmati hidup." Manusia seperti ini sebenarnya memiliki hidup yang tak jauh berbeda dari manusia yang pertama. Rumah tangganya tidak bahagia. Bedanya, ia ingin mengajak aku turut serta untuk merasakan nestapa yang tak kunjung usai itu. Beban yang ditanggungnya berat dan ia tidak bisa berkomunikasi dengan pasangannya. Sengsaralah hidupnya. Ah, kasihan betul.
"Kamu terlalu unik, punya cara pandang yang berbeda, ekspresif pula. Lelaki idamanmu di luar sana ada banyak. Tapi aku tak yakin apakah kamu adalah idaman mereka." Aku telah menelan kalimat serupa seperti ini selama bertahun-tahun. Sejak SMK hingga kuliah. Aku memang sudah melupakan betapa sakitnya hati ini karena terus mempertanyakan apakah aku harus mengubah diri. Tapi aku akan selalu mengingat nama mereka yang dengan entengnya mengucapkan kalimat tersebut. Barangkali ucapan mereka terbukti: tak ada laki-laki yang mengidamkanku. Barangkali mereka mudah menghasut manusia. Barangkali aku saja yang mudah terhasut oleh omongan mereka. Maka dari itu, aku bunuh saja orang-orang ini agar mereka tak menghasut laki-laki yang ternyata mengidamkanku.
"Jadilah seperti perempuan pada umumnya. Laki-laki tak suka perempuan seperti kamu." Tak sekali dua kali aku diminta untuk menjadi orang lain, lalu nantinya aku akan kehilangan diri sendiri. Orang-orang seperti ini sejatinya adalah tak punya jati diri. Makanya mereka bisa menjadi siapa saja agar bisa dicintai. Untuk manusia-manusia ini, barangkali aku akan penuhi permintaannya untuk menjadi orang lain. Aku akan mengelupas kulit wajah mereka dan memajangnya di etalase agar mereka bisa bergantian ingin memiliki wajah seperti apa dan menjadi siapa.
"Sudahkah kamu menyelesaikan trauma masa lalumu?" Aku sungguh betul ingin membantah apakah di KUA nanti ada tes penilaian penyelesaian masa lalu. Kalau belum 100% beres, tidak boleh menikah! Konyol, aku seperti akan menikah dengan malaikat saja yang tak punya masa lalu dan dosa. Dikiranya aku juga tak punyai kesadaran diri dan tak mampu mencintai seseorang dengan segala traumanya, lalu aku tidak diperbolehkan untuk menikah sebelum seluruh trauma yang pernah aku miliki hilang dan musnah. Orang-orang seperti ini akan aku kurung di dalam sel-sel sempit tanpa makan tanpa apa. Agar mereka bisa menjelajahi masa lalu dan masa depan, kemudian menghadapi dengan gagah segala trauma dan ketakutan yang katanya sudah mereka damaikan.
Setelah aku membuat orang orang ini tak bisa bicara lagi, atau mati, aku akan membunuh seluruh pasangan-pasangan. Pasangan suami istri, pasangan yang akan menikah, atau pasangan kekasih. Aku tak peduli umur. Seluruh manusia yang telah berpasangan akan aku bunuh. Aku mungkin bisa membunuh perempuannya saja, tapi aku tak mau merebut lelaki dari seorang perempuan lain untuk kebahagaiaanku sendiri. Aku tak mau menyakiti perempuan lain. Maka aku bunuh saja dua-duanya. Lalu, jika mereka memiliki anak, aku juga akan membunuh anak yang tak berdosa itu. Aku tak mau mereka menjadi anak yatim piatu yang terlunta tanpa orang tua. Aku tak tega.
Selanjutnya, aku akan membunuh seluruh perempuan yang tidak berpasangan. Aku tak mungkin menikahi perempuan. Kemudian setelah perempuan-perempuan ini mati, muncullah laki-laki yang melolong menangisi perempuan yang dicintainya telah tiada. Mereka akan kebingungan bagaimana menghabiskan hidup tanpa perempuan-perempuan ini. Maka aku permudah saja hidup mereka dengan membunuhnya. Agar mereka tak kesusahan lagi atau bingung bagaimana menghabiskan hidup tanpa perempuan yang dicintainya. Laki-laki yang mencintai perempuan lain juga tak akan mungkin dengan mudahnya berbelok langsung menginginkanku.
Manusia terakhir yang aku habisi adalah laki-laki yang usianya terlalu muda atau terlalu tua untukku. Aku tidak mungkin menikahi seseorang yang berusia tujuh belas tahun.
Lalu tersisalah laki-laki yang tidak memiliki pasangan dengan usia yang tak jauh berbeda denganku. Untuk mempertahankan hidupnya, mereka harus bertarung. Aku akan menyediakan banyak babak untuk mereka lewati. Modal yang mereka harus miliki hanyalah isi kepala yang kaya. Pertarungan sengit ini barangkali akan seperti acara Kuis Siapa Berani atau Rangking Satu. Mereka akan mempertaruhkan pengetahuan mereka dengan berbagai soal dan pertanyaan.
Jika kandidat sudah menipis menjadi sepuluh, tes terakhir adalah tes berkencan dengan penilaian yang sangat subyektif dariku. Kencan yang akan kami lakukan akan penuh dengan obrolan seperti tes wawancara tapi akan lebih mudah karena aku tak perlu menanyakan beberapa hal seperti: mantannya, saudara-saudaranya, atau bahkan orang tuanya. Karena barangkali mereka telah aku bunuh dan perjalanan kami ke depan tak akan lebih mudah tanpa adanya hal-hal tersebut.
