Wednesday, April 13, 2016

Hal yang Amat Kuinginkan

Aku tak ingin menjadi kekasihmu; yang akan menangis jika kehilanganmu.

Aku ingin menjadi kelima jemari tangan kananmu; yang selalu kau gunakan untuk makan, karena aku ingin lebih dekat dengan bibirmu; yang selalu kau gunakan untuk meraba dagumu, untuk mengecek apakah jenggotmu perlu dicukur;  yang  untkau gunakanuk memetik gitar, sampai membiru dan kapalan; yang kau gunakan untuk menulis puisi, menggambar sketsa.

Aku ingin menjadi punggung tanganmu. Tentu saja hanya karena aku ingin mengusap peluhmu.

Aku ingin menjadi bagian dari tangan kananmu yang kau butuhkan, yang tak pernah lepas darimu, yang tak kan kau sia-siakan. Sebab aku tahu bahwa kau mencintainya, dan kau akan menangis jika kehilangannya.

Monday, April 11, 2016

Ketika Hanya Kami Berdua

Mirip Galang, katanya. Itu yang ia laporkan kepada saya ketika kami berdua duduk memperhatikan orang-orang. Lalu mendapati seorang pria datang dengan setelan kaos abu-abu, jaket merah marun, celana cargo selutut, tas merah butut dengan buku gambar yang mencuat di salah satu sisinya.

Saya tak tahu Galang itu lelaki yang mana.

Yang kurus, tinggi, jangkung, rambut lurusnya ––yang jarang dipotong dan disisir–– selalu menutupi setengah telinga dan tengkuknya. Pundaknya nraju mas. Matanya kecil tapi tidak sipit, sedikit cekung. Begitu katanya.

Saya tetap tak mengerti.

Dia suka menulis. Amat suka. Yang dibuatnya pertama kali adalah karakter lelaki. Dan itu selalu sama. Kurus, tinggi, rambutnya mencuat kemana-mana. Seperti yang ia katakan tadi. Profesinya selalu nyaris sama : berhubungan dengan gambar-menggambar. Illustrator, arsitek, desainer, atau perupa lainnya. Pendiam, temannya tak banyak, nyaris anti sosial, dan satu lagi : bermusuhan dengan bapaknya.

“Galang itu masterpiece-ku!”

Patokan karakter?

“Iya!”

Mirip dia semua?

“Iya. Nyaris.”

Sama saja, ah!

“Beda! Sebentar, kamu tak biasanya banyak bicara.”

Apa kalimatnya panjang?

“....”

Apa kita baru kenal kemarin?

“Kamu ini selalu. Kalau bikin pernyataan selalu pakai pertanyaan.”

Aku ini bikinan siapa?


“Sudahlah, Galang Adyatarna! Kamu diam saja di otakku. Tak usah banyak tanya dan protes.” Ujarnya seperti membentak dan nyaris marah. Tak lama, umpatan Suroboyo-annya akan keluar. Taruhan?

Monday, February 29, 2016

Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Aku patah hati. Bukan, tentu saja bukan karena lelaki. Itu sudah kujauhkan dari hari-hari sebelum ini. Melainkan karena kecintaanku.

Sanggar tempatku menari selama hampir setengah tahun belakangan ini tutup. Padahal baru saja berdiri lagi lima bulan yang lalu, setelah bertahun-tahun vakum.

Baru tadi sore aku mengetahuinya dari Hesti, anak dari sang empunya sanggar. Ingin menangis, rasanya.

Alasan selama ini untukku beristirahat, meninggalkan sejenak tanggung jawab dan kesibukan, untuk suatu kecintaan yang baru saja hadir dan dipersilahkan oleh semesta untuk menjalaninya, kini berhenti sejenak.

Untuk beberapa waktu kedepan, aku tak lagi pandangi mata dari anak-anak kecil ketika menghapal gerakan. Yang begitu menyenangkan dan membuatku berdecak dan menyesal mengapa aku baru saja menemukan kecintaan ini.

Untuk sementara waktu, aku sedikit bisa untuk melupakan seorang yang suka berkata, “Perempuan yang menari tu, cantik-cantik.”

