Saturday, January 17, 2026

Di Sebuah Kota Asing yang Hanya Kita yang Tahu

Di sebuah kota asing yang hanya kita yang tahu, aku selalu melihatmu dari kejauhan melambaikan tangan dan berlari ke arahku. Tapi sekuat tenaga kau berlari, tak kunjung jua langkahmu mendekat padaku. 

Kakiku terpasung. Aku ingin mendekat, tapi tak bisa. Yang bisa aku lakukan hanya berdiri saja atau berbalik badan. Namun jika aku memejamkan mata, potongan-potongan gambar gerak berputar di kepala menampilkan sosokmu yang begitu dekat di sisiku dan kita sedang berada di tempat-tempat yang kita buat: ladang hijau, atap sebuah gedung, gedung pertunjukan, pasar malam, dan tempat-tempat lain yang hanya kita yang tahu. 

Kita telah sampai juga di tempat ini setelah percakapan-percakapan panjang tentang bagaimana kota ini dibuat hanya dari gagasan tentang ironi dari sebuah hal yang manis. Sekarang memang masih menjadi kota mati tak berpenghuni karena hanya kita yang tahu. Tapi mungkin beberapa tahun lagi, isinya tak hanya kita. 

Di antara gairah-gairah hidup yang tiba-tiba menghilang belakangan, dengan aku berada di tempat ini bersamamu, rasanya seperti ada percik api di dalam dada yang sedang mencoba menyalakan lilin. Apalagi ketika aku mencoba menghadirkan seorang-dua orang hadir di kota asing ini, aku merasakan sosokmu berada di sisiku. Api itu menyala lagi. Sepertinya hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kehadiran sosokmu di sisiku. 

Telah aku umumkan kepada kawan-kawanku tentang keberadaan kota ini. Tapi tak satu pun dari mereka mengacuhkan bualan kosongku. Tak apa. Tak jadi masalah besar. Yang paling penting adalah ketika aku berada di kota asing ini dan pelan-pelan aku isi dengan peradaban, aku bisa dapat kembali merasakan sosokmu di sisiku membicarakan bagaimana peradaban akan tumbuh di sebuah kota asing yang telah kita namai ini.

Tuesday, January 6, 2026

Anai-Anai dan Andai-Andai

Jika kesepian adalah anai-anai, maka kayu dan kertas-kertas adalah jiwa dan kenangan yang lembab karena air mata. Diam-diam anai-anai itu berkoloni dan menggerogoti kayu-kayu dan kertas-kertas.

Kratak kratak kratak. 

Jika musim hujan tiba, laron-laron berterbangan. Tandanya ada hidup lain yang tak sengaja dihidupi dan harus dibayar oleh kebinasaan. Kayu-kayu jiwa dan kenangan-kenangan yang pernah lembab karena air mata pelan pelan binasa.

Ketika satu kayu jiwa itu diketuk, rasanya kosong seperti telah habis dimakan anai-anai. Lalu tak lama kemudian, ia rapuh dan binasa, tak kuat menopang tubuh yang lain. Kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata berubah menjadi serpihan kecil tak terbaca.

Lalu kita mulai berandai-andai. Kratak kratak kratak.

Andai saja kita lebih bisa mendengar. Andai saja kita bisa lebih mengamat. Andai saja kita tahu bagaimana cara kesepian bekerja. Andai saja ada sekolah untuk bisa membasmi buta tanda.

Andai saja kita menjelma menjadi anai-anai. Barangkali kita tak pernah kesepian meski harus menjadi pekerja siang dan malam menggerogoti kayu-kayu jiwa dan kertas-kertas kenangan untuk Sang Ratu. Sebab kita lah yang bertugas untuk menggerogoti kayu jiwa dan kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata manusia.

Andai saja kita menjelma menjadi anai-anai. Hidup hanya setahun dua tahun lalu mati. Untuk Sang Ratu Kapitalis yang Berumur Panjang Hingga Puluhan Tahun. Tak perlu berpikir berhenti atau mengundur diri. Sebab jiwa dan kenangan kita tidak mati dari dalam dirong-rong kesepian.

Kratak kratak kratak.

Tapi anai-anai tak bisa berserikat. Anai-anai tak bisa memakan Sang Ratu atau menggulingkan otoritas Ratu.

Barangkali jika aku diberikan pilihan akan menjadi anai-anai atau tidak berandai-andai menjadi anai-anai, aku tetap tidak memilih keduanya. Sebab keduanya tidak jatuh cinta.

Barangkali aku akan menggerogoti tubuh kayuku sendiri dan kertas-kertas kenangan yang pernah lembab karena air mata. Sambil terus hidup seperti Sang Ratu.

Kratak kratak kratak.