Dari sepuluh kandidat ini akan aku saring lagi menjadi lima dan aku akan memilih satu laki-laki yang paling cocok denganku.
Lalu bagaimana jika sampai akhir pertarungan tak ada satu kandidat pun yang lolos? Bagaimana jika setelah membunuh laki-laki dengan usia yang terlalu muda dan terlalu tua, tak ada satu laki-laki pun yang tersisa? Tak jadi masalah. Kalau memang betul tak ada laki-laki yang tersisa, artinya memang betul tak ada laki-laki yang ditakdirkan untukku. Buktinya sudah jelas; teramat jelas.
Ketika sudah pasti tak ada laki-laki yang ditakdirkan untukku, aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan keluargaku: bapak, ibu, dan kedua adik-adikku. Tak jadi masalah jika memang aku akan menghabiskan sisa hidupku seorang diri. Toh aku sudah melakukannya selama 30 tahun ini. Kami akan merayakan pembuktian yang jelas terbukti. Kami akan habiskan sisa waktu di dunia ini dengan rasa sepi berlima. Kami akan sama-sama sengsara dan kesepian. Setidaknya tidak hanya aku yang tidak bisa menikah. Adik adikku juga. Kami akan menjadi lima manusia terakhir yang ada di bumi.
Tuesday, October 3, 2023
Untuk Nita si Petualang
Segala ingatan tentang pengalaman pertama apresiasi seni selalu tersimpan rapi di kepala. Aku tak pernah lupa bagaimana pertama kali aku menonton wayang dengan pencahayaan ublik (lentera) dan debog (pohon pisang) di Trenggalek bersama kakek di tempat mbecek (kondangan) dengan berangkat menaiki sepeda kumbang, teater pertama yang kebetulan cukup surealis di Gedung Kesenian Cak Durasim dengan kaos berkerah berwarna merah jambu, dan tentu saja film pertama di bioskop, Petualangan Sherina.
Kala itu tahun 2000 aku masih berusia tujuh tahun, kenaikan kelas 3 SD. Setelah menerima rapor dan mendapatkan hasil yang memuaskan yaitu rangking 1, aku langsung mengutarakan keinginanku: "Nonton Petualangan Sherina sekarang. Pokoknya sekarang. Titik." Bioskop dekat rumah yang menjadi tujuan adalah Mitra 21. Tiketnya masih Rp8.000 dan ngantrinya lamaa banget. Berangkat dari rumah jam 12, bersama bapak, dan kami baru dapat jadwal nonton jam 19. Ketika ditawari untuk pulang dan menunggu di rumah, aku bersikeras menolak. Akhirnya aku dan bapak mengaso di masjid belakang Mitra 21 yang sekarang menjadi satu kawasan Balai Pemuda a.k.a Alun-Alun Surabaya. Sampai hari ini, 23 tahun kemudian, ingatan dan perasaanku hari itu masih tersimpan rapi di kepala.
Sejak kecil, aku lebih suka memilih mainan pistol dan pedang. Setelah menonton Petualangan Sherina, aku jadi semakin suka dengan karakter-karakter cewek pemberani dan perkasa. Xena The Princess Warrior dan Sherina adalah karakter cewek yang aku suka sejak kecil. Petualangan Sherina memberikan efek yang luar biasa di masa kecilku. Aku tak begitu punya kenangan fisik berupa CD atau poster. Tapi di kepalaku ada ingatan yang terus berputar bagaimana inginnya aku menjadi petualang yang pemberani dan kuat. Kalau ke luar kota aku selalu ingin pakai sepatu boots, tas ransel, dan jaket bomber.
Ketika umur bertambah, aku tumbuh dengan benih-benih yang Sherina tinggalkan di filmnya: selalu bertanya, 'Kenapa sih kok...' 'Emang...' 'Kok bisa ya...' Ketika umur bertambah, sebenarnya aku juga tumbuh jadi gadis tomboy yang kadang terobsesi pakai flannel dan kaos oblong. Waktu kuliah, aku suka banget pakai celana jeans belel dan selalu merasakan kesenangan yang meletupp-letup tiap kali ada perjalanan ke luar kota. Ketika menonton sekuelnya, Petualangan Sherina 2, aku seperti diingatkan bahwa aku dulu juga sempat memiliki kepercayaan diri dan keberanian yang cukup besar. Aku pernah menjadi Nita yang tidak meragukan kemampuan dirinya. Tapi sayangnya, aku cukup pengecut untuk jadi petualang. Aku merasa aku tak ke mana-mana dan diam di tempat.
Meski hari ini aku masih menjadi Nita yang keras kepala dan ngeyelan seperti Sherina, tapi aku seperti kehilangan dan merindukan Nita yang percaya diri dan pemberani.
Awalnya aku pikir aku memang tidak pernah ke mana-mana. Aku tak pernah menjelajah panjangnya sungai Kapuas, menaiki tingginya gunung Jaya Wijaya, ke tempat paling asing, ke Banda Neira, mengunjungi suku Baduy, atau bahkan ke luar negeri melihat aurora. Aku tidak pernah merantau, ke luar pulau hanya ke Bali, liburan favorit cuma ke Solo, berkemah di alam juga baru sekali.