Sejenak. Aku yakin ini hanya sejenak. Hatiku tak lama lagi akan bertumbuh menjadi suatu yang lain. Yang lebih mencinta dan tak menjadikannya sia-sia. Seperti kata Banda Neira:

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti


Friday, January 22, 2016

Kejutan Untukmu

Pada suatu malam yang telah kutentukan nanti, bersiaplah atas kedatanganku. Tak perlu kau siapkan teh hangat atau biskuit cokelat kesukaanku. Bahkan, kau tak perlu terjaga dari tidurmu untuk sekadar membukakan pintu lantas mempersilakanku untuk masuk. Sebab, aku telah mengantongi segala izin yang akan kuperbuat padamu. Kecuali satu hal saja. Dan itu akan menjadi kejutan.

Pada malam itu, tidurlah dengan nyenyak. Diselimuti kelelahan setelah bekerja seharian dan meladeni kemacetan Surabaya. Kalau tak nyenyak, aku yang akan membuatnya. Sebab aku tak ingin berurusan dengan jantungku ketika bertatapan dengan kedua bola matamu yang teduh sekaligus menantang itu.

Asal kau tahu, dari ratusan lelaki yang kukenal, aku hanya menemukan mata seperti itu hanya ada padamu, ayahku, dan kakakku saja. Aku sudah terbiasa dengan mata ayah dan kakakku. Aku mencintainya, dan mereka mencintaiku. Sedang kepadamu, yang kau cintai bukan aku.

Tak apa, aku akan membuatnya menjadi milikku malam ini. Meski hanya kedua bola matamu saja.

Telah kupersiapkan segala hal yang berhubungan dengan kejutan. Roti tart dan lilin angka dua dan tujuh yang bertengger di atasnya, sketchbook buatanku sendiri yang selalu ingin kau nikmati, jam tangan impianmu agar kau tahu bahwa membatasi waktu itu perlu, dan lima belas buah balon warna warni agar senyummu dapat terbuka lebar.

Untungnya, sudah kupastkan kepada Rudi, tetangga kamar tempat kostmu, bahwa kau tertidur sangat lelap, sehingga aku tak perlu jalan berjingkat agar tak membangunkanmu.

Seperti yang kuduga. Kau terlelap begitu nyenyaknya, hingga tak sampai hati aku melaksanakan misiku untukmu malam ini. Namun setelah melihat fotomu berdua dengan kekasihmu yang tertempel di salah satu dinding, tekadku makin bulat.

Maafkan aku, alat yang kupakai adalah seadanya. Namun, teknik yang kugunakan adalah benar. Sudah kubaca di banyak buku dan video tutorial di internet. Hanya untuk membuatmu terkejut. Di hari spesialmu ini, aku akan menyederhanakannya menjadi hari yang tak akan kau lupakan seumur hidupmu.

Kusiapkan semuanya, dan kulakukan seperti apa yang sudah aku latih agar mendapatkan hasil yang sempurna untukmu.

Ternyata hanya lima belas menit. Dan aku bahagia memandang toples kosong yang berisi formalin kini berwarna agak kemerahan. Aku melengos.

Ah, kurasa aku sia-sia mempersiapkan roti tar dan segala bentuk kejutan. Kau tak akan terkejut. Sebab, kedua bola matamu telah hilang. Akan kubawa pulang sebelum seluruh lilin yang kunyalakan habis dimakan api.


Tapi kau akan terkejut ketika melihat dunia dan wajah kekasihmu ternyata hitam semua.

*

Rahmadana Junita, yang sedang marah dengan dirinya sendiri.
Surabaya, 21 Januari 2016

Saturday, January 2, 2016

Yang Kung

Awal Desember 2014 lalu, saya membuat suatu cerita rekaan punya saya tentang Yang Kung di blog lama saya. Bisa dibaca disini.

Tadi pagi, saya bermimpi tentang seorang lelaki yang menyatakan perasaannya kepada saya. Sampai tak bisanya saya membedakan mana yang mimpi mana yang nyata, saya bertanya kepada diri saya sendiri, 'Ini saya tidak mimpi, kan?'

Untuk membuktikan bahwa saya tidak sedang bermimpi, maka saya tidur. Namun sayangnya, saya terbangun di dimensi lain bernama kenyataan. Sambil enggan terjaga, telinga sayup-sayup mendengar ibu berkata, "Innalillahi wa innailaihi rojiun...".

Tak lama, ibu terisak. Yang Kung meninggal. Yang Kung, bapak dari ibu saya meninggal.

Entah akal sehat sebelah mana yang membuat saya memilih untuk tidur kembali, melanjutkan mimpi yang terputus tadi. Tapi nihil. Lima menit berselang, saya tak menemukan mimpi yang harusnya saya tuju. Saya kembali terjaga.

Ibu bergegas bersiap diri untuk ke Mojosari. ngelayat bapaknya. Tak ada rasa kehilangan yang begitu menyayat untuk saya. Barangkali karena saya tak memiliki ingatan yang kuat terhadap Yang Kung. Sebab saya hanya bertemu beliau hanya dua kali.

Kedekatan saya kepada Yang Kung hanya karena saya tak pernah bertemu dengannya semenjak kecil. Lantas saya amat sering membuat ingatan sendiri tentang beliau. Dan sentuhan kami hanya terjadi sebatas ciuman tangan.

Berbeda dengan Yang Kung dari pihak bapak. Meski cuma setahun sekali bertemu, tapi ingatan saya tentang beliau amat banyak. Pijatannya, kelapa muda yang dipetikkan untuk saya, high-five-nya, dan macam-macam.

Pada akhir November 2011 yang lalu, Yang Kung dari pihak bapak meninggal. Saya masih ingat, saya yang masih berpakaian putih-hitam sepulang LKMM Pra TD tidak mau pulang dari cangkruk bersama teman-teman teater seusai menghadiri undangan dari UKTK Universitas Airlangga.

Tidak hendak membedakan. Hanya ingin mengungkapkan bahwa entah mengapa saya tidak merasa kehilangan sama sekali. Tapi satu hal yang melekat di ingatan saya, bahwa Yang Kung dari pihak ibu memiliki cucu dan anak lelaki yang memiliki pundak yang nraju mas.

Dan beberapa menit yang lalu, teman main saya ketika kuliah, akan mengadakan akad nikah di bulan Januari ini dengan seorang lelaki. Lelaki yang pada 2 tahun yang lalu pernah saya taksir secara becandaan. Terharu dan bahagia.

Ya sudah.

2015 / 2016

//postingan pertama di 2016, Bre!!//

Seperti yang pernah saya ucapkan dan sepakati (untuk diri saya sendiri) bahwa jika ingin memiliki kekasih, harus menjadi klisé. Namun, untuk masalah resolusi, bagi saya bukanlah perkara menjadi klisé atau kebanyakan. 2015 lah yang membuatnya.

Jika diputar kembali apa saja yang saya dapat pada tahun 2015, hanya memori-memori yang paling kuat dan terakhirlah yang paling bisa diingat.

Menari. Akan banyak yang akan saya bahas mengenai hal yang satu ini. Yang jelas, menari membuat saya sadar akan pentingnya target, dan memiliki tubuh yang gak gendut itu penting.

Kelulusan teman seangkatan. Hari yang berat. Melepas teman-teman. Dan yang tersisa hanya ingatan. Bahkan, tak banyak saya berfoto dengan mereka. Padahal pinjaman kamera sudah di tangan. 

Film Senyap dan Jagal (20%). Yang Senyap, dilihat di lab kampus. Ketika ada yang menanyai 'Itu film apa?', saya yang sudah membaca banyak propaganda dalam buku-buku fiksi sejarah tentang PKI (cuma Amba dan Pulang, sih) bingung hendak menjawab apa. Dan saya menangis dibuatnya. Sedangkan Jagal, terdownload, dan belum tehu akan dilihat kapan. Sepertinya akan mebutuhkan keberanian dan tekad yang kuat.

Jualan. Tahun ini saya sudah menghabiskan kertas ukuran A1 sebanyak 3 rim.