Aku sedih. Aku seperti tidak pernah mengajak Nita ke tempat-tempat baru yang asing namun menyenangkan. Ternyata aku cukup pengecut.
Tapi aku punya ingatan yang baik tentang bagaimana ia membawa bekal yang cukup banyak untuk menghadapi hidup. Segala pengalaman hidup yang aku hadapi adalah petualangan bagi Nita. Nita membuat hidup seperti perjalanan ke tempat-tempat.
Nita,
kita telah berpetualang jauh ke rimba raya hidup yang tak pernah kita duga. Kita punya tubuh yang luar biasa; tidak pernah mabok. Tubuh kita mampu bertahan begitu hebatnya di dalam situasi dan keadaan apapun. Naik mobil, bus ekonomi yang penuh sesak dan keringat, kereta ekonomi dengan kursi tegak selama dua belas jam, naik perahu dengan ombak yang rasanya seperti ditimang lalu tertidur. Bahkan, kita tak pernah butuh sandaran leher dan bisa mengatur tubuh untuk bisa tetap tidur di dalam perjalanan.
Kita jago membaca peta. Kita tahu bagaimana cara membaca peta topografi. Kita tahu dan paham mana letak barat, timur, utara, dan selatan. Tapi toh kita pernah juga tersesat tanpa arah dan terpaksa mengubah tujuan; tanpa ada petunjuk berupa bintang utara atau remah roti. Tapi kita selalu menemukan jalan. Kita selalu melihat peristiwa tersesat adalah sebuah petualangan untuk mengenal jalan pintas baru.
Kita pernah tenggelam di tempat paling dalam: Palung Mariana. Rasanya gelap, sepi, sendiri, dan basah. Kita pernah ada di tempat dengan malam paling panjang, penuh badai, dan tanpa matahari. Namun kita tetap saja selalu selamat dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.
Kita pernah bertemu dengan satu dua petualang. Petualang pertama bernama Kelana yang kemudian mengubah namanya menjadi Pak Tualang dan ia tak pernah mau pulang ke bait. Satu petualang lain adalah petualang yang cukup lama membersamai malam-malam panjang namun ternyata berbeda tujuan. Ia hendak ke Timur, kita ke Selatan. Kita tawarkan untuk ke Tenggara, namun ia menolak.
Kita pernah ke hutan beton Jakarta yang asing dan membingungkan. Ah, ternyata kita selalu mengaitkan hal-hal yang kita temui ini menjadi tempat petualangan.
Nita,
tubuh kita memang tak pernah banyak menjajaki tempat-tempat. Tapi kita tumbuh dengan membaca, dan ini yang membuat kita berpetualang melewati waktu dan tempat. Kita tumbuh dengan rasa penasaran yang tinggi, dan ini bisa membuat kita terus belajar dan berpetualang menjelajahi dunia meski raga tetap di sini-sini saja.
Kita memang belum sampai ke puncak hidup. Tapi perjalanan yang berkelok dan sering tersesat tak tahu arah ini adalah petualangan yang tak kalah menyenangkan.
Terima kasih, ya. Aku janji, suatu hari nanti, kita akan pergi ke Indonesia Timur untuk menjadi Panitia Penerbitan Matahari, ke Kabelegi untuk residensi, atau bahkan kita akan ke tempat-tempat yang orang lain tak pernah kunjungi. Barangkali petualang-petualangan selanjutnya akan ditemani oleh petualang lain dengan tujuan yang sama. Suatu hari nanti.
*
Aku dan Nita akan terus tetap berpetualang. Aku akan biarkan ia melihat dunia ini dengan caranya sendiri. Sebab aku telah hidup bersamanya selama 30 tahun. Sampai atau tidak sampai di puncak hidup, kami akan terus berpetualang. Kami tak sabar untuk bertemu dengan hal-hal yang mengejutkan lain dalam hidup.
Sunday, January 29, 2023
Self-train
Soal belajar, aku sering tidak mengingat bagaimana caraku belajar sampai bisa mengantarkanku untuk memiliki beberapa keahlian. Di bangku sekolah, aku tidak pernah mengingat betapa tersiksanya masa-masa belajar di sekolah formal. Bahkan ketika duduk di bangku SMK yang memiliki 25 mata pelajaran, praktikum, dan kimia tiga biji, aku tidak merasa sekalipun tersiksa.
Ibu sering bercerita ke orang lain bahwa beliau tidak pernah memaksa anak-anaknya belajar. Ini benar adanya. Pernah suatu waktu di minggu-minggu UAS, ibu mengingatkan, "Besok UAS. Tidak belajar?" Aku menolak dengan alasan malas. Kata ibu, nilai jelek dan malu karena tidak naik kelas adalah urusanku. Pada akhirnya nilaiku bervariasi. 0, 20, 35, sampai 100 pernah kudapat. Ibu tak pernah marah.
Sampai suatu ketika, aku mengajar seorang murid les yang memiliki kesulitan belajar. Ia tidak mau belajar. Lalu aku bertanya pada ibu, "Bu, dulu tuh ngajarin aku baca dan tulis seperti apa?" Berkali-kali ibu menjawab tak pernah mengajari secara formal dengan duduk dan buku. Tak puas, aku mengoreknya lagi.
Ibu kemudian mengaku. Ibu mengajariku berhitung lewat kegiatan rumah sehari-hari: menghitung cabe, telor untuk bikin kue, bertanya jam, dll. Ibu juga sering membuka empat meja (satu untuk dia, satu untuk anak-anaknya) dan membuka jurnal pekerjaannya. Katanya, setelah itu, aku dan adik-adik membuka buku. Entah itu cuma membaca atau mengerjakan PR.
Aku juga mencoba mengingat bagaimana aku mempelajari belajar. Yang aku ingat, ketika sudah bisa membaca, semua hal kubaca. Baliho, iklan, brosur, stiker. Apapun. Aku mau mengenali dan membaca semua huruf tanpa peduli artinya dan salah ucap. Aku begitu antusias dengan huruf-huruf yang berjejer dan bisa dibaca lalu menghasilkan bunyi. Kebiasaan ini ternyata terpatri hingga dewasa.
Setahun lalu, aku belajar aksara Hangeul. Sekarang, setiap kali aku melihat Hangeul, aku baca. Aku tidak peduli salah tajwid dan tidak memahami artinya. Aku justru lebih senang kalau kawanku mengoreksi dan memberi masukan. Kebiasaan seperti ini ternyata juga berlaku di bidang lain seperti fotografi, tari, menulis, memasak, renang, dll. Hampir semua keahlianku tidak bermentor. Aku suka mengulik dan mempelajari semuanya sendiri. Sesekali mengikuti lokakarya, pelatihan, dan mencari teman diskusi.
Belakangan aku juga menyadari bahwa aku tidak cocok dengan metode belajar duduk dan mendengarkan. Awalnya aku merasa aneh kenapa teman-temanku suka belajar(duduk dan mendengarkan) sedangkan aku tidak. Lalu dari mana datangnya semua keahlian ini? Ternyata, aku lebih nyaman dengan metode belajar eksploratif, observasi, dan self-train.
Tapi sayangnya, metode belajarku tentu saja memiliki kekurangan. Ketika temanku memintaku untuk mengajari suatu keahlian—menulis— aku kebingungan harus dimulai dari mana. Padahal aku juga butuh mengurai step belajar menulis untuk membuat kurikulum agar apa yang aku pelajari selama ini bisa disebar dan dibagikan.
Maka dari itu, aku merasa sangat senang sekali kalau ada kawanku yang meminta masukan tulisannya dan mengajakku berdiskusi tentang tulisan. Belum lagi ternyata hal ini pelan pelan mengembalikan kepercayaan diriku untuk menulis.
Monday, December 26, 2022
Mencatat Prestasi Baru
Kata Putu Wijaya, semakin pergi orang, maka ia semakin pulang. Bagiku, pulang adalah perjalanan-perjalanan yang bertolak dari Surabaya. Inilah kenapa aku selalu merasa senang ketika harus melakukan perjalanan. Apalagi perjalanan adalah salah satu cara perjumpaan dengan diri.
Aku selalu membawa masalah hidup ketika melakukan perjalanan. Destinasi paling utama dalam setiap perjalanan adalah bengong dan jurnaling di kafe. Meski aku melakukan perjalanan bersama orang lain, aku selalu menyempatkan waktu untuk melakukan ritual ini. Pulang dari perjalanan, tas terasa enteng. Bukan bebannya yang berkurang, tapi pundaknya yang semakin kuat.
Namun pernah ada satu kejadian yang membuatku memutuskan bahwa perjalanan paling baik adalah perjalanan yang dilakukan sendirian.
Pertengahan tahun lalu aku melakukan perjalanan ke Semarang, menginap di salah satu kos teman komunitas. Ternyata, beberapa orang dari komunitas yang sama sedang berada di kota itu untuk melakukan perjalanan dinas. Lalu kami semua bersepakat untuk bertemu dan main bareng pada hari Sabtu malam dan Minggu.
Seperti biasa, aku membawa masalahku yang akan aku uraikan dan bahas pada hari Senin. Aku berencana meminjam motor kawanku yang sedang bekerja untuk berkeliling kota Semarang. Namun rencana hanyalah rencana.
Pada hari Sabtu malam, aku dan enam kawanku bertemu dan mengobrol. Kami tertawa, bercanda, dan menukar banyak cerita seperti tujuh kawan lama yang pernah terpisah. Semua berjalan menyenangkan. Hingga sampai pada hari Minggu siang, salah satu kawanku tak sengaja menyenggol beban masalah yang sudah aku sembunyikan dengan rapi. Aku meledak.
Setelah dua jam, tangisku mereda. Setelah satu setengah tahun kemudian, yaitu hari ini, aku baru saja menyadari kalau aku tidak nyaman dengan cara mereka meredakan tangisku. "Apa yang kamu rasakan tidak benar", "Kamu tidak seharusnya (menangis) begini", "Energi yang kamu keluarkan untuk menangis tadi cukup besar, harusnya kamu bisa gunakan energi itu untuk bersenang-senang", "Liburan ini agak rusak karena kamu menangis", diplomasi lain agar aku meredakan tangisku, dan martabak asin dan manis masing-masing sekotak yang dimakan bersama denganku yang berusaha menekan tangisku.
Setelah perjalanan Semarang itu, aku bertekad untuk melakukan perjalanan demi perjalanan dengan seorang diri. Satu-satunya orang yang hanya ingin aku temui adalah diriku sendiri.
Lalu, beberapa bulan lalu, keinginan untuk berjalan lebih jauh muncul. Untuk perjalanan kota dan perjalanan hidup. Katanya, kalau mau berjalan jauh, jalannya bareng-bareng; kalau jalannya mau cepet sampe, jalannya sendirian. Aku juga tidak mau menghabiskan sisa kesempatan perjalananku dengan tergesa. Maka dari itu, aku harus melatih diriku untuk mencoba membuka diri untuk bisa melakukan perjalanan dengan teman.