Buku. Yang menurut saya membeli terlalu berlebih, tapi tak disempatkan membaca. 

Yogyakarta. Menyelesaikan hati. Obervasi hati, katanya. Menemukan karakter Adhimas Wiryo K.

2016?

Mengurangi lemak, menata awak. Agar ketika mementaskan sebuah tarian, yang saya sajikan adalah keindahan. Bukan kentang loncat yang dibungkus kain super indah. Sebab tubuh saya bukan milik saya ketika sudah di atas panggung.

Ngremo di salah satu acara. Kalau bisa dua. Kalau bisa lebih. Tapi terlebih dahulu menguasainya.

Kamera. Cita-cita sebelum masehi. Cita-cita yang sengaja dipendam karena harus menabung ribuan koin dan berpuasa puluhan ribu jam. 

Menulis. Lebih banyak lagi. Katanya, hendak menyelesaikan satu kumcer yang harus selesai sebelum buku TA selesai.

#adyaTArna. TA. Tugas Akhir. Belum bisa diselesaikan tahun ini. Tapi pada akhir tahun ini InsyaAllah akan mendaftar sidang (belum keluar jadwal, padahal. Belum mulai dikerjakan juga proposalnya).

Membeli baju sedikit lebih banyak ketimbang buku. Sebab saya sadar. Saya selalu ngomel ketika ada sampah visual bertebaran, Tapi, saya tak menata cara saya berpenampilan.

Menghargai karya anak bangsa. Dengan cara membelinya. CD musik salah satunya. Sebab, kita mengapresiasi agar kelak kita diapresiasi.

Menyelesaikan buku-buku yang telah dibeli di tahun 2015. Hehe.

Ramayana Ballet di Prambanan. Dan Tari Kecak di Bali

Menonton Pementasan Teater Koma di Jakarta!!

Bikin Naskah Teater. Dua. Atau lebih. Kalau bisa, lebih.

dan target-target lainnya yang masih tersimpan.

Saat kau menerima dirimu
Dan berdamai dengan itu
Kau menari dengan waktu
Tanpa ragu yang membelenggu

×××, 
Rahmadana Junita

Wednesday, December 30, 2015

Kesenian Tradisional dan Pasarnya

Sebetulnya sudah lama saya kepingin bahas hal seperti ini di blog. Sebab ada rasa yang menggelitik di otak yang rasanya sudah lama dipendam dan ingin ditumpahkan.

Nah, kebetulan, tadi ketika iseng buka twitter, linimasa mendadak keluar tweets dari Bli @eshasw 2 hari yang lalu yang membahas tentang budaya di Indonesia.

*klik untuk memperbesar*
Saya jadi tergelitik untuk membahasnya. Tidak bermaksud membantah, sih. Karena memang itu benar adanya. Tapi saya hanya mencoba mengungkapkan apa yang saya lihat dan pikirkan tentang hal tersebut. Budaya. Lebih khusus lagi tentang kesenian tradisional.

Karena ponsel pintar saya yang sudah bulukan dan ya-begitulah-adanya telah menemui ajalnya, maka saya akan mencoba membahasnya di sini lebih panjang.

*

Indonesia ini kaya. Banyak suku, bahasa, adat, pulau, dan lain-lain. Nah, ini kenapa Indonesia amat susah disatukan, sebab kita sangat ‘beragam’. Bahkan, perlu semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ agar kita dapat menyatu. Padahal, menurut saya, itu cuma sugesti (kapan hari akan saya bahas).

Dengan keberagamannya itu, harusnya kita (pemuda harapan bangsa) menaruh andil besar dalam pelestarian adat dan budaya. Salah satunya dengan cara mengapresiasi dan mengenali kesenian tradisional. Sayangnya, seringkali ‘pengumuman’ pertunjukan tersebut tidak sampai kepada kita.

Tidak sedikit dari kawan saya yang menodong info pertunjukan tradisional di Surabaya. Kapan dan dimana. Saya sih tidak keberatan. Hanya saja... sifat saya yang males-ngajak-orang bikin bete kawan-kawan ketika update di media sosial tentang pertunjukan yang barusan saya lihat sendiri. Check in, upload foto, mini review, dan sebagainya.