Percobaan pertama tidak berakhir dengan baik. Namun aku tidak melihat perjalanan ini sebagai kegagalan. Aku justru malah menemukan dan menyadari perasaan sepi yang sudah lama aku tekan untuk kemudian aku hadapi, olah, dan selesaikan. Aku sudah menulis cerita ini, tapi masih diedit karena tidak mudah bagiku menghadapi perasaan kesepian. Maka, ketika aku siap, aku akan melakukan percobaan kedua.
Kemarin Sabtu(24/12) dan Minggu(25/12), aku baru saja menyelesaikan percoban kedua. Lagi lagi perjalanan ini tidak berakhir dengan baik namun aku menemukan hal baru di dalam diriku(masih ingat tetang tujuan perjalanan adalah pertemuan dengan diri?).
Perjalanan kali ini lebih ekstrim dari perjalanan sebelumnya. Aku dan belasan kawan lain berangkat dari Surabaya untuk berkumpul bersama di satu villa di Trawas. Aku akan bertemu dengan 25 orang asing dan tidur semalam dengan satu atap dengan mereka.
Akhir yang tidak baik itu adalah: aku kelelahan. Aku kesulitan beradaptasi. Aku lelah dengan banyaknya orang. Aku lelah dengan usahaku untuk terkoneksi dengan mereka. Ini belum pernah aku lakukan sebelumnya. Namun aku berkenalan dengan sebuah perilaku baru dariku; nanti aku ceritakan. Aku juga berkenalan dengan sebentuk cinta yang baru.
Malam hari, setelah makan malam, kami duduk ber-26 di ruang tengah untuk bermain kartu Tentang Kita. Di lingkaran ini, tidak asing bagi kami untuk membiacarakan hal hal yang pelik dan rumit. Ada tangis dan tawa ketika kami berusaha menjawab pertanyaan dari kartu Tentang Kita. Tak hanya makanan, kami juga membagi banyak peristiwa, cerita, pengalaman, dan emosi.
Salah seorang dari kami baru saja mengalami hal yang pernah aku alami enam bulan yang lalu. Aku pernah ada di posisinya. Meski kondisi dan peristiwa kami tidak presisi, aku dapat mengerti betul apa yang ia rasakan sekaligus menjadi pendegar ceritanya. Ketika aku menguatkannya, aku seperti menguatkan diriku sendiri.
Jawaban-jawaban pertanyaan dari kartu, mendatangkan cerita lain. Kalau aku bisa menjadi lampu yang menerangi kami, aku sedang melihat ada 26 manusia yang sedang menciptakan sebuah ruang untuk bisa sama-sama saling mendengar. Sama-sama saling bersedia dan berani untuk ikut mencicipi kepahitan hidup orang lain. Sama-sama saling belajar untuk menghadapi pembicaraan tentang hal hal yang berat dan rumit. Aku mengenal sebentuk cinta yang baru.
Tentu saja peristiwa ini memiliki efek samping. Bagi aku yang memiliki perasaan yang sensitif dan mudah berempati begini, mendengarkan 25 cerita seperti sedang memeras emosi. Aku tadi sempat bilang kalau kami belajar untuk terlatih membicarakan hal-hal yang berat. Aku jarang ikut dalam forum itu. Aku suka obrolan berat. Aku bisa berjam jam bahkan sampai subuh melakukan hal ini dengan satu orang. Hanya dengan satu orang. Kalau dengan 25 orang...tenagaku rasanya diperas.
Belum lagi aku memosisikan diri untuk mendapat tiga sudut pandang. Aku sebagai diri sendiri yang mengalami hal yang sama seperti yang dialami kawanku, aku sebagai pendengar bagian dari koloni, dan aku sebagai sudut pandang ketiga yaitu lampu ruang tengah yang melihat koloni ini.
Malamnya, aku hanya bisa tidur selama setengah jam dan pulangnya berhasil membawa oleh-oleh angin dari Trawas yang sejuk yang aku simpan di dalam tubuh. Untungnya Tanggulangin tak memperbolehkanku membawa angin tersebut ke Surabaya karena Tanggulangin adalah Tanggul Angin.
Meski berakhir ngedrop, tapi prestasi baru telah tercatat: mengizinkan diri sendiri untuk berangkat dan bermalam dengan 25 orang asing dalam satu atap.
Thursday, October 6, 2022
A Day with Adya - I
Pagi-pagi betul—tepatnya selepas subuh, Adya datang ke rumah. Seperti biasa, ia mengenakan baju dinas andalannya: kaus abu-abu lusinan, jaket butut merah marun, celana khaki selutut, tas selempang kanvas berwarna coklat, dan sandal gunung butut.
"Pagii!" begitu sapanya dari atas sepeta butut milik pamannya dengan gigi meringis ketika aku mulai berjalan ke arahnya.
Tentu saja aku menyambutnya dengan wajah yang ditekuk karena ia menjemput terlalu pagi tidak sesuai janji. "Subuh! Masih subuh ini, Mas!"
Ia tertawa. Kali ini singkat, tidak terlalu lepas seperti biasanya. Sebab jika ia tertawa lepas, aku nanti yang kerepotan mengumpulkannya menjadi satu. Ia menyalakan mesin motornya. Aku langsung saja menaiki jok belakang motornya.