Sayanya juga gregetan sama pemerintah. Kenapa bikin pengumuman yang seperti ini ...
Bahkan, saya pun, yang memotret sekaligus menguploadnya ke salah satu media sosial, lupa untuk datang ke pertunjukan tersebut.


Saya akui, mereka sudah memiliki pasarnya. Di Balai Budaya Jawa Timur, datang 30 menit sebelum pertunjukan pun, bisa-bisa kamu sudah di tolak di depan gedung pertunjukan karena kursi sudah penuh. Kalau mengadakan pementasan di Balai, datang tepat waktu saja, harus siap-siap berdiri dan terhalang pilar-pilarnya. Sebal, kan? Ini juga mengapa saya sering enggan mengajak orang. Soalnya, kalo rame-rame, gak bakal bisa nyelip ketika penjaga gedung sedang lengah.

Apalagi kalau mengundang Kirun, menampilkan Janger Banyuwangi, atau Reyog Ponorogo.

Mereka (seperti) sudah memiliki pasarnya. Masyarakat sekitar dengan usia 40an ke atas. Maka itu pengumuman yang dipasang (yang sebetulnya gak anak muda banget), bisa memikat masyarakat yang tersebut. Tapi tak jarang juga pemuda seusia saya menyempatkan waktu untuk datang. Padahal, pemuda lainnya yang tertarik bakalan datang kalau informasi tersebut sampai ke telinga mereka.

Saya pernah ngobrol dengan penggiat Wayang Orang yang sanggarnya sudah ‘sepi’. Mereka bilang, “Kami senang jika pertunjukan kami diapresiasi. Apalagi dengan anak muda. Sebab kalian lah yang meneruskan ini semua, Nak.”

Mereka menginginkan apresiasi dari pemuda. Tapi, pengumuman mereka jarang sampai dan melekat di otak kami. Bahkan, poster dan media publikasi ‘nyaris tidak pernah sampai’ ke mata kami.

Analisa saya : kurang adanya komunikasi antara pemerintah sebagai penyelenggara, dan kami sebagai generasi muda.

Lah, bukannya ada Duta Pariwisata atau seperti Cak dan Ning (di Surabaya)?
Hm.. saya sebetulnya kurang tahu juga apa fungsi mereka. Lagi pula, saya tak hendak membahas hal seperti itu.

Jadi sebenarnya, akan selalu ada pemuda yang peduli dan paham tentang budaya lokal. Tapi, kebanyakan dari kita, seringkali gampang ‘dirasuki’ oleh pop culture yang impor. Kalau tidak dikuatkan kecintaannya dari kecil, ya bakal dengan mudah ‘dirasuki’ budaya-budaya seperti itu. Seperti yang diungkapkan Maestro Tari Indonesia, Didik Nini Towok (kurang lebih seperti itu).

Lebih parahnya lagi, ngimpor budaya yang gak pop, menjadikannya sebagai kebiasaan hidup, dan menyisihkan budaya lokal dengan sebelah mata. Seperti misalnya, menikah tanpa menggunakan adat. Entah, saya kurang setuju. Sebab, bukankah kita sedang bermasyarakat di sebuah negara yang masyarakatnya selain memiliki agama, juga memiliki kekayaan adat dan budaya?

Saya tak bisa membayangkan Indonesia tanpa adat dan budaya yang diwariskan. Saya juga tak hendak memaksa mereka yang skeptis. Mendingan memecahkan masalah dari analisa di atas.

*

Wayang (n) : Bayangan
Dari sisi seperti ini seharusnya wayang dilihat.

Menek (n) : Naik, memanjat
//
Ramayana yang dibawakan semi kontemporer oleh Mahasiswa FIB Universitas Airlangga. Menggunakan campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa (Ngoko dan Krama). Tapi masih melibatkan estetika tradisionalnya. Karakter favorit saya : Hanuman. 
*

Maafkan teknik fotografi saya yang kurang. Memang gak bakat. 

×××,
Rahmadana Junita

ps : Tulisan ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan TA
kok sudah subuh sih?