"Siap?" tanyanya. Tanpa perlu menunggu jawabanku, ia langsung melaju.
Tujuan pertama kami adalah Pantai Timur untuk melihat salah satu fenomena alam favoritnya: matahari terbit. Kebetulan semalam baru saja terjadi fenomena favoritnya yang kedua: purnama. Sehingga air laut agak sedikit naik dengan ombak yang masih pasang.
Sesampainya di Pantai Timur, langit masih gelap. Kami memutuskan untuk menelusuri tepi pantai untuk menunggu matahari terbit.
Kami berpapasan dengan nelayan yang baru saja menepi. Tanpa pamit, ia tiba-tiba saja berlari-lari kecil menuju nelayan-nelayan itu. Aku menghela napas, hapal dengan tabiatnya, lalu melanjutkan langkah kakiku setelah mengisyaratkan kepadanya kalau kalau aku akan ke tempat yang aku tunjuk. Ia mengangguk.
Aku berjalan, memilih tempat yang aman untuk duduk sambil memandang cakrawala timur dan menikmati debur ombak pasang yang bergemuruh. Sesekali aku melihat Adya dari kejauhan. Ia begitu luwes bergaul dengan bapak-bapak nelayan. Sampai tak berapa lama, ia menuju ke arahku dan…membawa segepok ikan.
Dia tak suka ikan, apalagi ikan laut. Untuk apa membawa ikan sebanyak itu?
Setelah mendekat, ia langsung menjelaskan sambil menyerahkannya kepadaku, “Untuk ibu masak di rumah. Kamu dan adik-adikmu kan suka banget ikan laut.”
Aku mengernyitkan dahi. Aku tak akan pernah mengerti bagaimana caranya berpikir. Tapi aku terima saja ikan pemberiannya sambil berucap terima kasih.
Ia duduk di sampingku, memandang langit yang sama. Kali ini benar-benar sama.
“Dya, apakah buku laksana matahari? Sebab keduanya memiliki kegiatan yang sama: terbit,” tanyaku tanpa menatapnya seperti kebiasaanku sebelumnya.
“Barangkali iya. Keduanya juga menerangi. Matahari beri cahaya, buku beri ilmu. Cahaya dan ilmu sama-sama menerangi. Terang pada ilmu tak hanya isyarat atau perumpamaan. Kamu pasti sering dengar kalimat ‘si A menerangkan hal baru kepada si B,’” terangnya panjang lebar.
“Apakah di bawah cakrawala terdapat percetakan?”
“Mungkin. Barangkali ada.” Kami diam sejenak. Lalu ia melanjutkan, “Ini kita sedang nunggu prapesan matahari, sebab matahari belum terbit, tapi kita sudah di sini.”
Kami tertawa.
Ia berujar lagi sambil menunjukkan tangannya, “Kalau matahari tinggi sedikit, bilang saja best seller. Kalau matahari sedang tepat di atas kepala kita, namanya mega best seller.“
“Di Surabaya mataharinya selalu mega best seller,” aku tiba-tiba menyahut. Kami tertawa lagi.
“Tapi ketika ia hendak tenggelam, ia menjelma manusia: renta.”
Aku menatapnya, melengkapi kalimatnya, “Lelah di mana-mana, raung klakson merengek minta pulang, apalagi?”
Ia menggeleng. “Itu kan kota. Ini matahari dan manusia.”
Aku memandangi cakrawala yang menyebarkan cahaya oranye.
“Tak punya daya dan seakan hendak menyerah sebab cahayanya makin redup?” tanyaku dengan memandangnya lagi. Ia mengangguk.
Ia membalas tatapan mataku. “Lalu pulang. Banyak yang pulang ketika matahari hendak tenggelam atau ketika manusia telah menua.”
Pulang adalah kata yang paling sering kami ucapkan. Bagi kami, pulang tak melulu tentang rumah. Aku memandangi matanya dalam-dalam. Aku mencari-cari, menunggu argumen apa yang terlontar darinya tentang pulang kali ini.
Ia meringis, mengusap puncak ubun-ubun kepalaku. “Ngapa da dipikir? Tengok ja lah itu langitnya.”
Kami kembali memandangi langit dengan latar suara ombak. Sesekali aku memejamkan mataku, mendengarkan suara alam paling indah.
Matahari perlahan naik merangkak. Aku memandang manusia di sebelah kananku sekali lagi. Kini ia yang memejamkan matanya. Garis-garis wajahnya begitu semakin tegas ketika diterpa cahaya lembut dari matahari pagi. Ia tersenyum, aku mengikutinya.
“Aku tak pernah melihat matahari terbit seindah ini,” kataku.
“Lha yen tangimu awan terus, piye nek mu mbandingke?” tanyanya. Ya kalau bangunnya siang, gimana caramu membandingkan?
“Aku tuh bisa tauk jadi morning person. Cuma males aja nyari spot buat lihat matahari terbit,” sanggahku.
“Tur ra enek sing keno dijak ndeleng ngenean isuk-isuk?” ia menegaskan. Belum lagi tidak ada yang bisa diajak lihat beginian pagi-pagi?
“Lha mesti apes og. Yen ndeleng dewe i iso uapik. Mesti apik. Yen ngajak kanca, mesti zonk. Mendung. Ndeleng dewe mager, ngajak konco zonk. Kan hadeh,” protesku. Selalu apes. Kalau lihat sendiri bisa baguuus banget. Selalu bagus. Kalau ngajak temen, selalu zonk. Mendung. Lihat sendiri mager, ngajak temen zonk. Kan hadeh.
“Bedjo, we, dino iki,” tiba-tiba ia menarik kesimpulan. Kamu beruntung hari ini.
“Iya. Panitia penerbitan mataharinya canggih, nih. Dah lihatnya ada temen, bagus pun. Dapat souvenir ikan segepok pula.”
“Ini belum apa-apa, Nyit.”
“Ah iya. Baru pagi, ya.”
“Huum. Baru pembukaan. Penilaian panitia diadakan nanti malam.” Ia berdiri, mengulurkan tangannya, mengajakku berdiri. “Yuk, masih ada beberapa tempat lagi yang harus kita kunjungi.”
Aku menyambut uluran tangannya dan ikut berdiri. Kami lalu berjalan menuju parkiran. Kami menaiki motor dan melaju ke destinasi selanjutnya: sarapan.
Menurut kami, pagi yang sempurna adalah pagi dengan sarapan bubur ayam. Kami tiba di salah satu tempat bubur ayam langganan.
“Mang, kayak biasanya, ya. Dua. Satu jumbo, satunya biasa. Yang jumbo pake telor, yang satu ga pake telor. Minumnya…air putih aja,” pesanku ke mamang penjual bubur ayam.
“Merica dan kecap asinnya ambil di situ, ya,” katanya sambil menunjuk botol merica dan kecap asin yang berbaris di tempat yang tidak bisa ia jangkau.
Aku tersenyum dan mengambil botol merica dan kecap asin tersebut, dan berjalan menuju kursi yang telah disiapkan Adya tak jauh dari tempatku berdiri. Ada tiga kursi. Satu kursi telah ia duduki, satu kursi sebelah kirinya untuk aku duduki, dan satu kursi di depan kami. Aku meletakkan merica dan kecap asin di atas kursi kosong tersebut.
“Nyit, nanti pulang dulu aja, ya. Karena nanti kita bakal main sampai malam, sepertinya kita butuh mandi dan memakai baju yang layak.”
“Oke.”
“Pakai baju yang belel, ya.”
“Kok ngatur? Katanya layak, kok belel?”
“Karena destinasi-destinasi kita nanti akan lebih menyenangkan kalau pakai baju belel. Dijamin, kalau kamu pake dress lalu aku pakai kemeja safari, ga bakal cocok. Layaknya ya pake baju belel.”
Aku memandangnya dengan menyipitkan mata curiga.
“Udah, percaya aja ka aku.”
Dua mangkuk bubur pesanan kami datang. Kami berdua menerima mangkuk tersebut sambil tersenyum dan berterima kasih.
“Kita mau ke mana, sih?”
Adya diam saja. Ia fokus mengaduk buburnya.
“Dya, kita kamu ke mana? Nyasar dulu? Nyasar bukan destinasi, ya.”
Ia menarik napas, meletakkan sebentar buburnya yang masih setengah teraduk. “Kali ini kita punya destinasi. Nanti aku kasih tahu. Sekarang kita makan dulu, ya.”
Aku menurut. Lagi. Kami fokus menikmati makanan kami hingga habis.
Setelah mengembalikan mangkuk dan membereskan sampah yang kami buat, kami membayar sarapan bubur kami. Kami beranjak. Adya mengantarkanku pulang.
Baru saja aku turun dari motornya, Adya langsung menodong perintah, “Gak perlu lama-lama, ya, siap-siapnya. Sejam cukup, kan? Sekarang pukul tujuh, satu jam lagi aku sampai sini.”
“Cepet banget,” protesku.
“Sayang aja sih kalau waktunya dibuang. Aku juga akan siap-siap sekilat mungkin, kok. Lima belas menit dari sekarang aku baru sampai kontrakan. Mandi dan siap-siap setengah jam cukup. Lalu jalan lagi ke sini lima belas menit. Ya paling molor lima sampai sepuluh menit lah. Cukup?”
Aku ingin protes lagi. Sebetulnya satu jam adalah waktu yang cukup untukku siap-siap. Tapi aku rindu kasurku. Aku ingin goleran agak lama sedikit.
Adya memberikan penawaran lagi, ”Nanti pas aku jemput, aku kasih tahu kita akan ke mana. Kita taruhan. Kalau tujuannya tidak membuatmu senang, kita bisa batalkan acara kita hari ini.”
Melihat wajahnya yang tegas dan serius, aku tak berani merengek dan meminta macam-macam lagi. Lagi-lagi aku menurutinya.
Adya menyerahkan ikan segepok yang ada di kemudinya sambil mengingatkan, “Jangan lupa pakai baju belel dan sepatu, ya. Kaos oblong dan jaket sudah cukup.”
Aku menerima ikan itu dan mengiyakan peringatannya yang sekaligus memberikanku ide harus pakai baju apa sehingga aku tak perlu berpikir lebih banyak untuk memutuskan memakai baju apa. Kaos dan jaket sudah cukup, jangan lupa sepatu. Oke.
Aku berpesan hati-hati. Ia mengangguk dan melaju pergi. Aku melihat punggungnya menjauh. Ketika punggungnya tidak terlihat lagi, aku masuk rumah.
Sampai di dalam rumah, aku meletakkan ikan ke dapur dan mencuci tanganku. Kemudian aku berlari ke kamar dan membuka lemari, melihat baju bersih yang tersedia dan cocok dengan syarat jalan-jalan kali ini. Kaos oblong dan jaket…ada!
Aku segera mandi dan bersiap diri. Ternyata, tak butuh waktu satu jam. Sisa waktu yang tersisa aku gunakan untuk menunggu di ruang tamu sambil selonjoran.
Tak berselang lama, tepat pukul delapan, suara motor butut Adya terdengar dari ruang tamu. Aku ke dapur mengecek tak ada kompor yang menyala, ke kamar mandi mengecek kran tidak menyala, dan ke kamarku sendiri untuk mengecek tidak ada perangkat listrik yang menyala, lalu aku keluar rumah.
Dari dalam pagar, Adya terlihat mengenakan kaos oblong, flannel kota-kotak merah putih, celana jeans belel, dan sepatu converse high favoritnya. Nampak normal seperti biasanya. Namun ketika mendekat ke sampingnya, aku kaget dengan detil dari baju yang ia kenakan.
Sepatu favoritnya yang ia kenakan itu kini telah menua. Aku ingat betul sepatu itu dulu berwarna biru navy. Kini berubah menjadi hampir abu-abu. Belum lagi solnya yang sudah sah menipis dan lem yang lepas di bagian samping sepatu.
Naik sedikit ke celananya. Aku yakin, celana jeans yang ia gunakan tidak dicuci selama dua bulan. Ada robekan sedikit di lututnya yang sebentar lagi pasti akan melebar.
Lalu naik lagi ke atasannya. Aku tidak kaget dengan flannel kotak-kotak merah putih yang sedikit memudar. Ia sering mengenakan kemeja tersebut. Namun kaos oblong yang ia kenakan membuat mataku melotot. Dari dekat, kaos oblong berwarna krem itu terdapat robekan tipis nyaris bolongdi bagian jahitan leher. Aku familiar dengan kaos ini.
“Aku kayaknya ada pernah kenal dengan kaos ini,” aku memastikan.
Dengan bangganya ia menyibak flannelnya dan memperlihatkan gambar yang disablon di dada sebelah kiri: FSRD09. Kaos ospek ketika ia maba masih ada. Kaos yang sama itu terakhir kali aku lihat delapan setengah tahun yang lalu ketika mampir di kontrakannya di daerah Tukad Badung, Denpasar Timur, ketika ia sedang menjadi mahasiswa tingkat akhir dan sibuk mengurusi administrasi kampus setelah pameran dan sidang. Robekan yang ada di jahitan leher itu ada karena ia sering menggigitnya ketika berpikir atau sedang mengerjakan sesuatu.
"Tua banget??!!"
"Seusia perkenalan kita," godanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Lalu ia mengarahkan pandangannya naik turun kepadaku. Melihatku yang mengenakan celana berwarna krem, kaos biru dan jaket abu-abu. “Cosplay langit mendung?”
“Yoi. Biar hari ini terang. Sebab mendungnya sedang kukenkan.”
“Akan selalu terang, kan kamu bersamaku.” Galang adalah bahasa Bali yang artinya terang. Terang langit yang tidak mendung. Terang yang cahaya.
“Sesuai janjimu, kamu akan menjawab pertanyaan destinasi kita hari ini,” tagihku.
Ia tersenyum. “Kita nanti akan muter-muter ke tempat-tempat kesukaan kita. Malamnya, destinasi utama kita adalah…Kabelegi.”
Aku membelalakkan mata dan mulutku, nyaris memekik berteriak. Sontak, aku melompat-lompat dan menarik-narik lengannya. Kabelegi. Tempat nun jauh yang telah lama kita perbincangkan dan dambakan.
“Aduh, aduh, makin robek nanti, Nyit,” ia mengaduh sambil memegangi kemeja flannelnya.
Aku segera naik di jok belakangnya dengan sedikit melompat, tanpa peduli keseimbangan yang Adya miliki, menepuk pundaknya, dan berteriak, “Lesgo!!”
Kami melaju memecah jalanan. Aku tak sabar dengan destinasi utama kami. Aku juga tak kalah penasaran tempat-tempat yang akan kami kunjungi.
Monday, October 3, 2022
Juni
Dengarkan musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dibawakan oleh Ari Reda di layanan musik favorit.
*
Juni pernah mengira Juni adalah waktu paling romantis. Sebab namanya telah disebut sebagai bulan yang memiliki hujan paling tabah, bijak, dan arif oleh salah satu penyair favoritnya. Juni juga adalah alasan mengapa Juni terlahir dan ada di dunia.
Juni kemarin, Juni seperti berkhianat pada Juni. Juni melukai Juni sebanyak enam kali. Seperti hukuman bertubi bulan-bulan sebelumnya yang dirapel jadi satu. Tapi Juni tak ingin mengutuk dan merutuk Juni. Juni tahu, Juni tak salah apa-apa.
Juni tak datangkan syahdu hujan untuk Juni. Melainkan angin badai nestapa. Namun Juni telah membuat Juni menjadi lebih tabah, bijak, dan arif. Seperti yang dijanjikan Sapardi.
Juni tidak membenci Juni. Juni sungguh ingin berterima kasih kepada Juni karena telah memberinya pelajaran. Juni juga ingin berterima kasih kepada Juni karena telah kuat bertahan meradang, menerjang, dan membawa bisa berlari hingga hilang pedih perih seperti yang dikoarkan Chairil Anwar.
*
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu



